Amanda Merajuk

“Ayo, Kek! Kita pulang!” ajak Amanda kepada sang kakek.
Kakek melirik kepada Nenek. Nenek menganggukkan kepala. Setelah menyeruput sisa kopinya, kakek pun bergegas menuju ke tempat parkir. Ketiga orang itu pun berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka ke rumah.
“Nek, Amanda duduk depan, ya,” pinta sang cucu. Kakek pun memasangkan sabuk pengaman pada tubuh kecil cucunya.
“Iya, Lukisannya kau pegang sendiri atau Nenek yang pegang?” ujar sang nenek.
“Nenek aja,” jawab Amanda sambil membetulkan letak duduknya.
Mobil melaju pelan menyusuri jalanan kota. Amanda yang duduk di kursi depan sesekali mengintip ke belakang, memastikan lukisan putri ungu kesayangannya masih ada di sana. Nenek yang duduk di belakangnya tersenyum. Wajahnya terlihat sedikit lelah mendampingi sang cucu berjalan cukup lama di alun-alun.
Tiba-tiba mobil berguncang keras.
“Duh!” Sang kakek memutar setirnya ke kiri. “Lubangnya dalam sekali.”
Nenek refleks menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Tanpa disadari, jari tangan kanannya menekan sesuatu yang keras namun rapuh. Terdengar bunyi krek pelan, hampir tidak terdengar karena tertutup suara mesin mobil.
Nenek terdiam sejenak. Jantungnya berdetak lebih cepat. Perlahan ia melirik tas plastik yang berada di samping kanan tubuhnya.
“Aduh, kanvas lukisan Amanda pecah,” batin sang Nenek cemas.
Sesampainya di rumah, Amanda langsung berlari masuk.
“Mamaaa!” teriaknya riang. “Amanda mau nunjukin lukisan!”
Ia membuka tas plastik berisi lukisan. Namun, senyumnya seketika lenyap.
Kanvas styrofoam itu retak. Tidak hanya retak. Kanvas itu patah menjadi beberapa bagian. Garis-garisnya membelah wajah sang putri ungu, memutus gaunnya yang mengembang, dan memisahkan mahkota oranye dari kepalanya.
Wajah Amanda memerah. Bibirnya bergetar.
“Hancur!” teriaknya nyaring. Tangannya gemetar saat memegang potongan lukisan itu. “Lukisanku hancur!”
Tangisnya pecah. Amanda duduk bersimpuh sambil meraung.
Mama dan Ayah segera mendekat. Nenek berdiri kaku di ambang pintu. Di wajahnya tergambar raut penyesalan.
“Mengapa mobil bergoyang hingga aku mematahkan lukisan Amanda?” batin sang Nenek.
Kakek pun terdiam. Ia tidak menyangka, wajah gembira Amanda tiba-tiba berubah dengan kekecewaan.
“Amanda, sayang,” bujuk Mama sambil berlutut, “Besok kita ke alun-alun lagi, ya?”
Amanda menggeleng keras. “Tidak mau. Aku maunya sekarang. Aku mau melukis lagi!”
“Besok saja, Sayang. Hari ini sudah gelap. Jauh juga ke sana,” kata ayah Amanda, “Atau kita nanti beli es krim dulu?”
“Tidak mau!” tangis Amanda makin keras. Ia berdiri, menarik tangan Mama, lalu menunjuk ke arah luar. “Sekarang!”
Namun, azan maghrib berkumandang. Langit benar-benar mulai gelap.
Mendengar suara azan, Amanda akhirnya berhenti menangis. Akan tetapi, wajahnya mengeras. Ia duduk membelakangi semua orang. Amanda memeluk lutut dan tidak mau bicara sepatah kata pun.
Di sudut ruangan, Kakek memungut potongan-potongan styrofoam dengan hati-hati. Nenek ikut berjongkok di sampingnya. Tangannya bergetar saat menyentuh retakan itu.
“Aku yang merusakkannya,” bisik Nenek lirih.
“Ketika aku tidak bisa menghindari lubang jalan?” tanya Kakek sambil berbisik. Nenek hanya mengangguk pelan.
Tanpa banyak bicara, kedua orang tua itu mulai menyatukan potongan-potongan lukisan. Perlahan dan sangat hari-hati. Kakek menyiapkan lem super dan selotip, sementara Nenek menahan bagian yang retak agar menyatu dengan rapi.
Malam itu terasa sunyi. Isak tangis kecil Amanda sesekali masih terdengar.
“Beres, lukisan Amanda kembali tersambung,” gumam sang Nenek.
Lukisan itu tidak kembali utuh seperti semula. Retakan masih terlihat jelas. Namun, putri ungu itu terlihat utuh. Wajahnya menyatu, gaunnya kembali berbentuk. Mahkota sang puteri pun menempel meski ada celah karena sulit tersambung. Nenek mendekati Amanda. Ia berlutut agar sejajar dengan cucu kesayangannya.
“Amanda,” ucapnya pelan, “Maafkan Nenek.”
Amanda diam.
“Nenek salah. Nenek yang ceroboh tidak bisa menjaga lukisan Amanda. Sekarang … Nenek mau belajar.”
Amanda perlahan menoleh. “Belajar apa?” tanyanya pelan.
“Nenek belajar bertanggung jawab dengan memperbaiki lukisanmu. Ini!”
Nenek menggeser lukisan itu ke depan Amanda. Amanda menatap lukisan itu lama sekali. Matanya mengikuti garis-garis retakan.
“Putrinya punya garis-garis,” gumamnya.
Mama tersenyum lega. “Mari, Mama bantu pasang di kamarmu!”
Amanda berdiri. Ibu dan anak berjalan menuju kamar Amanda.
“Nah, kalau masih ingin melukis, malam Minggu depan kita bisa ke alun-alun lagi,” kata sang Mama sambil mengusap rambut putri sulungnya.***
Musi Rawas, 26 Januari 2026
PakDSus
