I’i Mos, Ketika Cahayu Mengeja

Hari ini, dua puluh Juni dua ribu dua puluh enam, pukul setengah dua dihubungi via WA oleh petugas loket bus Rafflesia.
“Pukul 2 seharus sudah sampai loket ya, Pak mobil sudah sampai di Kepala Curup.”
Kami pun bergegas. Pukul 2 lewat sedikit kami sampai di loket. Tidak lama kemudian mobil bus pun datang.
“Akung, bus … bus.”
Wajah ceria Cahayu terpancar dan keinginannya untuk segera naik bus menggebu. Kami duduk di kursi penumpang nomor 9 dan 10. Perjalanan 28 jam hingga menyeberang Selat Sundacukup menyenangkan. Cahayu bisa menikmati tanpa banyak drama berarti. Minum susu, makan nasi, dan makan kudapan, cucu saya bisa menikmatinya dengan baik.
Sepanjang perjalanan, sebelum memicingkan mata, Cahayu mengoceh. Bersenandung, mengeja, atau menanyakan simbol-simbol di kaca bus. Saya yakin hanya kami yang paham artinya. Misalnya ia mengucapkan kata imau. Kami tahu itu adalah harimau. Demikian pula inga untuk singa dan ijid untuk masjid. Nanas, obeyi, iyuk, meyon adalah kosa kata buah-buahan yang dikuasainya untuk menyebut nanas, stroberi, jeruk, dan melon. Demikian pula kata sapaan ibu, mamah, ayah, dan akung (panggilan untuk kakek) diucapkan di antara aktivitasnya.
Jam sepuluh malam, Cahayu berhasil tidur. Untuk sementara, kursi kami sepi dari suara bocil berusia dua setengah tahun itu. Keesokan hari, bus bersiap naik kapal. Mata Cahayu berbinar melihat pemandangan yang berbeda dari hari-hari biasa. Kami pun memberi tahu nama kendaraan yang mengapung di air laut, kapal laut.
“Apawaut!” Cahayu menirukan.
Di dalam kapal kami memilih ruang berpendingin udara. Bukan mencari udara sejuk semata, melainkan ruangannya yang cukup lengang. Dengan demikian, Ayu bisa bebas bergerak tanpa saya khawatir dia tergelincir ke tempat berbahaya.
Dari dalam ruangan yang menghadap haluan, Cahayu masih bebas menikmati hamparan laut Selat Sunda dan lalu lalang kapal roro yang sibuk mengantar penumpang dan kendaraan. Celoteh tentang laut dan kapal laut masih leluasa ia lakukan. Karena di rumah ada poster huruf, Ayu suka mengeja, meskipun terdengar asal-asalan. Lagu anak-anak di video tentang belajar A, I, U, E, O rupanya diperhatikan.
Di dalam kapal, kami berdua tidak bisa menahan rawa ketika tanpa sengaja kami mendengar Cahayu mengoceh. A, U, O … i’i mos. Bukan hanya sekali. Tanpa tahu diperhatikan ia mengeja kembali.
“A, be, u, … i’i mos!”
Cahayu terkejut dengan bunyi ketawa kami. Akhirnya, ia pun ikut tertawa terbahak-bahak. Ingatan kami kembali ke rumah ketika ia mengeja kata yang sama. Pengasuhnya pernah mengajari Ayu nama tokoh kartun pada bajunya, Mickey Mouse.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Beberapa jam lagi perjalanan akan berakhi. Saya dan cahayu mendekat ke jendela memandang Pelabuhan Merak yang samar mulai kelihatan. Setelah berlabuh, Cahayu akan segera berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya. Sambil memeluk, diam-diam saya juga membayangkan rumah kami yang kembali sunyi. Tidak ada lagi suara kecil yang mengeja huruf seenaknya. Tidak ada lagi “apawaut” atau “i’i mos” yang menghiasi ruang sunyi rumah kami.
Jakarta, 21 Juni 2026