Bau Melati

Melati itu bunga yang baunya menakutkan. Setiap kali aku berjalan di malam gelap dan mencium bau melati, pasti hatiku berdebar. Aku merasa ada seseorang yang tidak kasat mata mengawasi.
Seperti malam ini. Aku terpaksa berjalan kaki ke rumah Neng Aam. Seperti biasa, sebagai pemuda aku ikut bersama anggota Karang Taruna membantu rekan yang sedang hajatan.
Neng Aam, sahabat sekaligus tetanggaku akan menikah. Kami bergotong royong merias panggung dan pelaminan. Berbagai bentuk hiasan janur dipasang. Tidak lupa bunga-bunga segar dan buah-buahan. Bunga melati perlambang kesucian tidak ketinggalan. Baunya harum, kata teman-teman perempuan.
Tanpa kuketahui, Yusni mengambil segenggam. Ia memasukkan ke kantong baju batikku yang berlengan panjang. Ya, aku pemuda lajang yang berpenampilan dewasa. Suka berkemeja batik seperti Pak Indra, guru SD yang dua tahun lagi pensiun.
“Manto tu, paling takut bau melati, loh!” kata Yusni tiba-tiba.
Aku terkejut. Andai ada cermin untuk berkaca, barangkali wajahku merah merona. Menahan malu.
“Ah, siapa bilang? Melati itu ‘kan bunga suci,” timpalku beralasan.
Padahal dalam hati mulai merayap rasa takut. Degup jatungku pun mulai tidak beraturan.
“Hmm … Neng, kayaknya hari udah agak larut. Aku pulang dulu, yah!” kataku kepada calon pengantin perempuan.
“O, iya. Makasih ya, Tok. Yus, kamu nggak nemenin Manto pulang, tuh?” ledek Aam.
“Huh, bisa diculik nggak diantar pulang nanti, Neng! Hati-hati ya, Tok. Lewat bawah pohon randu di ujung jalan suka ada bau aneh-aneh,” kata Yusni dengan mimik serius, menakutiku.
“Hey, aku lelaki, Yus. Enak, aja!” kataku membela diri.
Aku pun segera melangkah pulang. Rumah-rumah para tetangga yang kulewati sudah banyak yang tutup pintunya. Kulihat jam di tangan.
“Pantas, sudah jam setengah dua belas,”gumamku dalam hati.
Melewati rumah Haji Cipto, langkah kupercepat. Tidak ada lagi rumah menuju pertigaan jalan. Apalagi sesudahnya ada pekarangan. Di sana berdiri tegak pohon kapuk randu tua seperti dikatakan Yusni tadi.
Benar saja, mendekati pohon randu, bau melati mulai tercium. Lama-lama semakin menyengat. Lampu jalan di depan rumah Haji Cipto sudah tidak mampu lagi menerangi jalan di pekarangan ini.
“Dug … dug … dug …,” jantungku berirama cepat berdegub.
Hidungku kembang kepis. Dadaku naik turun. Terbayang hal yang aneh-aneh. Apalagi bau bunga melati semakin tajam.
Ingin rasanya berlari. Tetapi rasa malu sebagai lelaki yang dua tahun lagi kepengin berbini menahan keinginan itu. Apalagi jalan bebatuan pasti akan menimbulkan bunyi kemeratak. Jika didengar Yusni, bisa habis kejantananku di mata gadis tomboy itu.
“Ya, Allah. Kuatkan hamba. Jauhkan aku dari hantu,” doaku lirih.
Bau melati semakin kuat ketika badanku tepat di bawah pohon kapuk randu tua itu. Badanku gemetar. Perasaan takut menjadi-jadi. Persetan dengan kejantanan. Aku harus lari hingga ke pertigaan jalan.
“Ada apa, Tok?” tanya Mang Ujang penjual batagor ketika kami berpapasan.
“Oh, Mang Ujang. Gak papa, Mang!” sambil menghentikan langkahku malu-malu kujawab pertanyaan Mang Ujang. Napasku yang masih tersengal kutahan.
Dua ratus meter lagi aku sampai rumah. Yang mengherankan, bau melati semain semerbak. Namun, perasaan takut mulai surut.
Sampai di rumah, aku berganti baju. Ketika baju batik itu kulepas, tiba-tiba berhamburan bunga melati dari kantong sebelah kanan.
Ingatanku ku pun kembali ke atas panggung.
“Kampret, ini pasti kelakuan, Yusni. Awas, ya!” kataku geram.
Aku hanya nyengir kuda mengingat perjalanan ke rumah malam ini.
“Huh, ternyata hanya bau. Tidak ada hubungannya dengan hantu.”
PakDSus
blogsusanto.com
Saya kira mau nyaingi Ratu Horor…..
Terimakasih, artikel yang bagus. Semoga netizen memperoleh ilmu yang berguna.
Ada aku di tokoh protagonis heheheh
Keren pak De
Luar biasa… Bisa2 kelepek-kelepek…
Awas Pak D di pertigaan dekat pohon randu hiii..
Waaw..dag dig dug juga nih bcanya..keren pak..
Kelaminannya sudah saya ganti ya.
Mantap Pak D..KARYA2 PAK D SEMAKIN MENGGIGIT.. KEREEENN
Jos tenan,
Tapi nggak boleh loh merias kelamin an,
Trus apa yang boleh …
Pelaminan pak D. Kereen. Mendadak cerpen. Mantap..
Mantap. Semakin memukau…