artikel

Petikan Langsung dan Dialog Tag (Menyunting Cerpen)

 

Pada cerpen tulisan kawan, saya mendapati kalimat seperti ini.

“Mil, aku sepertinya mau keluar kerja dari pabrik saja,” ungkapku pada Mila teman kostku di sebuah kota industri di daerah Tangerang.

Petikan percakapan seseorang seperti itu lazim dan tidak ada perdebatan. Akhir petikan langsung adalah tanda koma. Dialog tag “ungkapku” diawali dengan huruf kecil.

Kalimat yang lain misalnya.

“Yakin kau mau keluar, Rin?” tanya Mila.

Petikan percakapan tersebut juga lazim. Tanda sesudah petikan percakapaan bernada tanya adalah tanda tanya. Dialog tag “tanya ” diawali dengan huruf kecil.

Demikian juga pada percakapan bernada perintah, permintaan, atau bernada “keras”. Petikan percakapa tersebut diakhiri tanda seru. Dialog tag seperti “hardik, teriak, seru” dan sebagainya ditulis dengan huruf kecil.

Tanda Titik pada Akhir Petikan Percakapan

Jika membaca cerpen yang sudah menjadi buku, mungkin tidak perlu banyak komentar. Proses kelahiran buku itu sudah melewati proses editing. Boleh jadi editornya pun sudah profesional.

Lain halnya jika cerpen itu tersaji pada blog pribadi. Boleh jadi cerpen tersebut merupakan tantangan atau challenge sebuah grup penulis. Dapat juga hobi penulis yang dipublikasikan pada blog pribadi secara merdeka.

Pada sebuah cerpen yang saya baca, saya temui kalimat seperti ini.

“Iya Mil aku capek, lelah bertahun-tahun bekerja di sini namun aku belum mendapatkan sesuatu yang kuinginkan.” Jawab Ririn.

Tanda baca pada akhir petikan percakapan tersebut adalah tanda titik. Pertanyaannya, bolehkah? Jika tidak boleh, mengapa tanda tanya, tanda seru, boleh?

Petikan perkataan pada kalimat di atas bukan berupa pertanyaan juga bukan perintah. Seharusnya diakhiri dengan tanda koma karena diiringingi penjelas kalimat petikan yaitu ‘jawab Ririn’.

Bolehkah diakhiri tada titik? Jawabnya, tentu boleh. Akan tetapi kalimat berikutnya berupa narasi, bukan frasa yang mengikuti dialog. Frasa yang mengikuti dialog biasanya diawali dengan ‘dialog tag’.

Menyunting Kalimat Langsung

Saya kutip kembali kalimat di atas dengan berbagai variasi tanda baca sebagai berikut.

“Iya Mil aku capek, lelah bertahun-tahun bekerja di sini namun aku belum mendapatkan sesuatu yang kuinginkan.” Jawab Ririn. (Salah karena petikan dialog diakhiri tanda titik.)

“Iya Mil aku capek, lelah bertahun-tahun bekerja di sini namun aku belum mendapatkan sesuatu yang kuinginkan,” Jawab Ririn. (Salah karena dialog tag diawali huruf kapital.)

“Iya Mil aku capek, lelah bertahun-tahun bekerja di sini namun aku belum mendapatkan sesuatu yang kuinginkan.” jawab Ririn. (Salah karena petikan dialog diakhiri tanda titik.)

“Iya Mil aku capek, lelah bertahun-tahun bekerja di sini namun aku belum mendapatkan sesuatu yang kuinginkan,” jawab Ririn. (Benar karena petikan dialog diakhiri dengan tanda koma dan dialog tag diawali dengan huruf kecil.)

“Iya Mil aku capek, lelah bertahun-tahun bekerja di sini namun aku belum mendapatkan sesuatu yang kuinginkan.” Ririn menjawab sambil menghempaskan badannya di kasur. (Benar karena petikan dialog diakhiri dengan tanda titik, kalimat berikutnya berupa narasi atau kalimat baru.)

Jadi, penting sekali ya, melakukan uji baca sesudah menulis. Tidak terburu-buru mempublikasikan tulisan (cerpen) pada blog adalah tindakan bijaksana.

Selamat menyunting cerpen, sahabatku!

PakDSus

Musi Rawas, 29 September 2021

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “Petikan Langsung dan Dialog Tag (Menyunting Cerpen)

  • Baik, Pak. Kalau sudah jadi bukunya, saya beli satu, Insya Allaah.

  • Terimakasih bapak…semoga ilmu yang saya peroleh dari bapak sampaikan, saya bisa cepat menulis cerpen hingga novel.

Comments are closed.