Mata Pelajaran Sang Badut Boneka Mampang

Palembang, 19 November 2024
Setelah para Mama selesai berbelanja kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan kami adalah rumah masing-masing, Tugumulyo dan Lubuklinggau.
Mobil melaju kencang menuju Prabumulih melalui Indralaya. Sebelum sampai ke pasar kami belok kanan. Rupanya jalan yang kami lewati adalah sisi lain kampus Unsri. Jalanan cukup ramai karena para mahasiswa pun banyak yang keluar dari kampus. Berjalan kaki atau naik kendaraan roda dua.
Kendaraan kami melambat. Setelah itu, kembali berkejaran dengan kendaraan besar beroda enam atau sepuluh. Mobil tumpangan kami beberapa kali memotong laju kendaraan lainnya.
Demikian pula kendaraan lain. Dari spion mobil sopir, terlihat mereka memberi tanda ingin mendahului.
Aku yang duduk di samping sopir sesekali melirik ke arah jarum speedometer.
“Masih wajar, enam puluh, kadang tujuh puluh,” batinku.
Tiba-tiba darahku tersirap ketika melihat jarum odometer menyentuh angka seratus dua puluh.
Rasa badan seperti melayang. Namun aku kaget. Kecepatan setinggi itu masih dipotong kendaraan niaga.
Akhirnya, hati kembali lega karena jarum berwarna merah itu terus melaju ke angka terakhir, meskipun kendaraan pick up melaju kencang memotong kendaraan kami. Ah, tidak mungkin. Rupanya jarum penanda kecepatan mobil itu memang rusak.
Sampai di Lembak, kendaraan pertama melambat. Kami yang mengikutinya ikut melambat. Mereka berhenti di depan lapak panjang penjual kerupuk dan dan kemplang.
Kembali mama-mama memuaskan hasrat belanjanya. Kerupuk dan kemplang yang rata-rata harganya sepuluh ribu rupiah diborong para mama.
“Kalau mau, beli sepuluh aku beri gratis satu,” kata si penjual. Tawaran itu pun tidak kami sia-siakan.
Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan. Sampai di Kabupaten PALI hari sudah masuk waktu maghrib. Kami berhenti. Pukul 18.30 masih tersisa waktu untuk menunaikan ibadah. Kami tidak menjamak salat maghrib dengan Isya karena jam sebelas setidaknya kami sudah sampai di rumah.
Setelah beribadah, kami kembali mengaspal hingga sampai di simpang lima. Cacing perut mulai meronta, lambung mulai berkontraksi membentuk orkestra yang dbiasa diberi istilah keroncongan. Perut kami bernyanyi minta diisi.
Kami memilih warung pecal lele.
“Pesanan, silakan ditulis semua,” begitu pesan sang penjual.
Rekan kami segera mendata makanan yang hendak disantap. Lele goreng, nasi goreng, nila goreng, mi rebus kuah, jeruk hangat, jeruk dingin, teh tawar hangat, dan kopi segera dicatat pada lembar pesanan.
Sang penjual dan asisten segera mengolah makanan yang kami pesan.
“Kopi ke sini, saya teh tawar hangat …!” Bersahutan teman-teman menerima minuman, sementara makanan masih diolah.
“Perasaan masih enak makan di rumah makan padang atau di warung tegal, ya. Duduk langsung mengambil nasi dan lauk yang diinginkan,” kataku memecah kesunyian. Tidak ada yang menanggapi, semua sibuk dengan hape masing-masing yang baterainya tinggal beberapa garis saja.
Dua puluh menit kemudian, makanan siap disajikan. Kami makan dengan lahap. Semua anggota rombongan menikmati pesanan masing-masing. Makanan di meja hampir habis, ternyata mi pesanan Mak Desi belum juga datang. Anehnya si penjual sudah bersantai, api kompor pun padam.
“Mano pesanan aku?” tanya Mak Des terheran-heran.
Sang asisten segera berdiri. “Ibu pesan apa?”
“Aku pesan mi kuah pakai telur!”
Kami semua tertawa mendengar bu Desi bertanya tak percaya.
Rupanya pesanan mi tidak terbaca. Ketika nasi kami habis, mi instan berkuah Mak Des datang. Kami pun menunggui Mak Desi makan.
Sedang asyik bercengkerama, datang seorang pengamen. Badut berkepala Boneka Mampang melambai-lambai dan melakukan gerakan dadah-dadah.
“Nih, seribu. Buka topengmu, ya, nanti aku tambahi,” kataku sambil berdialog dengan sosok di balik topeng.
“Tidak, … malu,” jawabnya.
“Dak papo. Sini topengmu aku pinjam, nanti kukasih duit lagi dua ribu,” pintaku kepada bocah tanggung bertopeng itu.
Bocah itu pun malu-malu memberikan topeng boneka mampangnya kepadaku. Topeng itu kupakai dan menirukan gerakan seperti si pengamen. Semua tertawa. Setelah itu, topeng kukembalikan sambil memberinya uang kertas tambahan.
“Masih sekolah?” tanyaku.
“Masih, Pak,” jawabnya.
“SMP atau SD?” tanyaku lagi.
Ia pun menjawab, “SMP kelas 7.”
“Apa mata pelajaran yang paling tidak kamu sukai?” tanyaku menyelidik.
“Matematika. Pusing, menghitung-hitung,” kilahnya.
“Pelajaran yang paling kamu sukai apa?” tanyaku lagi.
“Kesenian. Soalnya gak pake ngitung-ngitung,” jawabnya jujur.
“Lanjutkan. Terima kasih, ya?”
Pengamen boneka menteng itu pun berlalu. Aku kembali bergabung dengan teman-teman. Mak Desi terlihat sudah selesai dan mengelap mulutnya dengan tisu yang tersedia di meja. Perjalanan masih panjang. Kami masih harus melewati jalan di tengah perkebunan Hutan Tanaman Industri, dan puluhan desa sebelum kami sampai di rumah masing-masing. Sepertinya tidak mungkin sampai pukul sebelas.
Musi Rawas, 4 Desember 2024
PakDSus