
Penelepon Gelap Memanfaatkan Data dengan Surat Hoax

“Halo, Pak. Apakah Bapak nelpon saya tadi?” tanya rekan guru melalui telepon.
“Tidak, Bu. Ada apa?” saya balik bertanya.
“Ini lho, Pak. Tadi ada orang menelepon dengan nomor baru, mengaku Bapak. Katanya cucu saya mendapat beasiswa dan disuruh mengirimkan nomor rekening,” jelasnya.
“O, begitu. Kabarnya kok sama dengan pesan WA dari teman kita, ya!” saya pun menegaskan.
Beberapa jam sebelumnya, saya mendapat broadcast melalui WA dari teman yang bekerja sebagai TU sekolah bahwa ada wali murid yang mengadu bahwa ditelepon saya. Kabarnya tidak jauh berbeda, bahwa anaknya mendapat beasiswa dan diminta segera mengirimkan nomor rekening.
Saya pun teringat, bahwa beberapa waktu lalu ada permintaan data dari kepala sekolah yang asalnya dari grup kepala sekolah. Mereka pun mengaku berasal dari pejabat dinas kabupaten. Pada awalnya saya pun berpiir bahwa permintaan itu resmi dan legal. Namun, setelah beberapa kali mendapat aduan dari teman guru tentang ketidaktahuan adanya bantuan, saya pun menjadi curiga.
Selama ini bantuan semacam BSM (Bantuan Siswa Miskin) selalu diberitahukan secara resmi setelah data dapodik benar terisi. Oleh karena itu, saya pun mengetikkan kata kunci “permintaan data siswa berprestasi” pada mesin pencari Google. Ola la …, ternyata kabar tersebut adalah hoax. Seperti ini surat yang saya unduh di laman kemdikbud.go.id.
Surat di atas meminta data untuk tahun pelajaran 2019/2020.
Ternyata, baru-baru ini ada surat serupa dengan tampilan berbeda.
Perhatikan, alamat surat pengiriman ternyata sama menggunakan alamat surel palsu dengan domain yahoo(dot)com.
Ketika hal itu ramai dibicarakan di grup WA sekolah, segera saya sebarkan ke grup WA guru di kecamatan. Beragam tanggapan bermunculan. Ada yang sudah telanjur mengirimkan data, ada yang sudah membuat lalu dibatalkan ketika mereka menetahui tidak ada surat keluar dari kemdikbud bernomor 8778/C.KI/AV.07.00/2021 tanggal 19 Juli 2021.

Tetap Gunakan Alur Berjenjang
Ada hal memprihatinkan, bahwa surat kedua tersebut, menurut informasi, berasal dari forum KKKS. Hal memprihatinkan lagi adalah tidak ada “cek & ricek” keabsahan surat.
Dunia digital semakin maju, kadang tanpa melalui perantara, seseorang atau lembaga bisa langsung berhubungan dengan pusat. Namun, jika boleh berpendapat, bisa saja lembaga (dalam hal ini sekolah) langsung mengirimkan data ke pusat, namun, untuk menghindari adanya penipuan seperti di atas, koordinasi dengan instansi di atasnya sangat diperlukan.
Semoga ke depan setiap kita makin bijak berkomunikasi. Makin sadar informasi, dan mebiasakan diri untuk mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas dan benar keadaannya. Istilah populer di kalangan umat Islam adalah tabayyun, yang secara istilah berarti meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas dan benar permasalahannya.
Tahun baru Islam
PakDSus
Terima kasih sudah berbagi, di era digital ini kita harus semakin teliti dan lebih mebudayakan literasi. Bahkan saya suka membaca berulang-ulang membacanya walaupun itu berita berasal dari atasan kita. Tetap waspada, salam sehat, salam literasi.
Terimakasih sudah berbagi pengalaman Pak D.
Di Sekolah saya juga ada yang seperti ini Pak D.
Alhamdulillah langsung dikomunikasikan kepada atasan, sebelum disebarluaskan.
Sehat Sellallu Pak D
Sudah sering kejadian seperti itu terjadi. Awal-awal mungkin susah untuk dihindari. Semoga selanjutnya kita bisa ‘sadar’ kalau itu adalah hoax.