artikel

Mbak Penjual Bakso

Tidak ada yang istimewa, tetapi belajar langsung dari yang melakukan, bahkan langsung menjadi objeknya terasa meyentuh banget.

Mari simak ketika saya menjadi sasaran sedekah di hari Jumat.

Mbak Penjual Bakso

Kemarin sore, pukul setengah lima kami tiba di Tebing Tinggi, ibukota Kabupaten Empat Lawang. Kabupaten ini adalah pemekaran dari Kabupaten Lahat.

Karena cukup lapar tetapi belum ingin makan nasi, saya mencari warung bakso. Akhirnya, berhenti di warung dengan nama Bakso Solo Fastabiqul Khairat. Mbak penjualnya berkerudung dan bercadar hitam. Tapi maaf, tidak sempat meminta berfoto.

Tidak menunggu lama, bakso dengan aroma khas tersaji.

“Hmmm, sedap,” kata saya dalam hati.

Saya hanya pesan satu. Istri yang menemani perjalanan ini tidak ikut memesan.

Bakso lezat itu pun saya nikmati sendirian. Sedang asyik menikmati makanan khas dengan branding kota Solo ini, si Mbak penjual bakso keluar lagi dan membawa semangkuk es buah dan sebungkus jajanan. Saya teringat takjil pada saat malam puasa sesudah taraweh ketika melihat jajanan itu.

“Saya tidak pesan, kok ada es buah segala. Ah, biarlah. Bila disuruh bayar pun pasti tidak akan mahal,” batin saya.

Bakso saya habiskan. Sedangkan es buah saya minta istri untuk minum dan memakannya. Rupanya esmangkuk es itu tidak dihabiskannya. Sisa es buahnya pun saya habiskan. Kan sayang alisa mubazir. Lagipula bekas istri sendiri dan itu … hi hi hi, teringat masa-masa dahulu.

Selesai makan, kami pun membayar.

“Berapa, Mbak?” tanya istri.

“Sepuluh ribu saja,” jawab si Mbak.

Agak kaget kami mendengar jawabannya. Satu mangkuk bakso dan semangkuk kecil es buah ditambah sebungkus kue hanya dihargai sepuluh ribu?

Setelah membayar, kami pun balik kanan.

Niku sekalian diasto,” kata si Mbak menunjuk jajanan yang masih utuh.

Oh, ternyata si Mbak penjual berbahasa Jawa dan mungkin karena mendengar kami bertutur dengan bahasa ibu. Dengan bahasa Jawa si Mbak memerintah kami untuk sekalian membawa jajanan yang belum saya sentuh apalagi dibuka.

“O, nggih matur nuwun. Terima kasih, mbak,” istri saya pun menjawab dengan bahasa yang sama.

Nggih, Bu. Ini hari Jumat,” kata si Mbak menjelaskan.

Hati ini saya tersirap. Hari ini kami menjadi objek sedekah dari seorang hamba Tuhan yang mencari berkah.

Setelah “berpamitan” kami kembali masuk ke dalam kendaraan.

Peristiwa tadi, mengusik sanubari. Rasanya, hati tergerak untuk menduplikasi. Pasti hati akan tenteram dan bahagia jika melakukan hal yang sama. Menyisihkan sedikit harta untuk didermakan pada hari pilihan.

Terima kasih, Mbak Penjual Bakso. Cerita yang sering saya baca dan lihat di media sosial hari ini saya lihat langsung dan menjadi objek amal baik Anda.

Musi Rawas, 05 Februari 2022

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

One thought on “Mbak Penjual Bakso

Comments are closed.