artikel

Kita Tunggu Dulu, Mas!

“Ayah, nanti sekitar jam sepuluh jemput aku di Simpang F!” Anak bungsu yang sedang dalam perjalanan pulang dari kota Palembang memberitahu bahwa mobil yang ia dan teman-temannya tumpangi sampai di kampung sekitar pukul sepuluh malam. Saat itu, katanya, mobil sudah sampai di kota Sekayu, Musi Banyuasin.

Akbar, demikian nama anak bungsu kami. Ia mengikuti seleksi di sekolahnya, SMAN Tugumulyo, menjadi Tim Cerdas Cermat Empat Pilar Kebangsaan Tingkat SMA se-Sumatera Selatan. Menurut ceritanya, dari 13 orang yang mendaftar akhirnya terpilih tiga orang sebagai duta SMAN Tugumulyo mengikuti lomba. Dari detiksumsel.com diperoleh berita bahwa ada 18 Tim dari 17 kabupaten kota mengikuti lomba cerdas cermat. Lomba cerdas cermat Empat Pilar Kebangsaan tingkat SMA Provinsi Sumsel tersebut digelar di Hotel Swarna Dwipa, Kamis (16/11/2022).

Setelah mengikuti babak penyisihan, Tim SMAN Tugumulyo Musi Rawas masuk ke babak semifinal. Hari berikutnya, mereka pun memenangi perlombaan dan masuk ke babak final. Sebagai orang tua, tentu kami mendoakan yang terbaik buat mereka hingga pada hari Jumat pagi terdengar kabar bahwa Tim Sekolah Akbar cukup puas sebagai runner up, memboyong piala dan medali sebagai bukti kemenangan.

Akbar, Juru Bicara Tim SMAN Tugumulyo menerima piala kejuaraan (Dok. Pribadi)

Setelah salat Jumat, para peserta kembali ke daerah masing-masing. Tidak terkecuali Tim Akbar. Rombongan puteri satu mobil dan rombongan putera satu mobil. Rupanya, selain lomba cerdas cermat, sebelumnya digelar lomba tentang hukum. Akan tetapi, kepulangan mereka ke daerah serempak pada hari yang sama.

Membaca pesan WA bahwa saya harus menjemput di simpang F Trikoyo, saya pun bersiap-siap. Simpang tiga yang biasa disebut simpan F jauhnya lebih kurang tiga kilometer dari rumah. Setelah berisitrahat dari takziyah hari kedua meninggalnya ayah teman kami, saya pun bersiap menjemputnya.

“Bu, aku sudah sampai. Tolong jemput. Aku ada di depan Perpustakaan Daerah.”

Akbar menelepon ibunya. Tanpa dikomando, saya pun bergegas berangkat dan segera menjemput pulang anak lelaki kedua di keluarga kami itu. Sampai di tempat, terlihat di trotoar dua anak muda. Satu yang lainnya adalah kakak kelas Akbar yang mengikut lomba cerdas cermat juga tentang hukum.

“Namanya, siapa?” tanya saya.

Kakak kelas Akbar pun menyebut sebuah nama.

“Dari mana?” tanya saya selanjutnya.

Ia menjawab, “dari Proyek Mataram, Om.” Proyek Mataram adalah julukan bagi desa pemekaran. Jika tidak keliru nama desa yang dimaksud adalah desa Sadarkarya. Dari simpang jalan tempat kami berkumpul jaraknya mungkin sekitar sepuluh hingga dua belas kilometer. Lumayan jauh.

Teman Akbar (Dok. Pribadi)

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Sang teman masih menunggu ayahnya yang sedang dalam perjalanan menjemputnya.

“Akbar, kita tunggu dulu, Mas!” kata saya kepada Akbar.

Jika ia kami tinggalkan maka ia sendirian tanpa teman. Sementara, sebelum saya sampai mereka duduk berdua. Meskipun tidak saling bercakap karena mereka sibuk dengan gawai masing-masing, setidaknya mereka berdua saling menemani.

“Jika kita pulang, kakak kelasmu ini tidak ada yang menemani. Jadi, kita tunggu hingga ayahnya datang.” Saya menjelaskan alasan kami harus menunggui sang teman.

Akbar yang terlihat sudah sangat ingin pulang pun paham. Saya ingin mengajarkan arti setia kawan dan saling menjaga dan menghormati.

Tidak sampai seperempat jam, sang ayah pun datang. Setelah saling mengucapkan terima kasih, kami pun berpisah. Sepeda motor laki-laki yang membawa kami berbelok arah. Kembali ke rumah.

“Kita belajar menghargai teman dan setia kawan. Paham, Mas?”

“Iya, paham,” jawab Akbar sambil membetulkan posisi duduknya.

Motor menderu menembus malam. Kami menyusuri jalan yang mulai menyepi. Hanya beberapa angkringan yang dilayani anak-anak muda, masih terlihat ramai. Tugumulyo menjelang pukul sebelas mulai mendekap malam, menanti pagi yang penuh harapan.

Musi Rawas, 19 November 2022
PakDSus


Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Kita Tunggu Dulu, Mas!

  • Selamat mas akbar atas kejuaraan nya. Dan terima kasih pak guru atas pendidikan karakter nya. Selalu terbaik memang pak guru ini

  • Suhu Emcho, terima kasih apresiasinya.

  • Terima kasih, Om. Amanat ceritanya sebenarnya bukan tentang juara, he he he.

  • Selamat untuk mas Akbar tentunya juga Karena keberhasilan didikan ortunya

  • Luar biasa .. prestasi yg membanggakan untuk sekolah.. terkhusus kado terindah untuk orang tua ketika melihat anaknya mengharumkan nama sekolahnya, orang tua dan dirinya. Semoga semakin sukses kedepannya.

  • S3lamat untuk Nak Akbar dan teman2. Juga untuk PakDe Susanto yang telah mendidik ananda sedemikian rupa utk siap menjadi juara.

  • Selamat Pak D Sus Putranya hebat padti dari turunan hebat

  • Benarkah? Semoga bakti Pak Ratri Bela kepada orang tua menjadi ladang amal jariyah sebagai anak yang saleh.

  • Jadi ingat bapak saya

Comments are closed.