bahasa

Optimis Aja, Bu!

Vaksinasi atau imunisasi cukup menakutkan bagi sebagian siswa. Waja saja, jika mereka tahu, pada hari itu tidak berangkat sekolah demi menghindari jarum suntik petugas medik. Namun, kelas enam sudah memasuki dunia remaj, sudah bisa diajak berpikir dan bertukar pendapat. Jadi, Pak Eko optimis bahwa murid mereka tidak akan membolos menghindari suntikan. Bagaimana cerita optimis Pak Eko? Simak cerpen berikut ini!

Optimis Aja, Bu!

Hari Kamis ini, saya mendapat giliran membeli makanan. Meskipun besar uang arisan tidak seberapa, gulungan kertas arisan berisi nama saya keluar.

“Nah, giliran Pak Eko beli makanan, besok!” Kata Bu Anna berseloroh.

“Beres. Mau apa? Mau seng? Atau tong? Atau kalian mau saya geprek semua? Ha ha ha,” jawab saya sekenanya.

Setelah uang diterima, secara moral saya “harus” membeli sesuatu sekadar dimakan ramai-ramai tanda keakraban.

Keesokan harinya, pada jam istirahat, saya pamit memesan nasi ayam geprek. Makanan murah meriah. Setengah jam kemudian, saya kembali ke sekolah.

“Pak Eko, ada pesan dari kepala sekolah. Besok anak-anak mau divaksin. Orang tuanya diminta mendampingi. Tinggal kelas enam yang belum diumumkan,” kata Bu Ika memberi kabar.

“Terima kasih. Akan saya umumkan,” jawab saya. Saya pun bergegas ke kelas dan mengumumkan bahwa besok ada vaksinasi Covid-19 dan orang tua harus datang mendampingi.

“Disuntik, Pak?” tanya Dwi penuh selidik.

“Iya, hanya disuntik sedikit. Tidak sakit. Lagipula, agar kita kebal dari virus Corona, satu cara yang ditempuh pemerintah adalah melakukan vaksinasi kepada warga negara, termasuk kalian,” saya berusaha meyakinkan.

“Lagipula, kalian mau bukan, kebal dari penyakit? Kita pun bisa sekolah tatap muka seperti ini hingga kalian masuk SMP nanti. Nah, makanya besok kita ikuti vaksinasi,” kata saya selanjutnya.

“Besok aku nggak masuk. Ngeri aku disuntik.”

Ucapan anak setengah berbisik itu, terdengar di telinga saya. Saya tahu, itu suara Raka. Saya masih teringat pernah membujuk dan memeganginya ketika imunisasi pada waktu BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah). Pada waktu itu, Raka masih duduk di kelas tigas.

“Apa, Raka?” tanya saya seolah meminta penjelasan Raka.

“Tidak, Pak,” jawabnya.

“Siapa tadi yang bilang besok tidak masuk karena ada vaksinasi? Fachri atau Catur, tadi?” tanya saya pura-pura tidak tahu.

Yang punya nama tentu saja protes.

“Bukan aku, Pak! Raka itulah yang bilang tadi,” jelas Fachri.

Saya pun tersenyum tipis saja.

Optimis Aja, Bu!

“Bagaimana, Pak? Apakah anak diumumkan mau vaksinasi?” tanya Bu Dar, guru kelas satu.

“Lo, iya. Benar begitu, ‘kan?” jawab saya.

“Kalau saya, tidak mengumumkan ada vaksinasi. Nanti anak-anak banyak yang nggak masuk, pada takut,” katanya beralasan.

“Anak-anak saya kan sudah kelas enam, Bu. Memang ada saja satu dua yang takut disuntik. Jangankan anak-anak, tentara saja ada yang nangis waktu divaksinasi. Optimis saja, Bu. Mereka sudah mulai masuk usia remaja, sudah bisa diajak berpikir” jawab saya berlogika.

“Pak Eko mengumumkan besok divaksinasi? Aduh, Pak. Nanti banyak yang nggak datang, bagaimana?” tanya Bu Ika cemas. Bu Ika adalah guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Ia sudah cukup lama mengajar di SD ini. Sedangkan saya belum genap lima tahun bertugas di sini. Lagi pula data empiris membuktikan seperti itu, ketika BIAS diumumkan banyak yang tidak masuk demi menghindari jarum suntik petugas medis.

“Optimis aja, Bu! Tenang saja. Yakinlah,” kata saya meyakinkan, meskipun dalam hati ikut cemas juga.

***

Malam hari sebelum tidur, saya mendapat broadcast dari Bu Ika. Isinya foto jadwal imunisasi untuk SD kami diundur lima hari lagi.

“Gimana ni, Pak. Kita telanjur mengumumkan orang tua besok datang? Sedangkan jadwal di SD kita masih lima hari lagi?”

Rinai sisa hujan deras masih asyik menimpa seng atap rumah. Saya pun asyik membalas broadcast guru agama itu.

“Tenang saja, Bu. Kalaupun orang tua besok datang, nggak apa-apa. Malah kita bisa sosialisasi dan meminta mereka menandatangani surat pernyataan mengizinkan atau tidak mengizinkan anak mereka divaksin. Kalau di grup saya, anak-anak menyatakan siap divaksin, meskipun orang tua tidak datang mendampingi. Tidak usah bingung, optimis saja, besok tidak terjadi kehebohan. Oke?” tulis saya di kolom chat WA bu Ika.

“Wah, lega saya, Pak. Saya sama Bu Ita bingung, besok kalau orang tua datang ternyata belum jadi vaksin, malu. lagi pula jika terjadi kehebohan, bagaimana?” tutur Bu Ika sembari menyertakan emoji jempol ke atas, “setelah membaca pesan Pak Eko, saya bisa tidur nyenyak, Pak.”

“Selamat tidur, Bu. Semoga mimpi basah, eh anu … mimpi indah,” tulis saya sambil bergurau.

Saya pun mencoba memicingkan mata.

Musi Rawas, 6 Januari 2022

PakDsus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Optimis Aja, Bu!

  • Semoga mimpi indah, ehhh salah… Semoga mimpi basah…. Hahahahahahahah

    Optimis aja dulu…

  • Anak saya juga beralasan tidak masuk sekolah karena ada vaksin. Untungnya di hari H bisa dibujuk. Optimis siswa mau divaksin.

  • Mantab ..semangat tetap optimis .smg siswa masuk dan ikut vaksin. Jdi gara2 siswa mau di vaksin mlmnya ga bisa tidur.hihi

  • Seru, selalu bersama anak-anak kecil. Semangat dan optimis.

  • Kalau di kota saya timnya banyak. Dissmping dari puskesmas juga dari klinik resmi TNI atau kepolisian Semua lancar. Memang efeknya ada 2 anak yg pucat lemas….patahnya itu siswa besar kelas 56….yang sejak kecil takut disuntik. Semangat Pak D. Salam literasi

  • Luar biasa… Betul sekali di sekolah emak yg daftar yg mau di vaksin ada 700 murid, yg hadir 600 murid. Sisanya yg 100 murid japri kpd guru kelas. Maaf… Anakku tdk bisa ikutan di vaksin krn lagi sakit. Stress… murid2 mau di suntik vaksin covid.

Comments are closed.