Mengeluarkan Hormon Bahagia

Sepuluh hari lalu, saya mendapat surat undangan dari Mas Toyo, guru muda yang sangat energik. Beliau pernah bersama di satu kecamatan sekitar tahun 2008 hingga 2012. Saat itu, Mas Toyo masih lajang.
Awal tahun 2024, dua belas tahun sesudah kami tidak ‘serumah’ atau se-kecamatan lagi, sahabat muda saya sudah memiliki tiga buah hati. Tiga orang putra-putri, buah cintanya dengan Bidan Ermayanti.
Ada kewajiban sebagai orang tua terhadap anak-anaknya. Ia mengkhitankan anak sulungnya, Gibran Al Ghifari. Ia juga mengakikahkan anak keduanya, seorang gadis cantik bernama Nayyara Nafisha Almahyra dan puteri ketiganya Adzkiya Naila Taleetha.
Nama yang elok, meskipun ejaan nama mereka berpotensi terjadi kesalahan penulisan apabila tidak berhati-hati dalam menuliskannya.
Hajatan tasyakuran dua acara yang disunnahkan dalam agama yang Mas Toyo anut, digelar bukan pada hari libur melainkan hari Sabtu (20/01/2024). Meskipun Sabtu adalah hari libur bagi umumnya pegawai atau karyawan, namun bagi saya dan teman-teman guru Pendas (Pendidikan Dasar) sebagian besar masih melaksanakan tugas. Oleh karena itu, niat berangkat ke kediaman sahabat yang dipasang jauh-jauh hari sebelumnya, saya tunaikan setelah pulang mengajar.
Lebih kurang pukul setengah dua siang, saya berangkat dari rumah, sendirian. Ibu negara sedang sibuk mempersiapkan acara untuk hari Minggu. Ada hajat kecil mengumpulkan teman-teman alumni PGSD GKIP UNS 1992 pada Minggu pagi hingga tengah hari. Jadi, sang Ibu Negara tidak bisa ikut.
Setelah memasuki pintu gerbang dan disambut Tuan Rumah yang berpakaian rapi dan berkopiah berhias tanjak, saya disambut panitia.
Meskipun sudah pukul dua petang, acara pesta masih berlangsung. Begitulah masyarakat suku Jawa di daerah kami, Musi Rawas, yang menggelar hajat di rumah di bawah tarub besi, hajatan akan berlangsung hingga petang hari.
Sang panitia menyilakan saya menuju meja prasmanan. Meja berisi aneka hidangan: nasi putih, rendang daging, sambal nanas berhias ati dan ampela ayam, soto, bumbu pecal, lalapan, kudapan lain, hingga potongan buah semangka.
Saya mengambil secukupnya, sekadar kenyang. Ha ha ha …, tidak, sedikit saja sebagai bentuk penghormatan. Lagi pula sebelum berangkat ke tempat hajatan saya sudah mengisi perut dengan makan siang.
Rupanya, teman-teman guru satu sekolah Bung Toyo masih berkumpul, dua di antaranya sedang melantunkan lagu pop kesayangannya di atas panggung.
Rasa bahagia terpancar dari wajah sang tuan rumah. Demikian pula dengan saya yang bertemu dengan teman-teman lama. Bercengkerama dan tentu saja bergiliran memenuhi undangan pembawa acara untuk menyanyikan lagu kesayangan.
Mengeluarkan Hormon Bahagia
Berkumpul dengan teman-teman lama, bercengkerama, dan bernyanyi adalah hal membahagiakan. Pada saat itu hormon bahagia saya keluar.
Jika para pecandu narkotika memakai barang haram itu untuk menciptakan sensasi bahagia, katanya, kami pun pada saat itu sedang diliputi kebahagiaan.
Kata dr. Aisah Dahlan CHt. dalam sebuah kajian ilmiah pada saluran YouTube yang saya tonton, sesungguhnya manusia memiliki hormon bahagia. Sang dokter menyebut sebagai hormon dopamin.
Menurut KBBI dopamin adalah senyawa kimia dalam otak yang terbentuk sebelum epinefrina yang berfungsi sebagai penghubung sesama sel saraf dan sel otot.
Melansir rsannisa.co.id, apabila seseorang mengalami kekurangan hormon dopamin, saraf otaknya tidak dapat bekerja dengan efektif dalam mengirimkan sinyal.
Hormon dopamin juga disebut sebagai hormon pengendali emosi. Saat dilepaskan dalam jumlah yang tepat, hormon ini akan meningkatkan suasana hati, sehingga orang akan merasa lebih senang dan bahagia. O, jadi jika kekurangan dopamin lumayan bahaya, ya!
Bagaimana agar dopamin dalam tubuh bisa keluar? Menurut dokter yang kerap memberikan kajian ilmiah tentang otak manusia itu, caranya gampang.
Katanya, ada lima cara untuk bisa mengeluarkan hormon dopamin. Sering tersenyum dengan sudut bibir kanan dan kiri seimbang. Lakukan tersenyum paling singkat tujuh detik. Jika tersenyum mampu mengeluarkan hormon dopamin, tertawa sudah pasti, dong!
Mendengar cerita lucu, menonton stand up komedi, menonton TikTok para komedian, dan berbagai hal yang membuat kita tertawa sewajarnya akan membuat dopamin kita keluar.
Yang berikutnya adalah dibelai. Anak dibelai ayah dan ibu, istri atau suami dibelai pasangan sah mereka. Hal itu akan membuat hormon dopamin keluar, Anda pun merasa bahagia.
Hal keempat cara mengeluarkan hormon dopamin adalah dengan bergerak. Membenturkan sisi bawah kelingking pada kedua belah tangan adalah olahraga paling sederhana yang dapat mengeluarkan hormon dopamin. Jadi, jika sedang suntuk di kantor, capek, segera lakukan atau gerakkan badan, misalnya bergoyang agar bahagia.
Hal yang kelima untuk mengeluarkan dopamin adalah dengan bernyanyi dan mengaji. Oleh karena itu, saya tidak menolak ketika pembawa acara memanggil nama saya untuk naik ke panggung.
Mas Toyo sudah menyediakan hiburan orgen tunggal yang siap mengiringi tamu undangan yang suka menyanyi. Kali ini, bukan tentang suka atau tidak suka melainkan tentang dopamin, narkotika alami yang bikin kita bahagia.

https://vt.tiktok.com/ZSNokgoVJ/
Nah, yuk keluarkan hormon dopamin tanpa doping zat kimia berbahaya semacam narkotika. Sudah tahu caranya, kan?
Musi Rawas, 21 Januari 2024
PakDSus
Pak Cip. Thanks.
Bu Icha Angela, terima kasih sudah berkunjung.
coba lagi lah karena kini dah tau istilahnya. Tambah ilmu nih.
Membaca tulisan ini juga bagian dari dopamin bagi saya. Tersenyum dengan sudut bibir kanan dak kiri seimbang Sehat selalu Pak De
Makasih, Cak. Asyik nian.
Terima kasih, Pak Sarto.
Dengan tampil.menyanyi jadi bahagia. Asyikkk
Wah jadi dapat kosa kata baru ni .. Dopamin … makasih pak De .. mudah-mudahan saya termasuk orang yg bnyk hormon Dopamin nya … hehehehe