Kontemplasi Lansia untuk Segala Usia
Serambut Dibelah Tujuh Sebuah Kontemplasi, Inspirasi, dan Muhasabah Diri
Diresensi oleh: Susanto (PakDSus)

Hidup kadang tidak melulu tentang kebutuhan materi. Ada kalanya hidup diisi dengan kegiatan rohani, sebagai kebutuhan spiritual untuk keseimbangan kecerdasan intelektual dan emosional. Dari situlah kadang yang mendatangkan ketenangan.
Tidak ada yang perlu dikejar di dunia ini. Semua sudah diatur sejak kita dilahirkan. Ikhtiar adalah cara untuk menemukan apa yang sudah ditentukannya. Meskipun sudah diatur sedemikian rupa, namun tidak berarti hidup hanya berleha-leha sambil menunggu ketentuannya.
Dua paragaraf yang dapat ditemukan pada blurb di sampul belakang buku berjudul Serambut Dibelah Tujuh, Kontemplasi, Inspirasi, dan Muhasabah Diri adalah kalimat-kalimat pengingat bernada ajakan untuk merefleksi diri sesuai judul bukunya.
Buku yang ditulis oleh Bapak Ajinatha dan Ibu Kanjeng Sri Sugiastuti adalah buku antologi esai. Isi buku, menurut pengakuan penulis, adalah kontemplasi tentang perjalanan hidup, inspirasi Ramadhan, dan muhasabah diri. Secara substansial merupakan buah perenungan penulis.
Dari pengakuan penulis tersebut, bisa ditebak usia para penulisnya. Ya, si Bapak Penulis, ketika buku ini terbit, berusia 62 tahun, sedangkan sang Ibu Penulis genap berusia enam puluh tahun. Bisa ditebak, bukan? Secara wajar manusia pada usia tersebut mengalami berbagai perubahan sudut pandang, di antaranya lebih religius. Karena kedua penulis beragama Islam, sifat religius yang tergambar pun dalam sudut pandang pemeluk agama Islam.
Rangkaian kontemplasi spiritual kedua penulis terbagi atas tiga bab. Bab I tentang kontemplasi perjalanan, Bab II tentang inspirasi Ramadan, dan Bab III tentang muhasabah diri. Masing-masing bab terdiri dari berbagai tulisan inspiratif berisi nasihat serta perenungan diri.
Kontemplasi Hasil Perenungan
Satu tulisan misalnya, “Berilmu Langit Berpijak ke Bumi” yang dikatakan sebagai manifestasi kesadaran hakiki, bahwa manusia hidup karena ada yang menghidupkan. Jika ada yang menghidupkan maka manusia bukan hidup dengan sendirinya. Oleh karena itu, tidak boleh ia menikmati hidup sesukanya.
Berilmu langit berpijak ke bumi, mengingatkan manusia bahwa manusia senantiasa harus sadar posisi dan rendah hati. Karena berpijak ke bumi, manusia tahu bahwa langit itu tinggi dan di atas langit masih ada langit (halaman 11-12).
Setiap bab dalam buku ini ditulis bergantian oleh Ibu Kanjeng dan Bapak Ajinatha. Secara kuantitatif, Bu Kanjeng relatif menyajikan tulisan yang lebih panjang ketimbang Pak Ajinatha. Namun demikian, keduanya enak dibaca.
Lembar demi lembar, tanpa terasa buku setebal 192 halaman sudah habis dibaca. Bahasa yang digunakan oleh kedua penulis cukup ringan, kalimat yang tersaji pun mudah dipahami. Pada beberapa halaman yang kosong disajikan nukilan ayat maupun hadits nabi.
Buku bertema spiritual berupa kontemplasi sang penulis hasil perenungan, pengamatan, pengalaman langsung, hingga intisari uraian pada mejelis taklim ini sangat cocok dikonsumsi oleh mereka yang sudah memasuki usia lima puluh tahun. Lebih-lebih mereka yang sudah enam puluh tahun ke atas.
Filosofi Usia 50 dan 60
Dalam filosofi Jawa, konon angka 50 dan 60 memiliki makna tertentu. Bilangan 50 diucapkan sebagai “seket”. Suku kata /se/ diucapkan seperti pada kata seret, sedangkan suku kata /ket/ seperti pada kata ketahuan. Seket, adalah akronim dari ‘senenge kethunan’ atau ‘suka mengenakan kethu alias penutup kepala’. Maklumlah, pada usia itu rambut hitam makin banyak yang memutih bahkan rontok hingga botak. Oleh karena itu, tutup kepala sudah dibutuhkan.
Sementara itu, bilangan 60 diucapkan ‘sewidak’. Suku kata /se/ diucapkan seperti pada kata ‘selam’. Seperti halnya kata seket, sewidak pun merupakan akronim, yaitu ‘sejatine wis wayahe tindak’. Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai ‘sesungguhnya sudah saatnya untuk pergi’. Pergi ke mana? Pergi ke alam baka, alam keabadian. Kita mengenalnya dengan istilah meninggal dunia.
Tidak bermaksud mencocokkan dengan filosofi yang banyak dipahami oleh masyarakat Jawa, kontemplasi pada buku Serambut Dibelah Tujuh secara tersurat maupun tersirat, telah disadari oleh penulis. Pada bagian prakata, penulis mengatakan bahwa sejalan dengan bertambahnya usia, berbagai perubahan sudut pandang dialami penulis dalam menyikapi hidup.

Kelemahan Buku Serambut Dibelah Tujuh
Jika boleh mengemukakan kekurangan buku ini, terdapat pada bagian prakata paragraf keenam. Penulis menguraikan isi dari tiga bab bukunya tidak sesuai dengan daftar isi. Selain itu, ada satu tulisan pada halaman 41 yang tidak tercantum pada daftar isi buku. Namun demikian, kekurangan buku ini tertutup dengan esai menarik yang tersaji dalam setiap judul. Jadi, apakah Anda mengurungkan niat untuk membeli dan membaca buku menarik ini hanya karena kelemahan yang penulis sampaikan? Tentu tidak, bukan?
Berikut identitas buku karya Pak Ajinatha dan Bu Kanjeng.
Judul buku: Serambut Dibelah Tujuh
Pengarang: Ajinatha dan Sri Sugiastuti
Penerbit: YPTD (Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan)
Editor: Sri Sugiastuti
Desain Sampul dan Isi: Ajinatha
Tahun terbit beserta cetakannya: 2021, Cetakan Pertama
Tebal buku: viii dan 192 halaman
Harga buku: – (Saya mendapat hadiah dari sang penulis, Ibu Kanjeng Sri Sugiastuti)

SUSANTO, nama panggilan PakDSus. Lahir di Desa Gombong, Kebumen tahun 1971. Susanto adalah guru SDN Mardiharjo, Kec. Purwodadi, Kab. Musi Rawas, Sumatera Selatan. Belajar menulis di Grup WA Belajar Menulis Gelombang 15 (2020), ikut proyek antologi pertama Ukir Prestasi dan Tebar Inspirasi (2020) bersama Ibu Sri Sugiastuti (Bu Kanjeng). Menyusul buku solo pertama kumpulan resume belajar menulis Berani Menulis dalam 20 Hari (2020). Tahun 2022 menulis buku Pijar Lentera Asa, Memoar Guru Pembelajar (2022). Karya antologi lainnya adalah Senandung Guru 1 (2020), Jejak Digital Motivator Andal (2020), Membongkar Rahasia Menulis ala Guru Blogger (2021), Manuskrip Rasa (2022), dan Goresan Pena pada Sastra (2022). Pernah diminta menjadi editor beberapa buku karya sahabat: Kunci Sukses menjadi Moderator Online (2020), Bait-Bait Kerinduan, Antologi Puisi (2021), Haru Biru Perjalananku (2021), Purwakarya Literasi (2021), 9 Langkah Menulis Cerpen (2021), Manuskrip Rasa (2022), dan Healing with Traveling (2022). Saat ini aktif pada beberapa Grup Penulis untuk menimba ilmu dan berbagi pengalaman, seperti: RVL (Rumah Virus Literasi, Lagerunal, Grup Belajar Menulis Bersam Omjay (Wijaya Kusumah), dan AISEI. Saat ini sedang mengikuti proyek antologi RVL dan Penerbit Cahaya Pelangi Media. Emailnya: sus.54nto@gmail.com dan susanto963@guru.sd.belajar.id
Facebook URL: https://www.facebook.com/Susantomusirawas/
Instagram URL: https://www.instagram.com/susanto_eni/
Youtube Channel URL: https://www.youtube.com/c/PakDheAntok
Terima kasih, Bu Nanik, sudah berkomentar.
Keren Bapak Guru…
Jadi merenung diri sendiri, betapa tidak, aku sdh di usia ini 60 tahun. Usia yang sudah tidak muda. Semoga Allah berkenan memberikan kemanfaatan usiaku. Terimakasih sudah mengingatkan.
Mantab…pak Susanto, Diri ini sadar bahwa sudah HiperSex (lebih dari seket umurni) bahwa harus *Kontemplasi* persamaannya “Qona’ah.”
Mata saya tertancap pada font judulnya. Hehe…
Kriuk .Saya suka. Alhamdulillah sudah diresensi dengan apik. Matur nuwun..