bahasa

Langkah Kecil Rere di Panggung Lomba Bertutur (Cerpen)

instagram.com/prokopim.musirawas
Langkah Kecil Rere di Panggung Lomba Bertutur

Oleh: PakDSus

Hari itu Regina, temaan-temannya memanggilnya Rere, bangun lebih awal dari biasanya. Pesan Pak Eko, hari ini akan diajak mengikuti upacara pembukaan Lomba Bertutur di Kabupaten. Seragam putih merah sudah disetrika rapi oleh neneknya. O, iya, Rere tinggal bersama nenek kesayangan. Begitu pun kerudung putih penutup kepalanya sudah disetrika rapi. Sepatu hitamnya sudah disikat, kaus kakinya pun sudah disiapkan. Ia tidak ingin mengecewakan Pak Eko, Bapak Kepala Sekolah, dan  guru-guru lain yang telah memberinya semangat untuk mengikuti lomba bertutur atau bercerita.

Selesai mandi, Rere berdiri di depan cermin. Ia mengulang-ulang kalimat pembuka lomba bertutur yang dia latih bersama Pak Eko, guru pendampingnya. 

Hari ini bukan hari biasa. Hari ini, ia akan mengikuti upacara pembukaan di Gedung Pelayanan Perpustakaan Daerah Musi Rawas, tempat berlangsungnya Lomba Bertutur Tingkat Kabupaten. Meskipun giliran maju keesokan hari, ia akan menyaksikan teman-temannya dari kecamatan lain tampil di hadapan juri.

Gedungnya megah, dinding luarnya penuh dengan ornamen khas Melayu Musi Rawas. Dindingnya yang terbuat dari kaca tebal memberikan cahaya yang cukup di dalam gedung. Di bagian dalam berdiri berjajar rak-rak berisi koleksi buku. Pada dindingnya terpampang banyak hiasan dan tulisan. 

Pagi itu suasana di dalam gedung riuh oleh suara anak-anak dari berbagai kecamatan. Semuanya mengenakan pakaian seragam. Satu dua anak ada yang memakai tanjak. Itu, loh, hiasan kepala tradisional khas Melayu Palembang termasuk Musi Rawas. Ada juga yang membawa boneka dan properti lain yang akan dipakai untuk mendukung mereka bertutur.

“Rere, jangan lupa tersenyum, ya, di depan juri. Percaya diri!” bisik Pak Eko menyemangati.

Rere mengangguk pelan. Tapi jantungnya berdegup cepat. Baru kali ini ia mengikuti lomba dan disaksikan oleh orang banyak.

Acara sebentar lagi dimulai. Para pejabat duduk di kursi depan. Salah satunya adalah Pak Sekda, Bapak Haji Ali Sadikin. Beliau akan membuka lomba secara resmi mewakili Bupati. 

Para juri duduk di sebelah kanan panggung, sementara di sebelah kiri berdiri pembawa acara juga pembaca doa. Rere dan kawan-kawan didampingi guru pendamping duduk di kursi yang menghadap ke panggung. Semua tampak gembira. Sudah lama tidak digelar lomba seperti ini.

“Terakhir Pak mengantar murid mengikuti lomba tahun 2019. kamu mungkin masih TK atau malah belum bersekolah,” cerita Pak Eko kepada anak muridnya itu.

“Lombanya di sini juga, Pak?” tanya Rere.

“Tidak. Gedung ini belum ada. Terakhir di Saung Sempurna, di Ketuan, kalau tidak salah,” jelas sang guru sambil membetulkan posisi duduknya.

Kakak pembawa acara mengucapkan salam dan upacara pembukaan pun dimulai. Setelah menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan seterusnya, tibalah giliran Pak Sekda membacakan sambutan Bupati. Setelah membacakan sambutan tertulis Bupati, beliau menyampaikan pesan yang tidak terduga.

“Saya yakin, anak-anak kita hebat-hebat. Kalau ada yang bisa menceritakan sejarah desa tempat tinggalnya, silakan maju ke depan, Pak Sekda punya oleh-oleh,” katanya.

Rere dan Pak Eko saling pandang. Ia tidak mengira Pak Sekda meminta bercerita tentang sejarah desanya. 

“Re … maju, … berani?” tantang Pak Eko.

Rere mengangguk lalu mengangkat tangan.

“Boleh, silakan maju!” suruh Pak Sekda ketika melihat gadis kecil itu mengangkat tangannya.

Rere pun dengan percaya diri berjalan menuju ke arah Pak Sekda. Petugas pun memberikan alat pelantang suara.

“Halo, Teman-teman, namku Regina Pricilia Dira, siswa kelas lima SD Negeri Mataram. Saya ingin bercerita sedikit tentang desa saya ….” Rere tanpa ragu memperkenalkan diri.

Seluruh ruangan mendadak hening. Anak-anak berhenti berbicara. Para tamu undangan menatap ke arah gadis berperawakan kecil yang beridiri di samping Pak Sekda.

“Teman-teman, aku tinggal di sebuah desa yang istimewa, namanya Desa Mataram, di Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Desaku ini bukan desa biasa, loh! Banyak cerita sejarah yang menarik dan salah satu yang paling aku suka adalah tentang asal-usul Tugumulyo, tempatku tinggal sekarang. Mau dengar ceritanya?”

Rere pun melanjutkan cerita dan disambut oleh Pak Sekda.

“Cukup, luar biasa!” kata Pak Sekda sambil bertepuk tangan.

Gemuruh tepuk tangan pun memenuhi ruangan. Pak Sekda tersenyum lebar. Beliau pun merogoh saku dan mengeluarkan dompet lalu menyerahkan uang saku ke tangan kecil Regina.

“Untuk beli buku cerita baru, ya,” katanya ramah.

Rere mengangguk malu-malu, sementara wajah Pak Eko tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

Hari itu, Rere tidak hanya mengharumkan nama sekolahnya. Ia menghidupkan kembali cerita desanya, di panggung yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Musi Rawas, 20 Mei 2025

PakD

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.