artikel

Pak Eko Belajar Mengajar Berkolaborasi

Ilustrasi Webinar (Gambar dokumen penulis)

Suatu ketika, Pak Eko mengikuti webinar tentang pembelajaran kolaboratif. Mengajar dengan berkolaborasi. Dari dalam kamar, Akbar muncul dan tiba-tiba bertanya kepada bapaknya.

“Bapak sedang belajar apa?” tanya Akbar.

“Sedang belajar mengajar,” jawab sang Bapak dengan santai.

“Bukankah mengajar sudah menjadi pekerjaan sehari-hari? Kenapa Bapak harus belajar mengajar lagi?” tanya sang anak penuh rasa penasaran.

“Karena Bapak belum pandai mengajar berkolaborasi. Makanya belajar lagi. Belajar tidak terhalang hanya karena hal yang dipelajari sudah menjadi pekerjaan sehari-hari. Setiap hari kita harus belajar, Mas. Kamu sendiri, sedang belajar apa?” tanya Pak Eko kepada sang anak.

“Sedang belajar berkolaborasi …!” jawab sang anak sambil tertawa menutup mulutnya. Ia berlari kecil menjauhi ayahnya yang diam mematung mendengar jawabannya.

Rupanya si anak mendapat proyek dari gurunya untuk membaca puisi dalam bentuk parade puisi. Ia harus tampil di depan teman-temannya melalui pertemuan Zoom juga.

***

Pak Eko kembali berkonsentrasi menatap layar laptopnya. Pada layar komputer di ruang Zoom, narasumber masih memberikan materinya.

“Bapak Ibu Guru, secara konvensional, mengajar tunggal itu biasa. Hal lazim yang dilakukan pada setiap lembaga pendidikan, baik di kota maupun di desa. Namun ada juga sekolah-sekolah yang sudah menerapkan pembelajaran secara kolaboratif.”

“Pada kegiatan belajar mengajar konvensional tersebut, kolaborasi biasanya dilakukan antarsiswa atau guru dalam satu sekolah atau dalam satu kelas yang sama.”

“Lagi-lagi saya harus mengatakan, meskipun sebenarnya hati saya sakit melihat fenomena dua tahun terakhir ini. Pandemi mengharuskan pembelajaran dari rumah. Pendidik dan dunia pendidikan kita dipaksa, tanda kutip, menggunakan TIK untuk pembelajaran. Di sinilah sesungguhnya pembelajaran secara kolaboratif bisa diperluas,” jelas narasumber lebih lanjut.

Pak Eko sesekali menguap. Meskipun tidak memadamkan video, pandai-pandai Pak Eko mencuri kesempatan untuk menguap. Maklum, malam tadi begadang. Jatah ronda malam bersama kelompok siskamling harus ditunaikan.

“Bapak dan Ibu sekalian,” narasumber melanjutkan. “Kolaborasi sesungguhnya merupakan kebutuhan manusia. Secara alamiah manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari berkomunikasi dengan manusia lainnya. Mereka bekerjasama, saling membantu satu sama lain. Oleh karena itu, dalam kegiatan pembelajaran, kolaborasi merupakan suatu keniscayaan.”

“Bapak dan Ibu sudah merasakan. Betapa pembelajaran berbasis TIK pada era pandemi menunjukkan dinamika yang luar biasa. Pada satu sisi izinkan saya mengatakan berkah di balik musibah. Sebuah pencapaian yang luar biasa dibanding upaya sosialisasi pemanfaatan TIK yang sudah lumayan capai kita laksanakan selama bertahun-tahun. Saya tidak bisa membayangkan, andai tidak ada pandemi, apakah pemanfaatan TIK akan semasif sekarang ini. Merata hingga pelosok wilayah tanah air kita.”

Sambil menyeruput kopi manis dari cangkirnya, Pak Eko melanjutkan menyimak. Sesekali diusapnya muka beberapa kali sambil mencuri menguap melawan kantuk.

“Bapak dan Ibu guru, BDR atau belajar dari rumah benar-benar memberikan pengalaman yang beragam. Ada yang merasa berhasil, setengah berhasil, bahkan di beberapa tempat merasa tidak berdaya. Barangkali sebagian Bapak dan Ibu kembali ke cara konvensional dengan kunjungan ke rumah siswa dengan alasan tidak berdaya akibat kendala infrastruktur jaringan internet.”

“Agar pengalaman-pengalaman tersebut menjadi lebih bermakna, maka berbagi dan berkolaborasi merupakan suatu keharusan bagi para pelaku pendidikan. Dengan berbagi dan berkolaborasi, para pelaku pendidikan bisa saling belajar, saling mengisi dan melengkapi, yang menimbulkan sinergi.”

“Akhirnya, Bapak dan Ibu serta stakeholder pendidikan lainnya semakin kaya khasanah teori dan praktek pembelajaran menggunakan TIK. Sehingga dapat mempraktikkan ke dalam kelas.”

Selesai menjelaskan, sang host memberitahu bahwa waktu untuk narasumber memberikan penjelasan tinggal lima menit, selanjutnya adalah tanya jawab.

Acara selanjutnya adalah tanya jawab. Sang host membacakan beberapa pertanyaan dari kolom chat dan juga melayani peserta yang rise hand.

***

Pak Eko terlihat bertarung dengan rasa kantuknya. Oleh karena itu, untuk melawan rasa kantuk ia memberanikan diri mengangkat tangan dengan kode rise hand pada layar Zoom.

“Silakan, Pak Eko. Pertanyaan langsung Bapak sampaikan. Jangan lupa nyalakan tombol mic terlebih dahulu,” sang Host mempersilakan.

Pak Eko pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Namun, rasa kantuk yang hampir tak tertahan, ia memohon izin tidak menyalakan video.

“Terima kasih, Ibu. Mohon maaf saya tidak menyalakan video. Bapak narasumber tadi menjelaskan tentang kolaborasi antarguru atau stakeholder pendidikan agar lebih memahami penerapan pembelajaran berbasis TIK. Saya bisa memahami. Pertanyaan saya, bagaimana mengaplikasikan metode pembelajaran kolaboratif pada pada saat PJJ sekarang ini? Terima kasih.”

Setelah mengajukan pertanyaan, kopi yang tinggal separuh diseruputnya habis. Ia berharap rasa kantuknya semakin berkurang.

“Terima kasih, Pak Eko. Pertanyaan yang bagus sekali,” kata narasumber menanggapi pertanyaan Pak Eko.

“Jadi begini, pembelajaran kolaboratif merupakan produk gagasan bersama. Siswa mengajukan, menyimak, dan merespon gagasan satu sama lain. Kemudian, dibangun sebuah pemaknaan atau pemahaman melalui usaha bersama dalam keragaman atau perbedaan. Pembelajaran kolaboratif menuntut siswa untuk berpartisipasi aktif dalam memanfaatkan keragaman individu. Pembelajaran kolaboratif lebih mengutamakan aktivitas berbagi.”

“Pada saat pandemi sekarang ini, Guru tidak sendiri lagi mengelola pembelajaran. Demikian pula orang tua. Mereka, bekerja sama dengan guru mendampingi putera-puterinya dalam belajar.”

“Bagaimana mendesain pembelajaran kolaboratif?” Bapak Narasumber memberikan pertanyaan retorika. “Pembelajaran kolaboratif dirancang untuk melaksanakan ketuntasan proses belajar. Ketuntasan belajar ditandai dengan tercapainya tujuan pembelajaran.”

“Guru dapat menempuh langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, guru menyampiakan tujuan dan motivasi kepada peserta didik. Bapak dan Ibu, dapat menyampaikannnya melalui pesan WhatsApp.”

“Kedua, guru menyajikan informasi dalam bentuk demonstrasi atau melalui bahan bacaan. Dapat juga berupa video Youtube yang dikirimkan ke grup kelas.”

“Ketiga, guru mengorganisasikan peserta didik  ke dalam kelompok- kelompok belajar. Karena daring, guru dapat membentuk kelompok WhatsApp Group Kecil, yang tetap dalam kendali guru.”

“Keempat, guru membimbing kelompok untuk bekerja, secara individu, kelompok kecil, maupun grup kelas.”

“Kelima, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Untuk ini silakan Bapak dan Ibu memilih media yang tepat. Google Meet, Zoom, Video Call kelompok kecil, atau secara asinkronus dengan merekamnya dalam bentuk video. Peserta didik berkolaborasi dengan orang tua untuk mengambil gambar.”

“Guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian atau memberikan ikon tepuk tangan pada grup WhatsApp kelas. Bahkan, jika jawaban siswa memuaskan, boleh Bapak dan Ibu memberi hadiah pulsa untuk menambah paket data siswa agar lebih semangat. Jangan lupa mengkomunikasikannya kepada orang tua. Demikian Bu Rita, jawaban saya.”

Host yang ternyata bernama Rita itu segera menanggapi.

“Terima kasih, Bapak Narasumber. Bagaimana, Pak Eko? Jelas jawaban Bapak Narasumber?” tanya Bu Rita.

“Pak Eko? Apakah masih bersama kami?” tanya Bu Rita kembali. “Pada layar pak Eko masih aktif, loh. Barangkali Pak Eko ada keperluan, sehingga meskipun layar masih aktif, beliau tidak bisa mengikuti secara fisik. Baikah kita lanjutkan kepada penanya berikutnya!”

Di depan layar komputer, sambil bersandar pada kursi plastiknya, guru kelas enam itu sudah pulas mendengkur. Rasa kantukya tidak terlawan lagi.

Musi Rawas, 30 September 2021

PakDSus Bloger Guru Musi Rawas

Sumur:

¹) https://pusdatin.kemdikbud.go.id/pembelajaran-kolaboratif-di-era-dan-pasca-pandemi-mengapa-tidak/

²) http://pena.belajar.kemdikbud.go.id/2021/01/pembelajaran-kolaboratif-di-saat-pandemi-covid-19/ 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “Pak Eko Belajar Mengajar Berkolaborasi

  • Mengalir seperti air…..dan mendarat di otak dengan pelan namun pasti..santai…tapi bermakna…kereeennnnnnnnnnnn

  • Rosnawati, S.Pd.

    Meskipun pak Eko nya tertidur..materi ttp tersampaikan..

  • keren pak… menjelaskan dalam bentuk dialog… mantap….

  • Mantap….pakD’

  • Cerpennya dapat, informasi dapat, tapi yang berkesan Pk Eko dan Bu Rita haha.

Comments are closed.