Puteri Ungu Amanda

Alun-Alun Kota terlihat begitu meriah. Sinar matahari yang mulai meredup menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan. Amanda, gadis kecil berusia empat tahun dengan rambut tergerai, berjalan riang sambil menggandeng tangan sang Nenek. Langkahnya terhenti saat mata indahnya menangkap deretan kanvas di sebuah stan bernama “Anak Melukis”.
Banyak anak seusianya hingga yang lebih besar tampak asyik memoleskan aneka warna. Amanda menunjuk sebuah kanvas yang menampilkan sketsa seorang puteri cantik dengan gaun yang mengembang indah.
“Nenek, Amanda mau mewarnai princess itu,” pintanya dengan mata berbinar.
Nenek pun membayar tiket, Amanda segera duduk di kursi kecilnya. Ia pun asyik memulas styrofoam bergambar seorang puteri dengan bermacam warna.
Nenek Amanda memperhatikan dari belakang sambil sesekali tersenyum. Namun, senyum itu perlahan berubah menjadi kerutan di dahi saat melihat cara Amanda memilih warna. Amanda memulas seluruh wajah dan tangan puteri itu dengan warna ungu tua. Si Nenek terkejut. Ia merasa janggal dengan warna pilihan cucunya.
Amanda tidak peduli dengan sekeliling, ia asyik mengambil kuas lain dan mewarnai rambut sang puteri dengan warna hijau terang seperti rumput. Terakhir, gadis kecil itu menggambar lingkaran-lingkaran besar berwarna cokelat di atas gaun indah sang puteri hingga terlihat seperti sedang mengenakan kostum yang sangat aneh.
Nenek membungkuk, berbisik pelan di dekat telinga Amanda. “Sayang, bukankah wajah puteri biasanya tidak berwarna ungu? Rambutnya … kenapa hijau, Amanda? Nanti puterinya jadi seperti raksasa hutan,” ujar Nenek mencoba memberikan arahan yang logis.
Amanda sama sekali tidak terganggu. Ia tetap mengayunkan kuasnya dengan mantap. Sekarang ia memberikan sentuhan warna oranye pada mahkota sang puteri. Tanpa menoleh, ia menjawab dengan nada yang sangat santai.
“Kan lagi belajar.”
Kalimat pendek itu seketika membungkam teguran sang Nenek. Nenek terdiam, memandangi wajah cucunya yang tampak begitu bahagia tanpa beban. Perempuan paruh baya itu baru menyadari bahwa bagi Amanda, belajar melukis itu bukan meniru yang ada di dunia nyata. Baginya, melukis itu, ya, memoles setiap bagian dengan warna yang ia suka.
Nenek akhirnya tertawa kecil dan mengusap pundak cucunya.
“O, iya. Nenek lupa. Amanda kan masih belajar. Tapi, lukisan Amanda terlihat bagus, kok. Sudah selesai? Yuk, bawa pulang dan tunjukkan pada Mama,” puji sang Nenek kepada cucu pertamanya.
Amanda tersenyum lebar. “Iya, Nek, dikiiiit lagi,” ucapnya.
Setelah selesai, mereka melapor kepada penunggu stan. Bapak penunggu stan pun memberikan tas plastik besar untuk membawa kanvas bergambar puteri cantik. Nenek berjalan sambil membawa kanvas di belakang Amanda berjalan riang sambil melompat-lompat. Mereka menuju ke arah kakek yang menunggunya di kedai kopi.
Musi Rawas, 21 Januari 2026
PakDSus
