Memaknai Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Celebration vector created by freepik – www.freepik.com
Indonesia negara yang penduduknya majemuk. Tidak hanya berbeda suku bangsa, tetap juga bahasa, adat-sitiadat, warna kulit, dan agama. Kemajemukan yang dimiliki bangsa Indonesia bukan tidak disadari oleh para pendiri bangsa. Bahkan para pendiri bangsa pun menyadari bahwa mereka sendiri terdiri dari bermacam latar belakang, terutama agama. Oleh karena itu, kita masih ingat perihal bunyi Piagam Jakarta. Dalam dokumen tersebut termaktub racangan dasar negara dengan bunyi sila pertama:
Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
Para tokoh yang beragama Islam menyadari bahwa ada umat agama lain di Indonesia. Oleh karena itu, mereka bersepakat bahwa tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihilangkan. Ketujuh kata yang dihilangkan adalah dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Sehingga, bunyi sila pertama rancangan dasar negara Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sikap toleransi tinggi yang diwujudkan dalam frasa “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang akhirnya disahkan tanggal 18 Agustus 1945 sebagai dasar negara, menjadi pengayom seluruh warga negara yang berlainan kepercayaan.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang bertuhan, artinya mereka memercayai adanya Sang Pencipta, pangatur alam semesta. Sebagian diwujudkan dalam bentuk formal dengan memeluk agama yang secara hukum diakui negara: Islam, Katholik, Kristen, Hindu, Budha, dan Khong Hu Chu. Sebagian lagi dalam bentuk penghayatan terhadap Tuhan yang maha Esa.
Sila pertama Pancasila tersebut, diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah pernyataan bahwa bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaan. Secara formal, banyak dokumen yang menyatakan hal itu. Ambil contoh misalnya:
- Sapta Marga TNI
- Ikrar Guru Indonesia
- Panca Prasetya KORPRI
- Dasadarma Pramuka
Dalam setiap dokumen tersebut terkandung pernyataan ketakwaan terhadap Tuhan.
Pernyataan Ketakwaan terhadap Tuhan yang Mahaesa
Seperti disebutkan di atas, sebagai bukti bahwa bangsa Indonesia menyatakan ketakwaanya terhadap Tuhan misalnya sebagai berikut.
Sapta Marga TNI
- Kami Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila.
- Kami Patriot Indonesia, pendukung serta pembela Ideologi Negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah.
- Kami Kesatria Indonesia, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan.
- Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, adalah Bhayangkari Negara dan Bangsa Indonesia.
- Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, memegang teguh disiplin, patuh dan taat kepada pimpinan serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan Prajurit.
- Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, mengutamakan keperwiraan di dalam melaksanakan tugas, serta senantiasa siap sedia berbakti kepada Negara dan Bangsa.
- Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, setia dan menepati janji serta Sumpah Prajurit.
Ikrar Guru Indonesia
- Kami Guru Indonesia, adalah insan pendidik bangsa yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Kami Guru Indonesia, adalah pengemban dan pelaksana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pembela dan pengamal Pancasila yang setia pada Undang Undang Dasar 1945.
- Kami Guru Indonesia, bertekad bulat mewujudkan tujuan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
- Kami Guru Indonesia, bersatu dalam wadah organisasi perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia, membina persatuan dan kesatuan bangsa yang berwatak kekeluargaan.
- Kami Guru Indonesia, menjunjung tinggi Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman tingkah laku profesi dalam pengabdian terhadap bangsa, negara serta kemanusiaan.
Panca Prasetya KORPRI
Kami Anggota Korps Pegawai Republik Indonesia Adalah Insan Yang Beriman dan Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berjanji:
1. Setia Dan Taat Kepada Negara Kesatuan Dan Pemerintah Republik Indonesia Yang Berdasarkan Pancasila Dan Undang-Undang Dasar 1945;
2. Menjunjung Tinggi Kehormatan Bangsa Dan Negara Serta Memegang Teguh Rahasia Jabatan Dan Rahasia Negara;
3. Mengutamakan Kepentingan Negara Dan Masyarakat Di Atas Kepentingan Pribadi Dan Golongan;
4. Memelihara Persatuan Dan Kesatuan Bangsa Serta Kesetiakawanan Korps Pegawai Republik Indonesia;
5. Menegakkan Kejujuran, Keadilan dan Disiplin Serta Meningkatkan Kesejahteraan Dan Profesionalisme.
Panca Prasetya Korps Pegawai Republik Indonesia tertuang dalam Keputusan MUNAS VI KORPRI Nomor : Kep-8/Munas/2014.
Dasadarma
1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3. Patriot yang sopan dan ksatria
4. Patuh dan suka bermusyawarah
5. Rela menolong dan tabah
6. Rajin, terampil dan gembira
7. Hemat, cermat dan bersahaja
8. Disiplin, berani dan setia
9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan
Dari beberapa dokumen tersebut tersirat makna bahwa seluruh bangsa Indonesia, apa pun profesi dan latar belakangnya adalah insan yang percaya dan bertakwa kepada Tuhan yang Mahaesa. Apa itu percaya? Percaya artinya memercayai ada Zat yang menciptakan alam beserta seluruh makhluk. Takwa mengandung makna menaati perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Salam Literasi, Salam Blogger Sehat,
#HariKesaktianPancasila
#AISEIWritingChallenge
#Juni2021Challenge
#SilaPertamaPancasila

Terima kasih sudah berkunjung.
Wah, bagus pak tulisannya saya kagum.
Benar sekali Pak. Penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta merupakan penerapan yang nyata untuk mempersatukan bangsa yang bhineka ini. Mantap Pak D Sus.
Setuju penting pengamalannya di lapangan sila 1 tersebut. Toh begitu karang lima sila sulit dihapal. Tulisannya amat mengupas. Salam literasi pak D
Buya Ma’arif, tokoh Muhamadiyah, pernah menuangkan uneg-uneg perilaku negarawan yang tidak Pancasiliais dalam media Kompas tanggal 1 kemarin.
Emang tidak ada janji yang jelek. Yang berat adalah pengejawantahannya. Semoga Indonesia tetap dalam NKRI meski ada yang merubah segi ideologi.
Setelah ngumpul bahan, sekitar 3/4 jam.
Lama ya, Om.
Terima kasih lengkap sekali. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tulisan ini?