Ketika Konsistensi Menulis Nyaris Roboh

Tulisan ini dibuat ketika lembaran-lembaran maya di blog ini, ketika itu, tidak berisi tulisan. Konsistensi yang dibangun agar menulis setiap hari, bila diibaratkan bangunan, nyaris roboh. Semenjak insiden kecil beberapa hari lalu, membuat “ibu negara” melarang saya mendekati “madu”-nya, si laptop mungil.
Insiden kecil yang tidak fatal, namun tak urung membuat dada sebelah kanan atas dan pangkal lengan kanan terasa nyeri. Badan setengah baya ini pun memerlukan paracetamol untuk sekadar menurunkan demam dan sedikit sakit kepala. Pantaslah ibu negara melarangku mendekati “madunya” si lepi setiarini (leptop pemberian anak lelaki yang setiap hari setia menemani).
“Istirahat, tidak ngetik terus!” katanya ketus.
“Iyo.” Aku menjawab dengan kalimat pendek. Satu kata dalam bahasa Jawa maupun bahasa daerah Musi Rawas sama artinya, iya.
Apa daya, memang terasa sakit. Nyeri dan demam sepertinya dua rasa sakit yang saling berpasangan. Setidaknya itu yang saya rasakan. Untunglah, tidak lama. Puji syukur, alhamdulillaah, dua hari kemudian sakit pun hilang. Mestinya sudah bisa mulai menulis kembali. Rupanya, teman-teman meminta agar saya ikut membantu panitia kecamatan memverifikasi berkas administrasi konferensi cabang PGRI. Tidak hanya itu, karena saya juga menjadi pengurus tingkat kabupaten, pada hari “H” bersama perwakilan pengurus lainnya menghadiri pelaksanaan konfercab PGRI di kecamatan tempat saya bekerja, Purwodadi.
Konfercab pada masa pandemi, khususnya pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) harus dilaksanakan dengan sederhana dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Peserta yang hadir pun terbatas tetapi mewakili semua ranting yang ada. Pada hari itu, konfercab pun berjalan lancar dan lewat tengah hari sudah selesai. Rasa lega menyelimuti jiwa, hati pun merasa senang. Niat untuk melanjutkan mengetik pasti kesampaian, demikian kata hati saya berbunga-bunga sepanjang perjalanan pulang.
Setelah istirahat beberapa saat, beberapa grup WA yang sempat “diabaikan” saya buka. Wow, banyak sekali tulisan teman-teman. Para guru hebat peserta lomba PGRI bulan Februari berlomba mengirimkan tautan tulisan. Juga peserta challenge dari AISEI berlomba berkejaran mengirimkan link tulisan. Saya yang sudah sangat ketinggalan merasa cemburu. Cemburu karena saya baru seperempat langkah, mereka sudah melangkah jauh ke depan. Meskipun hati cemburu, saya sempatkan membaca tulisan mereka satu demi satu.
Tiba-tba ada pesan whatsapp dari Bu Kanjeng: Yg sdh diedit Pak D ada brp naskah. Ups! Saya yang sedang magang menjadi penyunting naskah ini lantas teringat. Masih ada beberapa naskah yang belum sempat dikerjakan. Saya pikir masih cukup waktu untuk itu. Akhirnya, dalam waktu dua hari dua malam, sisa naskah antologi yang belum saya sunting, saya selesaikan. Semoga hasilnya tidak mengecewakan.
Salam Blogger Sehat,
PakDSus
Blogger Musi Rawas
#thepowerofkepepet
#pikir15menit
#nulis15menit
#kasihsayang
#12FebAISEIWritingChallenge
_Alhamdulillah_ Pak D sudah sehat. Senang bisa membaca tulisannya lagi.
Makasih Omjay.
Semangat Pak De untuk terus berkarya
Semangat Pak De untuk terus berkarya
Pak Regar, siap. Terima kasih doanya.
Bu Pipit, terima kasih. Alhamdulillaah, sudah pulih. Bisa mengajak si Lepi bercanda lagi.
Semoga lekas sembuh dan sehat kembali Pak D
Selamat aktif menulis kembali, Pak.
Semoga lekas pulih.
Ha ha ha, iya Bu. Ada yang cemburu.
Masih hutang tulisan juga Omjay. Terima kasih, menyemangati.
Wah, inggih ta? Terima kasih Pak Imam.
Bu Hajjah, terima kasih doanya.
Pak Toad, terima kasih supportnya.
Luar biasa pakde susanto
Semoga ga ngalami lg ‘glubrak’ nya Pak. Kasihan si Lepy setyarini dicuekin aja…
Semangat pak D patut menjadi teladan bagi saya pribadi… alhamdulillah sdh sehat kembali pak D. Nembah nuwun menjadi penyemangat kami..
Sehat dan semangat terus Pak D
harus dipaksan nulis e pak, dengan menulis menjadikan selalu sehat. Sehat dan semangat terus gih pak Susanto.