artikel

Belum Juga Satu Jam

Belum satu jam
(Dok. Pribadi)

Dua jam menjelang Zuhur, kami sampai di halaman rumah. Tak ada kecanggungan atau raut sedih di wajah polos cucu pertama kami. Padahal ia baru saja berpisah lagi dengan kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya.

Begitu turun dari kendaraan, ia langsung mengenali beberapa tetangga. Satu per satu didekatinya sambil menjulurkan tangan kecilnya meminta bersalaman. Setelah tangannya disambut, ia mencium tangan mereka. Begitulah kebiasaan Cahayu setiap bertemu orang yang lebih tua.

Di rumah, Uti masih sibuk merapikan berbagai barang yang dua minggu ditinggalkan. Belum genap satu jam kami kembali. Rumah yang sempat sunyi kini kembali dipenuhi celoteh seorang bocah. Kalau bukan tawa, tangisnya yang terdengar. Kalau bukan tangis, tingkah polahnya yang membuat kakek dan neneknya gemas.

Siang itu, setelah semua barang bawaan diturunkan dan kami makan nasi bungkus yang dibeli di perjalanan, saya berniat beristirahat. Lebih dari tiga puluh satu jam kaki ini belum sempat benar-benar berselonjor di dalam bus.

Belum sempat memejamkan mata, terdengar suara Uti dari belakang rumah.

“Akung… lihat cucumu, cepat!”

Nada suaranya terdengar cemas. Saya pun bergegas. Uti masih berada di kamar mandi, sementara Cahayu asyik bermain dengan… dedak.

Ya, dedak.

Sisa tepung sekam hasil penggilingan padi yang tersimpan dalam sebuah wadah dijadikannya mainan. Wajah, rambut, baju, bahkan hampir seluruh tubuhnya dipenuhi butiran-butiran cokelat itu.

“Ayu…, itu bukan untuk mainan. Yuk, kita cuci tangan.”

Seperti biasa jawabannya singkat.

“Dak mau… dak mau….”

Saya membujuk sekali lagi. Tetap ditolak. Lalu saya mencoba cara lain.

“Yuk, sekarang dedaknya dikumpulkan lagi, lalu dimasukkan ke wadah!”

Ternyata berhasil.

Dengan kedua tangan mungilnya ia mulai memasukkan dedak sedikit demi sedikit. Setelah itu ia lebih mudah diajak ke kamar mandi.

“Angkat tangan ke atas.”

Ia langsung menurut. Bajunya pun lebih mudah dilepaskan.

Tiba-tiba ia berkata, “Akung… e… ek.”

Saya membuka sedikit popok sekali pakainya. Benar saja, ternyata ia buang air besar. Saya segera membersihkan tubuhnya, lalu mengganti popok dan pakaiannya.

Beberapa menit kemudian ia sudah kembali tersenyum, mengenakan baju bersih. Padahal baju yang sebelumnya dipakai belum sampai satu jam.

Ya Tuhan …

Baru satu jam berada di rumah, Cahayu sudah membuat ulah. Namun, justru kerepotan kecil itulah yang kami rindukan. Ia sedang bertumbuh, dan setiap fase pertumbuhannya menghadirkan cerita baru.

Beberapa minggu lalu ia “mandi kapuk” sebelum pulang ke Bandung. Kini, sesaat setelah tiba di Tugumulyo, ia “mandi dedak”. Barangkali, kelak semua kenakalan kecil itu akan menjadi kenangan yang paling sering kami ceritakan sambil tersenyum.

Tugumulyo, 4 Juli 2026

Salam,

PakD

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.