Menemani Belanja Kapal Selam

Perjalanan pulang dari kota Palembang cukup melelahkan. Setelah sebelumnya singgah ke Pulau Kemaro, pulau legendaris di tengah Sungai Musi, perjalanan pulang kami terjebak kemacetan di beberapa titik. Setelah berusaha menghindar dengan masuk ke ‘jalan tikus’, akhirnya mobil melaju dengan lancar.
Aku pikir kami segera meninggalkan kota Pempek. Rupanya para Mama yang menjadi bagian dari rombongan mengajak ke kawasan padat di Talang Semut, 26 Ilir. Apalagi kalau bukan untuk kulineran, membeli oleh-oleh makanan khas Palembang, Sumatera Selatan. Ya, pempek dan teman-temannya.
Di Lorong Mujahidin berderet lapak pempek yang menjadi langganan para warga maupun para pelancong dari luar kota. Ketika mama-mama itu menuju ke salah satu kedai pempek yang terkenal aku menepi ke toko yang relatif sepi.
Di toko yang dituju para Mama, mereka antre memesan pempek dengan berbagai variasi paket maupun bentuk: pempek lenjer, pempek kulit, pempek telur, kapal selam, dan lain-lain.
Selain makanan basah berbahan baku sagu, di setiap toko juga menjual aneka kerupuk dan kemplang. Kemplang goreng maupun kemplang panggang yang menggugah selera tersusun rapi di rak-rak pajangan.
Aku hanya membeli dua paket kecil saja. Harga di toko yang aku tuju relatif lebih murah dibandingkan dengan toko yang diserbu para Mama dan puluhan pengunjung lainnya.
Karena pengunjung yang padat, mereka harus memilih paket, menerima nota, menyerahkan nota beserta uang pembayaran di meja kasir, lalu duduk manis menunggu panggilan. Sambil menunggu, pengunjung bisa menikmati aneka pempek dan minuman yang disediakan.
Pempek pesananku sudah selesai dikemas. Sementara para Mama belum terlihat ada tanda-tanda keluar meninggalkan toko idaman. Kenapa, ya, lebih dari setengah jam toko para Mama belanja itu terus didatangi para calon pembeli. Sementara, toko pempek tempatku menunggu belum ada lagi pengunjung yang berbelanja setelahku. Aku bertanya-tanya. Sambil menyeruput minuman aku menyimpulkan sendiri dalam hati. Sepertinya, lidah tak pernah bohong dan promosi dari mulut ke mulut cukup ampuh menyedot calon pengunjung berikutnya.
Rasa lega menyelimuti kami berdua, aku dan suami temanku yang menjadi sopir selama perjalanan, melihat rombongan kami keluar dari toko yang aku ceritakan. Kedua tangan menenteng kotak kecil berisi pempek mentah yang tahan hingga 3 sampai empat hari.
“Cabut, bibi-bibi sudah selesai belanja,” ajakku kepada suami temanku sambil bercanda.
Kami pun melanjutkan perjalanan melewati sedikit kemacetan dan meluncur mengambil rute: Palembang – Prabumulih – PALI – dan kembali ke Musi Rawas.
Musi Rawas, 21 November 2024
PakDSus
