
Kliping Pahlawan
Di teras rumahnya, Amin asyik menggunting kertas koran dan kertas cetakan komputer. Di sebelah kiri badannya tergeletak buku gambar ukuran A3, pidol, dan penggaris plastik. Amin menggunting gambar dengan hati-hati. Bahkan, sesekali mulutnya bergerak seirama dengan bilah gunting yang memotong tepi gambar itu.
Amin terus saja memotong. Satu gambar selesai, ia lanjutkan dengan gambar lainnya. Tulisan koran berupa kolom-kolom pun tidak luput digunting juga. Ia tidak menyadari bahwa di belakangnya, Badawi datang dengan mengendap-endap. Anak yang dipanggil Awi oleh teman-temannya itu berjingkat perlahan, lalu ….
“Haw …!” teriak Amin kaget.
“Awi, hampir copot jantungku. Semprul!” umpat Amin ketika mengetahui ternyata Badawi yang mengagetkannya.
“Ha ha ha …!” Badawi tertawa tergelak-gelak melihat dan mendengar Amin mengumpatnya.
“Sori, Es. Kelihatannyo sibuk nian. Ado tugas apo pula, Es?” ucap Badawi dilanjutkan bertanya.
Badawi selalu memanggil Amin dengan sebutan “CS” sebagai tanda keakraban. Makanya ia selalu menyapa Amin dengan sapaan Es. Keluarga Badawi berasal dari Palembang. Sudah lima tahun tinggal di Lubuklinggau. Badawi akrab dengan Amin sejak mereka kelas empat.
“Ini, Ibu ngasih tugas bikin kliping bertema pahlawan. Rabu depan ‘kan hari pahlawan. Nah kliping ini harus jadi dan dikumpul tanggal sepuluh,” jawab Amin.
Ibu yang ia maksudkan adalah Ibu Ida, guru PPKn Kelas 8. Amin jarang memberi akhiran -kan. Jadi, kata dikumpulkan cukup diucapkan “dikumpul” saja.
“Kau sendiri dapat tugas apa? Kata Ibu, tugas tiap kelas beda-beda,” kata Amin lagi.
“Nah, itu dio. Aku dapat tugas bikin karangan bertema pahlawan. Pusing juga kepala aku. Apolah yang harus aku tulis,” jawab Badawi sambal mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Amin diam saja. Ia melanjutkan pekerjaannya menggunting gambar. Ketika selesai nanti, ia akan mengatur dan menempelkannya pada buku gambar besar yang sudah ia siapkan.
“Es, ngapo gambar Jonatan Christie kaugunting pula? Bukankah dio belum mati?” tanya Badawi keheranan.
“Oi, Wi. Kalau untuk orang, jangan pakai kata mati. Pakai kata meninggal,” tukas Amin.
“Iyo, lah. Maksud aku, Jonatan Christie ‘kan belum meninggal? Kenapa dimasuk pula jadi pahawan?” tanya Badawi keheranan.
“Lo, apa pahlawan harus sudah meninggal?” kata Amin balik bertanya sambil meletakkan gunting.
“Harus, lah! Coba kamu lihat Pahlawan Nasional, Pahlawan Revolusi, Pahlawan Perang Kemerdekaan. Semuanya sudah meninggal. Nah, itu Jenderal Besar Sudirman. Juga Bung Tomo, sudah benar itu pahlawan,” jelas Badawi sambil telunjuknya menunjuk gambar Jenderal Besar Sudirman dan gambar Bung Tomo yang sudah digunting Amin.
Amin pun tertegun. Ia berniat menempelkan gambar Jonatan Christie. Ia menganggapnya sebagai pahlawan karena merebut kembali Piala Thomas ke pangkuan Indonesia. Kakak Amin yang kuliah di Universitas Sriwijaya pun mengatakan bahwa ia layak disebut pahlawan.
“Kok diam? Benar ‘kan omonganku? Aku pun akan bercerita dalam tulisanku tentang para pahlawan itu. Meskipun ia berjasa, jika belum mati … eh … meninggal belum boleh disebut pahlawan,” kata Badawi lagi.
Tiba-tiba angin bertiup agak kencang. Gambar-gambar yang baru saja digunting Amin beterbangan. Badawi segera menolong Amin, mengejar dan mengambil kembali gambar-gambar itu. Ia merasa kasihan, Amin sudah bersusah payah memotongnya dengan hati-hati.
“Es …, aku dak galak ngambil tulisan koran ini!” teriak Badawi.
“Kenapa sih?” teriak Amin.
“He he … jatuh pas di itu ayam, hiiy … jijik!” kata Badawi sambal melompat.
Melihat sahabatnya melompat lucu, Amin pun tertawa-tawa. Ia lupa bahwa Badawi sedang membantunya mengumpulkan gambar untuk tugas klipingnya.
“Wi, apa benar jika orang belum meninggal tidak boleh dikatakan sebagai pahlawan?” tanya Amin penasaran. Ia menjadi ragu dengan tugasnya. Banyak gambar orang yang ia anggap sebagai pahlawan tetapi belum meninggal.
“Percayolah samo aku, Es!” jawab Badawi.
Amin menyelipkan guntingan klipingnya ke dalam buku gambar dan membawanya masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian ia keluar dan mengajak Badawi pergi menemui Pak Eko. Rumahnya tidak terlalu jauh dari dari kelurahan mereka.
“Ambil sepedamu! Kita ke warung Pak Eko. Syukur-syukur beliau ada di warungnya. Alasannya, kita mau beli lem, terus nanya tentang pahlawan. Mumpung aku belum telanjur menempel kliping di buku gambarku, Wi!” ajak Amin.
“Oke, Let’s go!” jawab Badawi sambal berlari menuju sepedanya.
Mereka lalu berboncengan menuju ke Talang Jawa, kampung tempat tinggal Pak Eko. Dahulu, Pak Eko mengajar mereka di kelas enam. Anak-anak sangat senang diajar oleh Pak Eko. Lagi pula, Pak Eko orangnya terbuka, mau menjawab pertanyaan apa saja dari murid-muridnya.
Setelah melewati beberapa tikungan dan tanjakan beraspal, sepeda Badawi dikayuh dan dibelokkan ke jalan di belakang gereja. Rumah Pak Eko tidak jauh dari gereja itu. Di bagian samping rumah Pak Eko adalah bangunan garasi mobil yang ia sulap menjadi warung kelontong. Selain beras, Pak Eko menjual beberapa barang kebutuhan tetangganya, termasuk kebutuhan anak sekolah seperti: pensil, penghapus, bolpoin, kertas folio, amplop, lem kertas, dan lain-lain.
“Assalaamualaikum!” sapa Amin dan Badawi serempak ketika melihat Pak Eko sedang mengelap sepeda motornya.
“Wa’alaikum salaam,” jawab Pak Eko, “Amin, Awi, dari mana kamu?”
“Dari rumah, Pak. Lagi bikin kliping, lem aku habis,” kata Amin beralasan. Siku kanannya menyenggol badan Badawi sebagai kode agar diam saja.
“Silakan, pilih saja, nanti Pak ambilkan,” jawab Pak Awi menghentikan kegiatannya mengelap sepeda motornya. Kemudian ia masuk ke dalam warung dengan berjalan melalui rumah bagian dalam.
“Yang ini saja, Pak,” kata Amir sambil menunjuk sebuah lem stik dengan tabung berwarna kuning.
“O, boleh. Enam ribu saja,” kata Pak Eko.
“Terima kasih, Pak. Hmm … anu, Pak. Bolehkah kami bertanya sesuatu?” tanya Amin, sesudahnya ia menoleh ke arah Badawi.
“Boleh saja. Mau di sini atau di teras sana? Baiknya di teras aja, ya. Nanti kalau ada orang belanja biar Arum saja yang melayani. Yuk!” ajak Pak Eko. Arum adalah anak Pak Eko yang sebaya Amin dan Badawi.
Mereka bertiga pun duduk di kursi teras rumah Pak Eko. Kursi itu dibuat dari potongan ban mobil. Berat tetapi kokoh.
“Begini, Pak. Aku dapat tugas dari Ibu Ida, guru PPKn. Aku disuruh membuat kliping bertema pahlawan. Waktu nggunting gambar Jonatan Christie, Awi protes. Katanya Jonatan belum meninggal. Jadi, belum bisa dimasukkan menjadi pahlawan. Awi pun dapat tugas tetapi kelas Awi mendapat tugas menulis karangan bertema pahlawan,” jelas Amin.
“Iya, Pak. Aku akan ceritakan bahwa pahlawan itu pejuang yang gagah berani tetapi sudah meninggal. Sebab paman saya bilang, kalau belum meninggal namanya pejuang, bukan pahlawan,” kata Awi menambahkan.
Pak Eko pun tersenyum. Dengan bijaksana Pak Eko menjelaskan.
“Awi tidak salah. Orang-orang yang mendapat gelar pahlawan dari pemerintah seperti pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekaan, pahlawan nasional, semuanya sudah meninggal dunia.”
“Tetapi, Amin pun tidak salah. Amin menganggap bahwa Jonatan Christie adalah pahlawan bagi dunia bulu tangkis tanah air. Ia dianggap menjadi pahlawan karena ia berhasil menjadi penentu kemenangan dan membawa pulang Piala Thomas kembali ke pangkuan ibu pertiwi.”
Pak Eko menjelaskan kepada kedua anak SMP itu tanpa menyalahkan siapa pun.
“Lalu yang benar bagaimana, Pak. Mumpung saya belum menempel kliping di buku gambar,” kata Amin penasaran.
Pak Eko pun tersenyum menanggapi penuturan muridnya yang sekarang sudah duduk di kelas delapan SMP itu.
“Jadi, begini. Arti pahlawan saat ini sudah meluas. Pahlawan adalah seseorang yang memiliki niat dan mau berbuat baik bahkan rela berkorban demi kebaikan orang lain dan dirinya. Era globalisasi saat ini menuntut kita semua berperan menjadi pahlawan, sesuai potensi dan kapasitas masing-masing. Nih, lihat kamus di hape. Pasang aplikasi KBBI di android, ‘kan?” jelas Pak Eko sambil bertanya.
“Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Jadi, setiap orang yang memiliki niat benar, mau berbuat benar, dan mencintai kebenaran untuk menghasilkan prestasi sesuai dengan potensi yang dimiliki, sehingga memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain di sekitarnya, layak kita anggap sebagai pahlawan.”
Mendengar penuturan guru SD-nya itu, Amin dan Badawi mengangguk-angguk.
“Jadi, meskipun tidak berperang dan orangnya masih hidup, bisa disebut pahlawan, Pak?” kata Badawi memberi komentar.
“Tepat sekali, Awi!” jawab Pak Eko pendek.
“Saya membaca berita bahwa gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pernah mengatakan, Pahlawan Nasional saat ini haruslah sosok pemuda yang bisa mengisi kemerdekaan dengan kreasi dan inovasi. Kata beliau, “Spirit Pahlawan Nasional zaman now ya mengisi kemerdekaan. Buat saya, orang kreatif dan inovatif juga pahlawan”. Begitu,” jelas pak Eko.
Amin dan Badawi menjadi paham. Amin pun makin yakin dengan penjelasan kakaknya dan gambar-gambar para pejuang olahraga akan tetap ditempel di buku gambarnya. Badawi pun menjadi sadar, bahwa pendapatnya tentang pahlawan harus orang yang sudah meninggal, pada saat ini tidak tepat.
Setelah mendengar penjelasan Pak Eko, mereka pun mohon diri.
“Mau pulang sekarang? Tidak minum dulu? Ambil air minum gelas ini. Bawalah, siapa tahu haus di jalan,” kata Pak Eko menawarkan.
“Terima kasih, Pak. Lain kali saja. Kami pamit ya, Pak?” Kedua anak itu pun berpamitan. Karena masih pandemi, mereka tidak bersalaman.
Musi Rawas, 11 November 2021
PakDSus
semprul = kata umpatan menunjukkan keakraban
kelihatannyo = kelihatannya
ado = ada
apo pula = apa lagi (menegaskan)
dikumpul = dikumpulkan
dio = dia
dimasuk = dimasukkan
dak galak = tidak mau
percayolah samo = percayalah dengan/kepada

Harus di comment artikel seperti ini, sangat inspiratif, thanks dari IDProperti.com | Pasang Iklan Properti
I enjoyed reading your piece and it provided me with a lot of value.
I want to thank you for your assistance and this post. It’s been great.
Ceritanya keren banget. Mantap Pak D Sus.
Waaw keren Pak D… Memaknai pahlawan sungguh luar biasa. Pahlawan bukan saja orang-orang yang terdahulu berjuang mrlawan penjajah namun orang yang berniat untuk kebaikan dan berhasil kalahkan tantangan pun juga pahlawan. Selamat hari pahlawan semangat untuk lskukan hal terbaik sesuai tugas kita.
Keren banget, tema pahlawan dibingkai cerita anak.
Cakep
Hebat jiooz cerpene aq ketinggalan sama pak D, lanjutkan
Mantab. Betul..tul..tul
Lanjut Pak D