artikel

Bersama IKAS, Ikatan Keluarga Alumni D2 PGSD Surakarta Angkatan Pertama

Makan Bersama, salah satu agenda kumpul IKAS (Ikatan Keluarga Alumni Solo)

Tahun 1993, tepatnya bulan Agustus, para lulusan Diploma 2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (D2 PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang ditempatkan di Kabupaten Musi Rawas berangkat dan sampai di halaman Wisma Haji Taba Pingin, Musi Rawas.

Saat itu kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Musi Rawas berada di Lubuklinggau, tepatnya di desa/kelurahan Taba Pingin.

Setelah tersebar di 4 kecamatan: Rawas Ulu, Rawas Ilir, Muara Kelingi, dan Muara Lakitan, enam atau tujuh tahun berikutnya mereka berkumpul dan membentuk sebuah ikatan keluarga dan bersepakat menamakan paguyuban yang dibentuk dengan nama Ikatan Keluarag Alumni Solo (IKAS). IKAS sebagai ajang silaturahmi dan saling menolong satu sama lain.

Arisan semen adalah kegiatan pengikat para guru muda itu. Setiap anggota menyetor 10 zak semen yang diuangkan. Berapa pun harga semen pada saat arisan, itulah harga yang harus dibayarkan. Uang itu dapat dimanfaatkan untuk membantu anggota yang sedang membangun atau merenovasi rumah yang dibeli.

Seiring berjalannya waktu, para guru muda lulusan D2 PGSD Angkatan Pertama di Indonesia itu saling cinta, lalu menikah. Yang lainnya terpikat dengan anak didik, keponakan kepala sekolah, dan warga lainnya.

Betambahlah anggota. IKAS yang semula beranggotakan murni para lulusan D2 beserta istri, karena ikatan pernikahan maka bertambah anggota yang yang ikut. IKAS pun berubah nama menjadi IKAS Manunggal.

Saat ini mereka sudah berdomisili lebih kurang 29 tahun di Kabupaten Musi Rawas, terhitung 31 Agustus 1993. Berkarier sebagai guru sekolah dasar, lalu sebagian menjadi kepala sekolah, dan pengawas sekolah.

Iklim politik menyebabkan dinamika pemerintahan. Satu dua dari mereka, teman-teman IKAS, duduk di jajaran struktural Dinas Pendidikan, bahkan menjadi kepala wilayah kecamatan atau Camat.

Sekarang, kawan-kawan yang duduk di jajaran struktural kembali ke habitat menjadi guru dan pengawas sekolah. Kecuali satu, dari Camat kembali ke Dinas Pendidikan dan menduduki jabatan cukup bergengsi, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Musi Rawas.

Mas Prie, lengkapnya Supriyadi, yang tampak pada gambar adalah rekan IKAS yang sekarang (2024) menjabat Sekretaris Dinas Pendidikan.

Visi IKAS adalah menjadi ajang silaturahmi anggota yang dipenuhi rasa kekeluargaan, saling menghormati, menghargai, dan membantu satu sama lain.

Ikatan keluarga dipenuhi rasa kekeluargaan, sehingga belum merasa perlu untuk mengukuhkan hingga hingga berbadan hukum. Cukuplah sementara menjadi ajang silaturahmi.

Karena visinya adalah kekeluargaan, maka disusunlah program untuk berkumpul atau bertemu secara berkala. Alat pengikat untuk bisa bertemu adalah arisan.

Selain itu, mereka juga mendirikan koperasi. Kekayaan koperasi dapat dimanfaatkan oleh anggota untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Bahkan atas kesepakatan, anggota tidak perlu memberikan uang jasa pengembangan seperti layaknya badan usaha.

Saat ini disepakati dua bulan sekali berkumpul dan bercengkerama di kediaman para anggota. Pertemuan IKAS selain diisi dengan kegiatan arisan dan perkoperasian, sesekali diisi dengan perbincangan seputar isu pendidikan.

Sebagai paguyuban yang mengedepankan rasa kekeluargaan, IKAS layak untuk dipertahankan dan ditingkatkan. Meskipun label D2 sudah jauh ditinggalkan karena rata-rata sudah berpendidikan S1 serta S2, IKAS menjadi momen bersejarah bahwa mereka lahir dari rahim FKIP UNS tahun 1992.

Seiring umur dan bertambahnya usia anak-anak anggota, mereka pun satu per satu bermenantu. Yang tinggal di daerah Musi Rawas atau Kota Lubuklinggau, para keponakan yang sudah menikah itu ikut menjadi anggota IKAS.

Bagaimana dengan anak kami? Meskipun sudah menikah, ia berdiam jauh di luar kota/kabupaten Musi Rawas. Akan tetapi, mulai Arisan ke-6 ini ia kami ikutkan. Bagus Aji Santoso menjadi anggota ke-20.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, bukan? Demikian pula para pendiri dan anggota pertama IKAS. Pada saatnya, mereka akan meninggalkan paguyuban karena sesuatu hal.

IKAS akan kami titipkan kepada anak dan keponakan yang satu demi satu menambah banyak anggota IKAS. Dalam sambutan sebagai tuan rumah, saya menyampaikan. Jika para orang tua bersilaturahmi dengan cara saling kunjung dan menikmati hidangan di rumah-rumah para kolega, mungkin keturunan IKAS yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, suatu saat nanti melanjutkannya dengan pertemuan secara virtual.

Bisa saja mereka bertemu melalui Zoom atau G-Meet, ha ha ha …. Uang bisa ditransnfer atau menggunakan rekening bersama. Ah, itu hal yang mudah bagi anak-anak milenial yang akrab dengan teknologi. Namun demikian ada satu hal yang harus mereka pegang teguh: akhlak!

Setiap pertemuan di rumah anggota selalu diisi dengan acara makan siang bersama. Makan adalah salah satu sarana dalam meningkatkan komunikasi anggota satu sama lain.

Percakapan di meja makan atau lesehan dapat membangun hubungan yang baik dan menciptakan adanya keterbukaan. Masing-masing anggota dapat memberikan masukan, solusi kepada masalah yang tengah dihadapi. Bisa juga saling tukar informasi perihal pekerjaan, bahkan membuka peluang bermitra usaha. Demikian keuntungan makan bersama yang saya kutip dari blog.kulina.id.

Menu makanan pada setiap anggota berbeda-beda, tergantung kesiapan tuan rumah. Demikian pula dengan menu makan di rumah pada pertemuan IKAS tanggal 21 kemarin.

“Mas, pernah nyicip seng atau nyicip tong? Belum, kan? Bagaimana kalau kita makan tong dan makan seng?”

Maka ibu negara pun mengajak tetangga yang pernah jualan sate dan tongseng untuk membantu mewujudkan keinginan anak bungsu saya.

Sebelum pulang, teman-teman kami ajak makan siang dengan menu: tongseng ayam, lalap petai dan sawi hijau, filet gurame, dan kerupuk jengkol. Sebelumnya kudapan onde-onde, risoles, dan tape ketan. Selain itu, sajian dawet ayu Banjarnegara (yang membuat adalah keturunan orang asli dari Banjarnegara) cukup menyegarkan perbincangan santai mereka.

Anda ikut paguyuban apa dan bagaimana ceritanya, tulis di kolom komentar, ya!

Musi Rawas, 22 Januari 2024
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

One thought on “Bersama IKAS, Ikatan Keluarga Alumni D2 PGSD Surakarta Angkatan Pertama

  • Jadi rindu saudara-saudaraku IKAS

Comments are closed.