bahasa

Wayang Umbul di Kelas Pak Eko

Wayang Umbul Mainan Anak-anak (Gambar: lazada.co.id)

Bel tanda masuk berbunyi. Anak-anak masuk ke kelas masing-masing. Pelajaran jam keempat segera dimulai. Ada yang mengeluh karena ia belum lama beristirahat. Anak-anak kelas enam masuk ke kelas, tidak ada satu pun tersisa di luar. Namun, di dalam kelas, mereka masih bermain wayang.

“Plak!”

Bunyi dua telapak tangan beradu. Soleh dan Abim melakukan gerakan seperti dua pemain voli yang baru saja mencetak poin. Namun, ada sesuatu yang terselip di antara kedua tangan mereka. Wayang! Ya, lembaran karton bergambar berukuran tiga setengah kali lima sentimeter melayang ke lantai kelas.

“Ulang!” seru Soleh ketiga kedua benda yang melayang gambarnya menghadap ke atas.

Kedua anak itu pun kembali bermain. Suara riuh rendah terdengar di ruang kelas yang dekat dengan dapur sekolah itu.

“Assalaamu’alaikum!” Guru kelas mereka sudah berdiri di depan pintu.

“Wa’alaikum salaam!” Anak-anak serentak menjawab. Soleh dan Abim buru-buru beranjak ke tempat duduknya. Mainan wayang yang masih tercecer dibiarkannya tertinggal di lantai.

“Soleh, ambil itu!” perintah Pak Eko. Guru kelas enam paruh baya itu meminta Soleh untuk mengambil mainannya. Murid-murid yang lain terlihat menyimpan mainan yang sedang ramai di sekolah mereka. Ada pula yang menyembunyikan mainan wayang mereka di balik baju.

Ekor mata Pak Eko menangkap semua pemandangan di kelasnya. Tidak satu pun anak di kelasnya telihat siap menerima pelajaran pada jam keempat setelah mereka beristirahat pada jam istirahat pertama. Ia ingat keluhan beberapa guru di ruang guru bahwa anak-anak tidak lagi fokus gara-gara mainan wayang. Bahkan Bu Rina sampai merampas wayang dari tangan murid-muridnya.

“Kalau dibiarkan, mereka makin tak terkendali,” ujar Bu Rina kemarin. “Saya sudah mengumpulkan satu kaleng biskuit penuh dari tangan murid. Bukannya belajar malah main gambar dan bertaruh.”

Melihat murid-muridnya tergopoh-gopoh menyimpan mainan yang sedang tren di sekolahnya, Pak Eko hanya menghela napas. Ia tidak tega merampas barang yang jelas dibeli dari uang jajan yang diberi oleh orang tuanya. Tapi, hari itu ia pun merasakan kegusaran yang sama.

“Apa yang harus kulakukan? Mengambil paksa, atau ….?” Pak eko bergumam dalam hati.

Ia berdiri diam beberapa detik, mengamati mereka. Tiba-tiba ….

“Anak-anak, tolong jawab yang jujur, siapa di kelas kita hari ini yang tidak menyimpan wayang?”

Anak-anak saling pandang. Soleh mengangkat tangan dan menunjukkan jari telunjuk.

“Saya punya, Pak!”

“Saya juga, Pak!” Anak-anak menunjukkan jari. Hanya tiga orang yang tidak memiliki mainan wayang hari itu.

“Seharusnya, saya merampas mainan yang kalian mainkan pada jam belajar. Namun, saya butuh janji kalian. Jika kalian masih memainkan mainan wayang bukan pada jam istirahat, kalian harus mengumpulkan di meja saya. Bagaimana?”

“Setuju, Pak!” jawab Indra sambil tersenyum. Anak-anak yang lain pun riuh mengucap kata ‘setuju’.

“Baik, sekarang keluarkan gambar wayang yang kalian miliki, lalu hitung! Setelah kalian hitung, kumpulkan di meja saya, jam pulang nanti saya kembalikan. Nayla, tolong catat banyak wayang teman-temanmu!” perintah Pak Eko.

Anak-anak menuruti perintah guru kelasnya. Setelah anak-anak mencatatkan banyak wayang yang dimiliki kepada Nayla di meja guru, sang guru pun memerintahkan untuk mengatur meja dan kursi agar ruang tengah kelas kosong sehingga leluasa digunakan untuk bermain.

“Kita mau main apa, Pak? Bukankah jam sekarang pelajaran Matematika?” tanya Elisa.

“Tunggu saja,” jawab Pak Eko sambil tersenyum.

“Anak-anak, kita buat kelompok. Tiap kelompok beranggotakan lima orang. Lalu, perwakilan kelompok mengambil mainan wayang di meja saya sebanyak seratus lembar. Jangan berebut, silakan!”

Mata anak-anak berbinar. Setiap kelompok menuju meja guru untuk mengambil wayang yang sudah tercampur.

“Tidak usah hirau, biarkan bercampur-campur. Ambil wayang mana saja asal jumlahnya seratus.” Lalu, sang guru pun melanjutkan.

“Setiap kelompok, silakan membuat persegi panjang dengan berbagai ukuran dari gambar wayang yang kamu miliki!”

Semua bekerja sambil tertawa, mencoba lebih cepat dari kelompok sebelahnya. Pak Eko berdiri mematung sejenak, merasakan dadanya yang hangat melihat anak-anak memainkan mainan wayang mereka tapi bukan untuk bertaruh judi.

“Pak, sudah! Pak, sudah!” Riuh anak-anak melaporkan hasil pekerjaannya.

“Baik, perhatikan persegi panjang yang dibuat oleh kelompok Nayla. Lihat baris paling atas. Ada berapa gambar wayang yang terpasang?”

Anak-anak menjawab, “Sepuluh, Pak!

“Baik, berapa banyak gambar wayang pada deretan paling kiri?” tanya Pak Eko.

“Enam, Pak!” jawab Soleh diiyakan teman-temannya.

“Nah, sekarang hitung banyak gambar wayang yang membentuk persegi panjang itu!” perintah sang guru lagi.

Anak-anak sibuk menghitung. Pak Guru pun memerintahkan hal yang sama pada kelompok lainnya.

“Lapor, Pak! Persegi panjang kami, baris paling atas terdiri dari delapan buah wayang. Deret paling kiri terdiri dari lima buah wayang. Banyak wayang yang membentuk persegi panjang semuanya empat puluh!” ucap Dika mewakili kelompoknya.

“Nah, anak-anak, banyaknya wayang yang membentuk persgi panjang dinamakan luas. Banyak wayang pada baris paling atas disebut panjang, sedangkan deret paling kiri merupakan lebar persegi panjang. Hayo, siapa bisa menghubungkan antara panjang, lebar, dan luas atau banyaknya wayang yang membentuk persegi panjang?” Pak Eko menjelaskan dan menutupnya dengan pertanyaan.

Sang guru meminta Nayla memegang spidol dan menuliskan apa yang dijelaskan. Anak-anak pun memperhatikan dengan saksama.

“Yuk, sekarang praktikkan! Nayla, tulis di papan tulis: panjang sebelas, lebar sembilan, luas sama dengan titik-titik.

Anak-anak pun mempraktikkan dengan menyusun gambar wayang menjadi persegi panjang dengan ukuran yang ditulis Nayla di papan tulis.

Alih-alih menuliskan sendiri ukuran persegi panjang, Pak Eko meminta anak-anak menuliskan ukuran dan teman-temannya mempraktikkan. Tanpa terasa, bel istirahat kedua berbunyi.

“Tumben, anak-anak kelas Pak Eko sepi, nggak ada yang main wayang?” goda Bu Rina. “Jangan-jangan Pak Eko sudah berhasil merampas wayang anak-anak?”

Pak Eko tersenyum kecil sambil mengambil gelas teh manisnya. “Iya, tuh wayangnya ngumpul di meja. Tapi, tidak saya rampas. Saya pakai untuk belajar.”

Bu Rina mendengus tajam. “Ah, mengajar itu tidak harus ikut permainan anak-anak, Pak. Mereka harus ditertibkan. Kalau semua guru seperti Pak Eko, sekolah kita bisa kacau.”

Guru paruh baya itu terlihat menahan kata-kata yang nyaris keluar. Namun, dia memilih diam.

Seminggu kemudian, data hasil formatif matematika keluar. Nilainya … naik. Bahkan, anak yang biasanya paling lambat berhitung pun kini mampu menjawab soal dengan lancar. Bahkan siswa yang selalu takut salah mulai percaya diri.

“Anak-anak kelas enam sepertinya berubah pesat,” komentar Bu Lilis, wali kelas empat. “Matematika mereka lumayan bagus. Bahkan, dulu ketika kelas empat, banyak anak yang takut dengan Matematika. Apa rahasianya, nih, Pak Eko?”

Pak Eko tersenyum. Ia menepuk kaleng kecil berisi wayang karton di mejanya.

“Wayang rampasan?” tanya Bu Lilis.

“Bukan, saya meminjam. Kalau sudah selesai akan saya kembalikan,” jawab Pak Eko.

Pak Eko tidak hanya mengajarkan luas bangun datar dengan bantuan mainan wayang umbul murid-muridnya. Ia juga mengajarkan perkalian, pembagian, konsep penjumlahan bilangan bulat menggunakan alat bantu yang banyak dimusuhi rekan-rekannya.

“Luar biasa, Pak Eko,” ujar Bu Sri Rejeki, seusai melakukan observasi pembelajaran yang dilakukan Pak eko. Pengawas sekolah itu mendengar kabar bahwa guru tersebut memanfaatkan gambar wayang sebagai alat bantu mengajar matematika.

“Saya sudah keliling banyak sekolah, baru kali ini melihat pembelajaran matematika yang begitu hidup seperti ini. Bolehkah Bapak berbagi praktik baik dalam Workshop Pembelajaran Mendalam minggu depan?”

Pak Eko tertegun. “Saya? Narasumber? Saya tidak pandai digital, Bu.”

“Tidak apa-apa. Media yang Bapak gunakan adalah mainan yang biasa dimainkan anak-anak. Alih-alih digunakan untuk bertaruh, Bapak gunakan untuk membantu memahami materi matematika. Bapak jelaskan, nanti guru-guru muda yang paham digital membuatnya menjadi konten. Guru yang baik bukan yang paling paham digital, melainkan mereka yang paling kreatif,” kata Bu Jeki, pangilan akrab Ibu Sri Rejeki.

Hari itu, ketika Pak Eko berdiri di depan para guru peserta workshop. Mata tuanya menatap ratusan wajah yang menunggunya berbicara. Di sampingnya, kaleng kecil berisi wayang karton yang ia beli dari warung tetangga. Wayang milik anak-anak, sesuai janjinya, ia kembalikan dengan kesepakatan bahwa anak-anak tidak memainkannya di sekolah.

“Teman-teman,” ucapnya pelan namun tegas, “Anak-anak tidak kekurangan minat belajar. Mereka hanya kekurangan alasan untuk jatuh cinta pada pelajaran. Tugas kita bukan memaksa, tetapi menemukan pintu yang tepat. Nah, saya menemukannya pada potongan-potongan kecil ini.” Eko, guru paruh baya itu, mengangkat beberapa wayang ukuran 3,5 X 5 cm.

Musi Rawas, 7 Januari 2025
Salam Guru Pembelajar,

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.