bahasa

Momo “Mani”, Akung!

Momo monyet kecil Ayu
Momo mandi (Gambar: Dok Pribadi)

Hari-hari bersama seorang gadis kecil berusia 2 tahun 8 bulan memang penuh warna. Ada saja cerita yang membuat kami tertawa.

Kadang menggelikan, sesekali membuat kesal, bahkan tidak jarang membuat kami mengurut dada. Begitulah, kami belajar memahami cara seorang anak memandang dunia.

Dulu, ketika membesarkan anak-anak kami sendiri, banyak hal kami jalani begitu saja. Kini, ketika menemani cucu berusia dua tahun delapan bulan yang tinggal bersama, kami merasa sedang belajar kembali. Belajar memahami dunia dari sudut pandang seorang anak.

Baca Juga: Topeng Ayu dari Buah Naga

Logika anak seusia Ayu tentu berbeda dengan logika orang dewasa. Ia belum mampu membedakan mana yang boleh dan mana yang belum boleh dilakukan.

Yang ia tahu, apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya adalah sesuatu yang menarik untuk ditiru dan dilakukan. Ayu sedang berada pada masa itu.

Oleh karena itu, betapa kaget Uti melihat Ayu basah kuyup dan tangannya memegang piring serta sabut cuci penuh buih sabun.

Demikian pula ketika Akung menyikat sepatu, pada kesempatan lain ia gunakan sikat hitam itu untuk membersihkan aneka perabot.

Baca Juga: Bantal yang Meledak

Petang itu, waktunya mandi tiba. Mungkin Ayu merasa bukan hanya dirinya yang harus mandi. Sahabat kecilnya pun harus ikut dimandikan. Sahabat kecil itu bernama Momo.

Boneka monyet berukuran sebesar lengannya itu selalu dibawa ke mana-mana. Kadang dipeluk saat tidur, diajak bermain, atau meminta Akung menggendong di punggung.

“Akung, idong bakang!” katanya. Akung diminta mengendong (idong) belakang (bakang) seperti dirinya.

Momo, boneka monyet kiriman mamahnya, baginya bukan sekadar boneka. Momo adalah teman bermain, bahkan mungkin dianggap seperti anak kecil yang harus dirawat.

Baca Juga: Kung… Kung… Akung!

Sore itu, ketika kami lengah, Ayu mengambil segelas air. Tanpa ragu, ia mencelupkan tubuh Momo ke dalam gelas. Sambil tersenyum bangga, ia memanggil saya.

“Momo mani, Akung. Mani, Akung!”

Saya spontan menoleh. Ternyata Momo sudah setengah basah.

“Kenapa Momo dicelupkan ke dalam gelas?” tanya saya agak kaget.

Baru beberapa detik kemudian saya menyadari bahwa maksudnya Momo mandi. Namun, secara spontan saya menganggapnya kekeliruan. Akan tetapi, sesungguhnya Ayu hanya sedang meniru kebiasaan Uti dan Akung yang setiap hari memandikannya.

Baca Juga: Belum Juga Satu Jam

Mungkin karena mendengar nada suara saya berubah, Ayu merasa ada yang salah dengan perbuatannya. Gelas itu pun diserahkannya kepada saya tetapi kemudian Ayu membalikkan badan, memeluk boneka monyet kesayangannya, lalu berlari sekencang-kencangnya. Barangkali ia mengira Akung akan mengambil Momo.

Saya pun tertawa melihat tingkahnya. Ia berlari ke sana kemari sambil terus memeluk Momo yang tubuhnya masih basah kuyup. Sayangnya, pelariannya berakhir di dekat tas sekolah yang resletingnya sedang terbuka.

Melihat tubuh Momo yang meneteskan air, Uti bergerak cepat. Boneka itu segera disambar agar airnya tidak menetes ke dalam tas dan membasahi buku-buku. Mudah ditebak, Ayu langsung menangis.

Baginya, mungkin bukan Momo yang diselamatkan Momo sedang direbut. Tangisnya pecah. Matanya mencari-cari saya. Begitu pandangan kami bertemu, saya mengangguk pelan.

Baca Juga: I’i Mos, Ketika Cahayu Mengeja

Tanpa berpikir panjang, ia berlari menghampiri saya. “Cup… sini, sayang. Peluk Akung.”

Ia langsung menyusup ke dalam pelukan saya.

“Nah, Momo sudah mandi. Sekarang giliran Ayu yang mandi. Yuk, kita mandi.”

Saya mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Tangisnya perlahan reda. Beberapa detik kemudian, suara tangis itu berubah menjadi tawa yang lepas. Saya ajak dia ke kamar mandi. Tiba-tiba ia berteriak, “Awas jiduk… awas jiduk!”

Saya sempat berpikir keras. Apa maksudnya “jiduk”? Lalu saya tersenyum sendiri. Rupanya yang dimaksud Ayu adalah kejedot.

Ia mengingatkan saya agar berhati-hati saat mengangkat tubuhnya melewati kusen pintu. Jangan sampai kepalanya terbentur. Kini gantian saya yang tertawa.

Baca Juga: Belajar Berbahasa dari Sebuah Paket untuk Ayu

Di tengah keterbatasan kosakata yang masih dimilikinya, Ayu ternyata sudah mampu menyampaikan maksudnya dengan sangat jelas. Ia mungkin belum mampu mengucapkan semua kata dengan sempurna, tetapi pikirannya bekerja sangat baik.

Sore itu kami kembali belajar bahwa anak-anak bukanlah peniru yang asal meniru. Mereka mengamati, menyimpan, lalu mempraktikkan apa yang mereka lihat setiap hari.

Jika orang dewasa merawat mereka dengan kasih sayang, mereka pun akan belajar merawat. Jika mereka dimandikan setiap hari, mereka akan merasa Momo juga perlu dimandikan.

Pada sore itu, guru kami ternyata bukan buku ataupun pengalaman, melainkan seorang gadis kecil yang merasa boneka monyet kesayangannya juga berhak mandi sebelum petang.***

Musi Rawas, 29072027

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.