Lomba Memasak Tanpa Menilai Rasa

Pada masa PPKM Level 4 yang sudah diturunkan menjadi level 3, masih saja belum boleh mengadakan lomba-lomba secara luring. Padahal, dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia kita semua sebagai rakyat, selalu memeriahkan dengan lomba-lomba. Ada lomba yang serius, ada juga lomba yang bernuansa kegembiraan, seru-seruan. Tidak terkecuali di sekolah, biasanya, beberapa hari sebelum “Upacara Detik-Detik Proklamasi” tanggal 17 kami mengadakan lomba di halaman sekolah. Pesertanya banyak, dari kelas satu hingga kelas enam.
Sayang sekali, Covid-19 merampas kegembiraan kami untuk berlomba di halaman atau di lapangan. Ah, betapa rindu kami dengan sorak sorai para pendukung ketika kami bertanding tarik tambang. Lomba “aneh” ini menjadi favorit masyarakat, tidak terkecuali anak-anak. Saya katakan lomba ini aneh, karena yang menang bukan yang maju menuju garis batas. Sebaliknya yang maju hingga garis batas malahan mereka kelompok yang kalah.

Saya pun harus memutar otak supaya kemeriahan serta hal-hal postif dalam perayaan HUT ke-76 Kemerdekaan ini juga dirasakan peserta didik saya di kelas enam. Setelah merenung sebentar, tidak berapa lama, saya pun membuat soal-soal di quizizz. Menjawab kuis sebagai lomba pertama secara daring.
Jika hanya satu lomba, rasanya kurang seru. Apa ya, lomba daring yang kira-kira seru? Aha! Bukankah setiap anak memiliki hape? Bahkan, mereka ada juga saya dengar main Tik Tok. Okelah, kenapa tidak saya coba bikin lomba memasak dengan direkam kamera? Agar mereka terlatih berbahasa Indonesia, ketika mereka memasak sambil memperlihatkan bumbu dan peralatan yang digunakankan, mereka juga mengisi dengan narasi.
Hadiah lomba bagi mereka yang beruntung adalah pulsa senilai 50.000 rupiah. Lumayanlah, bisa ditukar dengan paket data yang dapat mereka gunakan untuk daring atau membuka video Youtube yang saya kirimkan. Juara Putera (1 orang) dan puteri (1 orang) akan kami pilih. Selain itu, setiap siswa yang mengirim video lomba nasi goreng akan diundi, 1 orang yang beruntung akan mendapat pulsa 25.000.
Peserta didik saya sebenarnya 36 orang. Namun yang ikut lomba memasak hanya 10 orang. Tiga orang putera dan tujuh orang puteri. Saya hargai mereka sebagai anak-anak yang berani dan bertanggung jawab. Tentu, penghargaan juga saya tujukan kepada para orang tua. Sebab, yang merekam kegiatan mereka adalah orang tuanya di rumah.
Sisa siswa lainnya bagaimana? Saya tidak menyalahkan mereka. Sebab, lomba ini pun spontanitas saja. Meskipun hanya sepuluh siswa yang mengikuti lomba memasak, saya cukup puas. Hanya satu yang bikin saya menyesal yaitu, saya tidak bisa mencicipi hasil karya mereka. Ha ha ha …, mungkin suatu saat jika latihan pramuka diperbolehkan secara luring.
Choki
Ammar
Khoirul Fajri
Peserta Putri:
Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-76 Republik Indonesia. Dirgahayu Indonesia! Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Merdeka!

#KeunikanPerayaanHariMerdeka
Tugumulyo MURA, 18 Agustus 2021
Blogger Guru Musi Rawas
Masak gak bisa nyicip virtual sih Pak D. Hehe… Bisa kali. Nyicip boleh.
Sangat menginspirasi. Keren, pak..
Ambu terima kasih.
Lomba yang sangat edukatif, diambil dari keseharian anak-anak di rumah. Hasilnya bisa dinikmati mereka untuk sarapan atau makan sore. Inspiratif, Pak D.
Pemenangnya adalah Pak D…
Guru yang dapat menggerakkan kegiatan yang kreatif dimasa Pandemi.
Selamat untuk para partisipan., ingin rasanya mencicipi masakan Choki…
Heheheheh
Bu Atik, terima kasih.
Terima kasih, Bu Ismi.
Thanks, Pak Iroen.
Luar biasa.. Ide kreatif siswa semangat melatih untuk mandiri dan bertanggung jawab…
Mantap pak D
Mantaaappp Pak D, masa pandemi yang masih terasa panjang ini semakin meningkatkan kreativitas..