Panen Cabai Tanpa Menanam
Bertugas di daerah pertanian dan memiliki teman pendidik serta tenaga kependidikan yang juga petani, sangat menyenangkan. Untuk memenuhi kebutuhan akan beras, cabai, serta sayuran lain kadang tidak perlu ke pasar.
Seperti hari ini. Kami (bukan saya saja) mendapat bingkisan cabai besar yang masih hijau. Sponsornya adalah Bu Ita, operator sekolah kami. Suaminya seorang petani. Sebagian lahan mereka ditanami padi, sebagian lagi ditanami cabai.
“Terima kasih, Bu Ita, bingkisan cabainya,” kata saya mewakili teman-teman.

“Sama-sama, Pak,” jawab Bu Ita, operator sekolah kami.
Mungkin ada enam atau tujuh kilogram cabai hijau yang terbagi dalam kantong plastik sebanyak dua belas buah.
“Kami mau melakukan peremajaan. Ganti tanaman. Jadi, daripada dijual harganya juga tidak seberapa, saya bagi-bagikan kepada sanak keluarga dan teman-teman,” jelas Bu Ita lebih lanjut.
Menanam Cabai Membutuhkan Kedisiplinan
Cabai adalah tanaman yang memerlukan pemeliharaan yang disiplin dalam hal penyiraman, penyiangan, pemupukan, pemangkasan, pemasangan ajir, dan pengendalian hama (organisme pengganggu tanaman).
Teman saya juga begitu. Mereka menyiram tanaman cabai setiap hari pada pagi atau sore hari. Jika ada hujan, mereka tidak melakukan penyiraman.
“Kami melakukan penyiangan sekali dalam dua minggu,” kata Bu Ita menjelaskan. “Selain penyiangan, dilakukan juga pemangkasan. Tunas samping serta sebagian daun yang tumbuh sampai dengan ketinggian 15 – 25 cm dari permukaan tanah dipangkas/dirempel. Pemangkasan bertujuan untuk menghindari percikan air penyiraman yang menempel pada bagian tanaman, batang menjadi kokoh dan kuat, pertumbuahan bagian atas tanaman lebih sempurna, sirkulasi udara lebih baik.”
“Lalu, ajir itu apa, Bu?” tanya kami.
“Oh, itu. Ajir itu batang pendek dari bambu. Gunanya untuk memperkokoh batang tanaman. Juga agar tidak mudah roboh. Pemasangan ajir dilakukan sedini mungkin,” jelas operator sekolah kami itu.
“Lalu, pemupukannya bagaimana?” tanya kami kembali.
“Nah itu pekerjaan Bapaknya, Pak,” jawab Bu Ita sambil tertawa.
“Ha ha ha …, iya juga, sih. Maksud kami, pupuknya apa saja?” serentak kami pun tertawa mendengar jawaban Bu Ita.
Kata Bu Ita, pupuk yang digunakan adalah pupuk NPK. Pupuk itu dilarutkan dengan perbandingan 10 gram pupuk dilarutkan ke dalam 1 liter air. Larutan itu disiramkan pada tanaman sebanyak ±200 ml (satu gelas air minum kemasan) per pot/polybag/tanaman. Pemupukan dilakukan satu kali dalam 10 hari.
“Mulai umur berapa cabai dipupuk NPK, Bu?” tanya saya.
“Ya, idealnya setelah tanaman berumur satu bulan,” jelas Bu Ita.
Hama Tanaman Cabai
“Bu, katanya cabai banyak musuhnya, ya?” tanya saya.
“Banyak, Pak. Ulat tanah, ulat grayak, ulat buah, kutu kebul, kutu daun, trips, dan tungau. Kalau menurut buku yang saya baca, penyakit yang banyak menyerang antara lain: Virus kuning, busuk buah Antraknos, Layu Fusaium, layu bakteri, bercak daun serkos poradan rebah kecambah,” jelas Bu Ita panjang lebar.
“Nanti aja deh kalau Pak De sudah mulai nanam dalam polybag, saya jelasin cara mengusir hama tersebut,” kata Bu Ita disambut tawa teman-teman.
“Iya, deh. Ha ha ha …. Nah, terakhir nih. Kapan panen?” tanya saya sambil mengemas cabai dalam kantong plastik agar mudah dibawa pulang.
“Panen cabai dilakukan saat buah 90% masak. Umurnya sekitar 70 sampai 120 hari setelah tanam (HST). Tergantung sih. Kami memanen sekitar umur tujuh puluhan HST. Panen dilakukan satu kali dalam 3-7 hari. Sebaiknya dilakukan pada cuaca cerah. Panen hijau dapat dilakukan pada saat buah telah mengeras atau satu bulan sebelum panen merah,” jelas Bu Ita lagi.
“Nah, satu batang cabai merah dapat dipanen sampai 20 kali dengan hasil 0,7 sampai dengan 1,5 kilogram per batang.”
Tertarik menanam cabai? Saya tertarik. Namun, hari ini tanpa menanam kami memanen cabai hijau. Matur nuwun, Bu Ita. Salam buat Pak Yus (suami Bu Ita). Semoga panen yang akan datang makin bagus dan harganya sesuai.
Musi Rawas, 28 September 2021
Tambahan bacaan: http://sumbar.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-tek/1022-budidaya-cabai-dalam-pot-polybag
Alhamdulilah… Indahnya berbagi, semoga panennya makin melimpah ya, Bu Ita.
“Musuhnya” banyak, butuh ketelatenan.
Saya sering gagal nanam cabe
Makin keren tulisannya pak…berharap sebentar lagi launching novel nya