artikel

Sarapan Roti Isi Srikaya

Dokumen Pribadi Susanto

Ini hari kedua berada di ruangan ini. Ruangan berukuran tidak kurang dari 3 x 6 meter. Layaknya kamar hotel karena dilengkapi alat pendingin ruangan. Juga ada televisi dan lemari pendingin atau kulkas. Kulkasnya masih oke. Air minum dalam botol yang kusimpan di dalamnya, mengkristal. Brr … dingin sekali ketika meneguknya. 

Kamar ini pun dilengkapi dengan kamar mandi. Aku tidak perlu berbagi dengan ‘tamu’ lain. Nyaman, bagi yang merdeka. Namun, sangat tidak nyaman bagi yang terbelenggu selang infus pada tangan kirinya, seperti yang dirasakan ‘ibu negara’.

Delapan Desember pagi buta, ia mengeluh badannya lemah tanpa daya. Tidak ada tenaga untuk sekadar duduk di tepi peraduan, apalagi dibawa berjalan. Tidak mengkhawatirkan, andai ia tidak mengadu bahwa sudah BAK tanpa menyadari.

Khawatir sakit sebelumnya terulang, segera aku bawa ke sini lagi, Rumah Sakit Siti Aisyah.

Awal tahun lalu, perempuan yang baru saja merayakan ulang tahunnya kelima puluh tiga mengalami tanda-tanda seperti itu. Akan tetapi lebih menakutkan karena disertai dengan kejang. Bahkan, ketika ditangani di klinik pratama di desaku ia mengalami kejang kedua kali. 

Yang mengenaskan, ketika ia kambuh kedua kalinya aku tidak ada di sampingnya. Aku izin pulang ke rumah mengambil perabotan. Dokter dan perawat mengizinkan karena ibu negara dalam kondisi tidak kelihatan mengkhawatirkan. 

Jarak klinik ke rumah tidak jauh. Tidak lebih dari lima belas menit, pergi ke rumah mengambil beberapa potong pakaian, kain, dan handuk lalu kembali lagi ke klinik. Klinik itu berada satu desa, beda Kadus (Kepala Dusun) saja.

Betapa kaget dan cemas ketika sampai ke kamar ibu negara sudah dikelilingi orang-orang, tidak sadarkan diri. Kami berusaha sekuat hati menyadarkannya. 

Plong hatiku, pun para perawat klinik melihat kelopak mata ibu negara terbuka. Meskipun kesadarannya belum pulih benar, saat itu aku merasa lega sekali.

Aku belum ada niat memberi kabar kepada anak-anakku. Anak pertama hingga ketiga berada di pulau Jawa. Yang sulung, baru saja dinikahkan pada penghujung tahun 2022. Yang kedua di Bandung dan anak ketiga masih di Semarang.

Belum hilang rasa cemasku dan masih berusaha menyadarkannya, tiba-tiba ada panggilan video. 

“Sulung …,” gumamku.

Ragu aku menyentuh tombol penjawab, namun hati kecil menyuruhku untuk menerimanya.

“Ya, Mas!” sapaku sambil mengarahkan kamera depan telepon ke arah ibunya

Si sulung pun ikut menyadarkan ibunya. Lama sang ibu merespon. Ia belum mengenali sang anak.

“Besok aku nyeberang, Yah!” katanya.

Nah, takut hal itu berulang kembali, ketika ibu negara mengalami gejala yang sama, aku segera membawanya ke rumah sakit. 

Agar tidak dimintai rujukan, langsung kubawa ke UGD. Rekam medis sebelumnya kubawa. Benar, tidak ada fa fi fu, langsung ditangani dan diobservasi. 

Ada tawaran, sih, pulang dan diberi obat atau menginap di rumah sakit. Aku memilih tawaran kedua karena jika terjadi apa-apa bakal repot sendiri. 

Akhirnya, pukul sebelas, kami mendapat kamar. Ibu negara ditangani lebih intensif. Hasilnya, ia berangsur membaik. 

Sabtu pagi, setelah menyeka badannya, aku sarapan pagi. Ada roti buatan Toko Maria, roti isi srikaya. Sisa roti kumakan siang. Roti terasa semakin lezat ketika dokter datang memeriksa dan mengatakan, “Ibu boleh pulang nanti, ya!”

Musi Rawas, 9 Desember 2023
PakDSus 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

7 thoughts on “Sarapan Roti Isi Srikaya

  • Florentina Winarti

    Semoga Ibu cepat sembuh ya Pak, cepat sehat dan pulih kembali seperti sebrlum sakit, dan kembali beraktifitas dan bertugas sebagai seorang Ibu negara..amin..

  • N. Mimin Rukmini

    Semoga Ibu Negara cepat sembuh Pak. Cepat sembuh benar, sehat sprt biasa. Aamin Yaa Rabbal Aalamiin
    Bapa juga jaga kesehatan! Sabar, tawakal, semangat!!!

  • Mugi enggal dangan Ibu negara nggih Pak D…
    Barakallah…

  • Semoga ibu lekas sembuh Pak

  • Doa terbaik utk ibu negara

  • Semoga Ibu negara cepat sembuh dan sehat kembali. Salam

  • Alhamdulillah. Ya begitulah saat Allah memberi rezeki berupa kecemasan dan bagaimana kita harus bertindak. Semoga segera pulih dan bisa melaksanakan tugasnya lagi sebagai 8bu negara yang tangguh dan disayang keluarga.

Comments are closed.