artikel

Lokakarya Menulis Cerita (Rakyat)

Banner Tawaran Lokakarya Gratis (Sumber: GWA PGP Musi Rawas)

Terus terang saya ngiler. Ha ha ha, ngeces jika mendapat tawaran kelas belajar menulis … gratis. Apalagi pada banner terlihat sang narasumber, RD Kedum dan Benny Arnas. RD Kedum, nama ini saya temukan ketika mencari cerita rakyat untuk diceritakan murid saya pada Lomba Bercerita, tahun 2019 dan 2021. Cerita rakyat dari STL Ulu Terawas, Bute Puru.

Setelah mata yang mulai menua ini menatap dengan cermat, ternyata RD adalah singkatan, Rusmana Dewi. Wow, Dr. Rusmana Dewi, M.Pd., Dosen Tetap Unpari (Universitas PGRI Silampari), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Doktor lulusan Universitas Negeri Jakarta tahun 2015 ini, ketika Unpari masih berstatus STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) PGRI Lubuklinggau beliau adalah salah satu dosen saya. Beliau pembimbing kedua skripsi saya. Banyak kenangan dan tentu saja kedekatan emosional. Tetapi, bukan berarti ibu RD Kedum selalu emosi kalau dekat dengan saya, ya!

RD Kedum (Sumber: FB Salvera)

Narasumber kedua hanya saya kenal namanya. Belum pernah bertemu muka. Hanya foto dan gaya bicara di Zoom ketika saya ikut kelas KMaBA. KmaBA adalah singkatan dari Kelas Menulis ala Benny Arnas. Kelas yang, mohon maaf, berbayar alias tidak gratis atau cuma-cuma. Selain di ruang Zoom, saya ikuti gerak-gerik mimiknya di layar laptop ketika saya mengikuti event Bincang Sastra Jawa Pos dengan narasumber Benny Arnas. Bincang Sastra Jawa Pos dengan tema “Bank Ide dan Proses Kreatif Karya sastra” melalui LIVE INSTAGRAM @JAWAPOS disiarkan pada hari Rabu, 22 Juni 2022 pukul 20.00 WIB. Oleh karena itu, ketika istri beliau, yang juga Pengurus MGMP Bahasa Indonesia, membagikan flyer ajakan mengikuti lokakarya SECARA GRATIS, kontan saja membuat saya ngiler dan hati berdebar-debar karena pasti akan bertemu sang penulis hebat yang selama ini hanya saya temui di ruang maya.

Saya pun membuka tautan untuk mengisi data pada G-Form yang disediakan. Ups, ternyata tidak gratis 100 persen. Kami, peserta umum, bukan dari komunitas MGMP Bahasa Indonesia, untuk mendapatkan tiket masuk ke ruang Lokakarya harus “membayar” dengan mengisi kolom terakhir. Pada kolom isian bagian akhir terdapat pertanyaan, “Mengapa kami harus memilih Anda?

Bagian inilah, menurut kabar yang saya terima, adalah bagian utama unsur seleksi calon peserta. Kapasitas ruang pertemuan Hotel Hakmaz Taba Lubuklinggau terbatas. Pun penyediaan konsumsi harus terukur, oleh karena itu jika semua pendaftar umum diterima tanpa diseleksi, tentu kapasitas ruang tidak memungkinkan. Saya pun menunggu. Teman saya, Ibu Salvera lebih dahulu mendapat “pesan cinta” lulus sebagai peserta.

Setelah menunggu lumayan lama, sehari sebelum hari “H” saya pun mendapat ‘pesan cinta’ dari admin.

Pesan cinta Admin (Dok. Pribadi)

Cerita Rakyat dan Proses Penulisannya

Ibu RD Kedum, mengawali paparan dengan menggunakan properti seperti seorang nenek-nenek. Penutup kepala khas dusun lengkap dengan tongkatnya.

Beliau menceritakan asal-usul Danau Rayo yang ada di Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara. Improvisasi dan penghayatan tokoh cerita dibawakan dengan sangat baik. Sungguh sayang, audio yang kurang bagus, ditambah saya duduk pada bagian belakang membuat proses menyimak saya kurang maksimal.

Setelah ia selesai membawakan cerita rakyat Musi Rawas Utara, Doktor RD pun memaparkan materinya. Beliau bertutur tentang proses penulisan cerita rakyat, dari pengumpulan data hingga pendokumentasian menjadi cerita. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan penutur asli, mencari catatan, bukti-bukti benda sejarah, dan sebagainya.

Pencatatan data cerita dari beberapa narasumber boleh jadi membuat sebuah cerita memiliki beberapa versi. Oleh karena itu, jika cerita versi sebelumnya telah diterbitkan lalu kita menemukan versi berikutnya, sah-sah saja ditulis kembali. Akan tetapi, data-data pendukung mestilah dicantumkan. Rekaman dan transkrip wawancara, tanggal dan tempat wawancara dengan narasumber menjadi data pendukung cerita yang hendak ditulis berikutnya.

Itulah jawaban dari pertanyaan saya. Pertanyaan pertama setelah sesi tanya jawab dibuka. Hingga Bunda RD Kedum mengakhiri paparannya, saya dinobatkan sebagai peserta lokakarya teraktif pada sesi Bunda RD Kedum. Peserta teraksi diberi penghargaan berupa hadiah kejutan. Sang pembawa acara, Ibu Elpi Arida, M.Pd., adalah pemberi bingkisan hadiah kejutan. Bingkisan yang diberikan adalah produk industri rumah tangga yang ia kelola bersama sang suami, Bandrek Mantap. Bandrek Mantap adalah minuman serbuk jahe merah produksi Rumah Bandrek Raisha, desa Srimulyo, Kabupaten Musi Rawas. Bingkisan itu diberikan pada akhir sesi paparan Bunda RD Kedum. Saya pun makin bersemangat mengikuti lokakarya.

Bandrek Mantap (Dok. Pribadi)
Terima kasih, Bu Elpi. Semoga bisnisnya sukses (Dok. Panitia Lokakarya)

Mungkinkah Menulis Cerita Rakyat dengan Formula?

Materi selanjutnya disampaikan oleh sang Penulis Nasional. Beliau adalah penulis cerpen maupun novel yang karyanya bertebaran di berbagai media mainstream maupun digital. Puluhan buku telah diterbitkan oleh penerbit mayor. Benny Arnas, Pendiri Benny Institute yang telah banyak memfasilitasi generasi muda dan siapa saja yang ingin menjadi penulis atau menerbitkan buku. Membawakan materi yang seyogyanya sangat menarik yakni tentang: mungkinkah menulis cerita rakyat dengan formula? Namun, lampu PLN padam. Bung Benny tidak bisa menayangkan slide presentasi tentang itu.

Meskipun belumj bisa menayangkan presentasi karena lampu padam, ia mengingatkan bahwa cerita rakyat yang berkembang di masyarakat tidak semuanya layak dikonsumsi oleh anak-anak. Sehingga, kita tidak boleh begitu saja memberikan cerita rakyat kepada anak-anak dan memintanya membawakan pada sebuah lomba bercerita, misalnya. Sebab, ada nilai-nilai dan alur kisah dalam cerita rakyat yang memunculkan pertanyaan, “Layakkah untuk dikonsumsi anak-anak?”

Nah, ini dia. Keterangan Bung Benny sedikit mengagetkan saya. Saya baru mendengarnya.

Live Instagram Benny Arnas yang pernah saya ikuti (Sumber: IG Jawa Pos)

Dalam berbagai lomba bercerita, khususnya cerita rakyat, yang membawakan adalah anak-anak usia praremaja hingga remaja. Siswa kelas 4 SD hingga kelas 9 SMP. Sementara, cerita yang ia bawakan mengandung nilai-nilai yang membuat kita tercengang dan berkata, “Iya, ya. Nggak cocok banget!”

Penulis yang sudah melanglang hingga manca negara untuk riset dan penghargaan atas karyanya itu, mencontohkan cerita “Timun Mas”.

Timun Mas, anak hasil perjanjian dengan Raksasa itu, akan diambil kembali oleh si Raksasa pada saat waktu yang disepakati tiba. Namun, sang ibu tidak rela anak gadisnya diambil begitu saja meskipun perjanjian sudah disepakati. Oleh karena itu, ia memerintahkan anaknya untuk melarikan diri dan membekali dengan beberapa benda yang harus dilemparkan jika sang Raksasa mendekat.

Seorang anak yang kritis ketika mendengar atau membaca kisah tersebut, kata Bung Benny, pernah bertanya, “Jadi, kita boleh mengingkari janji, dong?”

Cerita rakyat atau dongeng, kekuatan ceritanya pada alur. Kadang alur yang disajikan tidak masuk akal. Yang penting seru dan berakhir dengan bahagia. Perkara masuk akal atau tidak urusan nanti. Oleh karena itu, Benny Arnas menyarankan agar menulis cerita haruslah masuk akal dan kuat dalam karakter.

Bung Benny melanjutkan paparannya. Audio berasal dari alat pengeras suara berdaya batere. Meskipun audio berasal dari loudpseaker dengan daya dari batere kering ada di dalamnya, cukup membantu peserta untuk menyimak materi penting dari sang narasumber. Saya yang duduk bersebelahan dengan dosen saya ketika di STKIP, Ibu Dra. Tri Astuti, M.Pd. masih bisa menyimak dengan cukup baik.

Formula Sederhana Membuat Karakter Kuat dalam Cerita

Pelajaran penting hasil pemikiran sang narasumber selama bertahun-tahun dalam lokakarya ini adalah formula menguatkan karakter dalam cerita. Kekuatan cerita, sesungguhnya bukan pada plot saja. Namun, jauh lebih penting adalah karakter. Semakin kuat karakter tokoh maka akan semakin menarik cerita yang disajikan. Salah satu contoh yang dapat saya simak adalah sebagai berikut.

Formula menguatkan karakter tokoh (Dok. Paparan Benny Arnas)

Bagilah unsur premis menjadi dua, karakter dan keinginan tokoh. Pada bagian karakter, tentukan tokoh utama. Pada bagian keinginan, tuliskan keinginan terbesar sang tokoh utama. Kemudian, gambarkan karakter tokoh sekompleks mungkin sehingga ia pantas memiliki keinginan itu.

Contoh sederhananya sebagai berikut.

Tokoh: Ani
Keinginan: Ingin makan
Catatan: Menambahkan karakter pada Ani, misalnya umur 11 tahun siswa kelas empat.

Jika demikian, apakah sudah menjawab pertanyaan, “Apakah karena Ani berumur 11 tahun dan siswa kelas empat menjadi alasan ia ingin makan?”

Mestinya, ada alasan yang menjadi penyebab Ani ingin makan. Baik, bagaimana jika ditambah: bangun kesiangan, tidak sarapan karena tidak sempat, di sekolah tidak bisa jajan karena uang saku tidak punya. Sudah cukupkah alasan Ani ingin makan? Iya, cukup. Akan tetapi sudah menarikkah cerita itu?

Alasan benar, tetapi jika diceritakan tidak menarik. Oleh karena itu, pemberian karakter yang kuat akan membuat cerita makin dramatis. Misalnya, Ani umur 11 tahun setiap pagi tidak pernah diberi sarapan pagi oleh ibu tirinya dan tidak diberi uang saku untuk membeli makanan di sekolah. Jika karakter tokoh seperti ini, cerita akan menjadi lebih menarik.

Selain membuat premis dengan contoh Ani, kami pun berlatih membuat premis dengan karakter kuat tokoh lainnya sebagai bahan untuk menulis cerita yang menarik. Keseruan terjadi. Demi mendapat buku gratsi, peserta yang ingin memiliki antusias menjawab.

Selanjutnya, Benny Arnas mengingatkan kembali bahwa cerita mestilah masuk akal. Tidak terkecuali cerita rakyat. Banyak cerita rakyat atau dongeng yang kurang bahkan tidak masuk akal. Misalnya, cerita Kancil dan Buaya. Sungguh tidak masuk akal ketika si Kancil hendak menyeberang lalu meminta buaya berjajar berbaris untuk dihitung. Lalu dengan mudahnya buaya mengikuti perintah kancil berbaris seolah tidak memiliki akal. Apa alasan para buaya melakukan perintah si Kancil? Peristiwa apa yang mendahului sehingga buaya begitu patuh kepada Kancil? Jika pertanyaan ini diuraikan jawabannya, tentu kesan buaya bodoh tidak akan terjadi.

Penutup

Lokakarya dengan waktu yang terbatas dan gangguan jaringan listrik belum menghasilkan karya yang diharapkan. Namun, pengetahuan dasar bercerita dengan formula sederhana: tokoh utama dan keinginan terbesarnya disertai alasan yang kuat sehingga tokoh utama layak melakukan atau memperoleh keinginannya, mulai dipahami.

Menulis adalah proses kreatif. Sebagus dan sehebat apa pun formula dan teori yang disajikan akan sebatas menjadi teori jika tidak dipraktikkan.

Lewat tengah hari, lokakarya yang digelar teman-teman guru Bahasa Indonesia berakhir. Ada rasa puas sekaligus penasaran. Rasa puas dan penasaran itu saya bawa pulang. Sepanjang perjalanan membayangkan menulis cerita dengan formula sederhana namun kuat karakter sang tokoh sehingga cerita semakin menarik bahkan dramatis.

Di balik masker, saya tersenyum membayangkan itu. Senyum saya hampir saja menjadi sumpah serapah ketika tiba-tiba seseorang menyalip dengan kencangnya dari sebelah kiri.

“Oi, bangsaaaa … wan!

Musi Rawas, 20 November 2020
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

9 thoughts on “Lokakarya Menulis Cerita (Rakyat)

  • Thank you for being of assistance to me. I really loved this article.

  • Keren…berbagi cerita. Selamat belajar sampai sepanjang hayat,Aamiin Ya Robalalamin

  • Keren keren sharing ilmunya pak D sus,salam literasi

  • Pengalaman dan ilmu yang keren

  • Mantabbe banget Pak D. Aku juga dadi ngguyu deweklah mbayangna Pak D disalip uwong saka mburi…

  • Kog nggak tau informasi ya saya..?? Pengen ikutan…semoga di masa mendatang masih ada kegiatan serupa..

Comments are closed.