bahasa

Rahasia Anita (Bagian 2)

Pukul 10.00 anak-anak pulang sekolah. Para guru kembali ke ruang guru. Mereka meneruskan pekerjaan masing-masing. Pak Eko, seperti biasa, sebelum melanjutkan pekerjaan, ia membuka piano digital bantuan pemerintah Korea Selatan. Meskipun tidak mahir, tuts-tuts piano di tangannya mampu mengiringi lagu-lagu riang kepramukaan, lagu-lagu pop, dangdut, termasuk lagu-lagu ciptaan Didi Kempot.

Piano itu berada di ruang guru. Hanya gudang dan ruang guru yang memiliki tambahan pengaman berupa terali besi pada pintu dan kusen jendela. Jadi, wajar apabila ruang guru dipilih sebagai tempat menyimpan barang-barang “berharga”.

“Ngomong-omong, tadi Pak Eko manggil Anita, ada apa, Pak?” tanya Bu Sarmini, guru kelas satu. Guru kelas satu yang tergolong ‘sepuh’ itu paling suka menanyakan hal-hal yang menarik perhatiannya. Anita yang diajak Pak Eko ke ruang UKS, adalah salah satunya.

“Nggak ada apa-apa kok, Bu. Tanya-tanya biasa saja,” jawab Pak Eko sambil terus memainkan tuts piano dengan nada-nada harmoni, meskipun asal.

“Tapi bener lo, Pak. Kayaknya ada sesuatu dengan anak itu,” kata Bu Sarmini lagi.

Kata-kata Bu Sarmini menarik perhatian Pak Eko. Kemudian, ia berbalik badan. Ia belakangi bilah-bilah putih hitam yang kerap kali ia pijit untuk menghasilkan nada-nada riang.

“Benarkah, Bu? Memang, ada hal mencurigakan?” kali ini malah Pak Eko yang penasaran.

“Ya, si Anita kan teman Alia, cucu saya, Pak,” jawab Bu Sarmini.

“Iya, Bu,” tukas Pak Eko.

“Pernah Alia cerita, si Anita kerap diganggu teman laki-laki di kelasnya.

“O, begitu,” jawab Pak Eko pendek.

Mendengar penuturan Bu Sarmini, ingatannya melayang pada beberapa peristiwa silam. Peristiwa sebelum ia pindah ke sekolah ini. Ketika itu ia mendapat beberapa aduan. Salah satu aduan yang ia terima adalah perlakuan tidak senonoh yang dilakukan anak lelaki kepada seorang siswi.

Apakah yang terjadi pada Anita seperti yang dialami muridnya dulu?

Piano yang masih menyala segera dipadamkan. Setelah itu, kabel listrik yang masih tertancap pada stop kontak pun dicabut dan dikembalikan pada tempatnya. Pak Eko, guru kelas enam itu, segera menuju ke meja kerjanya. Terlihat ia asyik melanjutkan pekerjaan hingga waktu Zuhur tiba.

***

Hari Senin pagi giliran Bu Atik, guru mata pelajaran agama, mengajar luring di kelas enam. Pak Eko tidak masuk ke kelas, tetapi hari itu adalah hari piket baginya. Oleh karena itu, waktu yang kosong ia manfaatkan untuk berkeliling lingkungan sekolah. Luas sekolah yang tidak seberapa, tidak memakan waktu lama untuk dikitari. Pak Eko memeriksa apakah sepeda anak-anak yang di parkiran tersusun rapi, memastikan tidak ada sampah di sekitar kelas, dan juga memeriksa apakah ada bagian bangunan yang rusak. Setelah berkeliling, ia kembali ke ruang guru, mengisi buku kegiatan piket, dan melanjutkan pekerjaannya.

“Semoga Anita baik-baik saja,” gumam Pak Eko dalam hati.

Perkataan Bu Sarmini tentang Anita kembali mengingatkannya akan peristiwa yang sudah berlalu, beberapa tahun lalu. Ketika itu Maryana, yang juga kelas enam, melapor bahwa Cindy menangis. Sebabnya, bagian dadanya yang mulai tumbuh disentuh dengan sengaja oleh teman laki-laki sekelasnya. Apakah Anita juga mengalami hal yang sama?

“Andai saja Anita tidak menangis sesenggukan, mungkin aku tidak terlalu peduli. Namanya juga anak-anak. Dalam pergaulan ada saja hal yang menyebabkan mereka menangis. Namun, tangisan Anita pada waktu itu membuat naluriku harus mengajaknya ke ruang UKS,” batin Pak Eko sambil memainkan pensil 2B-nya.

Ketika Pak Eko sedang merenung, tiba-tiba Linda datang melapor.

“Assalaamu’alaikum, Pak! Anita nangis lagi,” katanya.

Linda, gadis kecil teman sekelas Anita, datang melapor. Andai bukan si Linda yang melapor, Pak Eko mungkin tidak segera bereaksi. Ini Linda, anak yang kemarin kepergok menguping pembiacaraannya dengan Anita, yang melapor.

“Benarkah?” tanya Pak Eko kepada Linda.

“Iya, Pak. Bener, Anita masih nangis tuh, Pak,” jawab Linda berusaha meyakinkan Pak Eko.

Pak Eko tersenyum, akan tetapi ia pun beranjak mengikuti langkah Linda.

Anak-anak kelas enam sudah banyak yang pulang. Di depan kelas tersisa beberapa anak. Puput, Nadhiroh, Linda, dan Tyas. Sementara itu Anita masih sesenggukan.

“Lo, masih belum pulang, kalian?” tanya Pak Eko ramah.

“Belum, Pak. Nungguin Anita,” jawab mereka serentak.

Melihat Pak Eko datang, tangisan Anita mereda.

“Kok, Anita nangis lagi? Linda, kamu cubit, ya?” tanya Pak Eko bernada meledek.

“Ih, Pak ini. Ya nggak, lah!” jawab Linda mengelak.

“Ya, sudah. Kalian pulang. Anita, pulanglah. Sudah, tidak usah menangis lagi,” bujuk Pak Eko. Mereka pun menuruti kata guru kelasnya.

“Hmm, Linda dan Tyas, Pak kepingin bicara sama kalian, boleh? Sebentar saja. Di ruang tamu kantor sebelah saja, ya?” kata Pak Eko mengajak Linda dan Tyas ke kantor.

“Loh, kok malah kami, Pak?” jawab Tyas seolah memprotes.

“Tidak apa-apa, cuman sebentar, kok. Kalau kesiangan, Pak Eko antar pulang, deh!” kata Pak Eko sambil tersenyum.

Jika sudah begitu, pasti anak-anak yang diminta olehnya menurut. Linda dan Tyas pun berjalan menuju ke ruang guru. Anita dan teman-temannya dimintanya pulang ke rumah. Tidak lupa Pak Eko berpesan agar berhati-hati di jalan.

Linda dan Tyas, keduanya saling berpandangan. Mereka mengira akan dimarahi oleh Pak Eko. Mereka teringat kejadian beberapa hari lalu.

“Duduklah, Mbak!” kata Pak Eko kepada kedua anak, teman Anita.

“Menyenangkan tadi belajar PAI-nya?” tanya Pak Eko memecah kekakuan di antara mereka.

“Tidak terlalu, Pak,” jawab Linda tak acuh sambil memandang Tyas. Tyas pun mengangguk mengiyakan.

“Ya, karena suasana belajar kurang menyenangkan. Wajar, sih. Iya, nggak?” tukas Pak Eko.

Kedua anak yang duduk di depan sebelah kiri Pak Eko mengangguk tanda mengiyakan.

“Biasanya Bu Ati heboh ‘kan ngajarnya,” kata Pak Eko. Ia berusaha memancing kedua muridnya.

“Iya sih, Pak. Kalau nggak karena Alia,” jawab Tyas lirih. Ia kelihatan takut kata-katanya terdengar guru lain. Alia adalah cucu salah satu guru di sekolahnya.

“Alia? Ada apa dengan Alia? Maksudmu, ia membuat gaduh begitu?” tanya Pak Eko penuh selidik, juga dengan nada lirih.

Kedua anak perempuan itu saling pandang. Lalu, tanpa dikomando mereka menatap guru kelasnya. Mereka kelihatan ragu ingin mengatakan sesuatu.

Pak Eko menangkap keragu-raguan itu.

“Kalian jangan ragu, cerita saja. Pak Eko janji, rahasia terjamin,” kata Pak Eko meyakinkan,” atau kita ke UKS saja?”

Kedua anak itu pun setuju mereka bercerita di UKS saja ketimbang di ruang tamu.

Sejurus kemudian, mereka pun beranjak ke Ruang UKS.

“Nah, sekarang di sini aman. Kalian boleh bercerita dengan saya, ya?” Pak Eko membuka pembicaraan mereka setelah sampai di ruang UKS. Di sekolah mereka, hanya ruang itu yang tersisa dan letaknya di ujung lokal ruang guru.

“Ini gara-gara Alia, Pak. Alia itu maunya menonjol. Memang Alia pintar, tapi kan nggak gitu juga, Pak.” Kali ini Tyas angkat bicara.

“Maksud Tyas, nggak gitu itu, bagaimana?” tanya Pak Eko dengan mimik serius.

“Alia suka ngamuk, Pak. Kalau ada anak yang nilainya lebih tinggi dari dia, anak itu dimusuhin. Kadang diteror lewat hape,” timpal Linda.

“Hmm, sepertinya kalau dengan Pak tidak seperti itu,” kata Pak Eko sambil mengernyitkan kening.

“Lalu, apa hubungannya dengan Anita yang tadi kalian laporkan menangis?” tanya Pak Eko menyelidik.

“Dia sangat dendam dengan Anita, Pak,” jawab Tyas dengan nada penuh semangat. Ia merasa mendapat angin untuk membuka semuanya.

“O ya, Tyas. Apa yang kamu ketahui? Apakah menangisnya Anita kemarin ada hubungannya dengan peristiwa ini?”

Tyas menggeser sedikit posisi duduknya. Tampaknya ia ingin lebih relaks bercerita kepada Pak Eko.

“Tapi bukan gosip lo, ya? Cerita yang sebenarnya,” kata Pak Eko seakan tahu bahwa Tyas adalah anak yang kadang berlebihan jika menceritakan sesuatu.

Tyas dan Linda bergantian menceritakan bagaimana Alia pada selalu memusuhi teman-temannya yang menyainginya, terutama Anita. Kecuali kepada Vito. Selain laki-laki, Vito memang anak yang paling pintar. Kepintarannya melebihi Alia. Nilai Vito selalu lebih tinggi dari Alia. Selain itu, Vito adalah anak orang kaya di desanya yang pendiam. Rupanya, Alia takut dengan anak yang pendiam.

Sambil mendengarkan kedua murid perempuannya bercerita, angan Pak Eko pun melayang pada beberapa kejadian dalam proses pembelajaran yang dilakukannya sejak pembelajaran tatap muka terbatas dilakukan. Tentang Anita, Alia, dan beberapa anak di kelasnya. Ah, anak-anak kadang unik. Namun, cerita Tyas dan Linda barusan cukup mengagetkan. Kok bisa begitu, kata batin Pak Eko.

Meskipun begitu, mendengar cerita Linda dan Tyas tentang kejadian yang menimpa Anita, guru paruh baya itu lega. Ia pun bersyukur, Anita menangis bukan karena pelecehan atau kekerasan seksual yang diterimanya, melainkan karena dianggap menyaingi Alia. Ada-ada saja.

Musi Rawas, 4 Desember 2021

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

7 thoughts on “Rahasia Anita (Bagian 2)

  • Cerbungnya selesai. Terjawab sudah penasaran saya. Terima kaish, Pak D. Ceritanya OK. Kisah anak praremaja perempuan yang belum pernah saya tahu, apalagi tamui.

  • Waah kirain emang Anita kena pelecehan sek trnyta karena Alia ya..yg ga mau tersaingi. Hehe.twist udah dapet Pak D…

  • “Ssstttt…. Tenang saja, rahasia terjamin. ” Kata Pak Eko.

  • Ah…jadi ingat kejadian waktu sekolah SMP dulu Pak De.
    Pernah mengalami hal serupa tapi nggak sampai diteror apalagi pake HP, soalnya dulu belum ada HP wkwk… Paling cuma nggak di sapa sampai beberapa hari.

  • Kok habis pak..
    Bisa dilanjutkan lagi ini pak, hehe
    Tetep keren..

Comments are closed.