
Belajar Diksi dari Tulisan Teman

Kata “Diksi” pasti sudah sangat akrab di telinga kita. Saya sendiri menggunakan kata itu untuk sebagai judul Majalah Dinding, ketika praktik menulis pada waktu belajar di bangku sekolah. Kata itu pun saya jadikan judul blog dengan domain my.id, satu di antara tiga blog yang saya miliki. Lalu, diksi sebenarnya apa? Apakah diksi hanya bermakna pilihan kata?
Yang lazim kita pahami, diksi adalah istilah bagi pilihan kata. Kata-kata yang dipilih untuk menyampaikan sebuah pesan yang ingin diungkapkan seorang penulis. Kamus pun menjelaskan bahwa diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan (KBBI). Namun, apakah diksi hanya sebatas pilihan kata saja?
Penerbit Deepublish melansir bahwa diksi tidak hanya terbatas pada hal itu saja (pilihan kata), akan tetapi diksi pun merupakan upaya pengungkapan gagasan atau menceritakan peristiwa. Oleh karena itu, diksi akan berkaitan dengan gaya bahasa dan ungkapan-ungkapan. Dengan demikian, penulisan karya fiksi akan menggunakan kata yang berbeda dengan penulisan laporan, misalnya.
Pilihan kata yang tepat, selaras, dan lazim akan membuat nyaman pembaca dan membantu mereka memahami apa yang diungkapkan penulis. Tidak menimbulkan tafsiran ganda. Sehingga, pesan penulis tersampaikan dengan baik. Seorang penyair menggunakan diksi agar karyanya memiliki makna puitis tertentu. Makna puitis memiliki nilai estetik dan memunculkan daya imajinasi pada pembaca.
Kepiawaian seseorang dalam memilih diksi yang tepat sangat dipengaruhi oleh seberapa kaya seseorang akan kosa kata dan penguasaan makna kata. Makna kata berdasarkan nilai rasa terdapat makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotatif atau makna sebenarnya adalah makna kata yang objektif tanpa membawa perasaan tertentu. Kata panjang pada kalimat “Leher jerapah panjang” memiliki makna yang sebenarnya. Bandingkan dengan kalimat “Ia terkenal sebagai anak yang panjang tangan”. Makna yang terkandung pada kata panjang tangan adalah makna konotatif atau makna kias karena memiliki nilai rasa tertentu.
Penguasaan diksi seseorang juga dipengaruhi seberapa kaya akan makna leksikal dan gramatikal sebuah kata. Makna leksikal adalah makna kata sebagaimana terdapat dalam kamus, sedangkan makna gramatikal muncul setelah dihubungkan dengan kalimat. Hal ini berkaitan dengan gaya bahasa.
Duh, kok jadi berteori kayak belajar bahasa di bangku sekolah, sih? Nah, biar tidak berteori dan langsung praktik, saya ingin belajar memilih kata dari tulisan teman yang kekayaannya akan kosa kata mumpuni, terutama pada prosa fiksi. Contoh yang saya kutip berasal dari blog, buku, atau tulisan pada kolom chat grup WA yang saya ikuti. Tidak ada tujuan lain selain belajar mandiri. Jika Anda memetik manfaat, itu hal lain yang saya harapkan.
Mengganti kata dengan sinonim
Buku kecil berwarna ungu ini, terdiri dari 126 halaman.
Buku mungil berwarna kesayanganku ini, terdiri dari 126 halaman. (Percakapan di grup WA)
Nilai rasa yang timbul jadi lain ‘kan?
Menggunakan Gaya Bahasa
Saya, yang miskin kosa kata akan menulis, “Di malam yang gelap, bunyi hujan di atap rumah terus terdengar”.
Orang yang memiliki kekayaan diksi akan menulis:
Di keremangan malam, bunyi hujan terdengar tak lelah mencumbu atap rumah.
Demikian pula saya yang lugu menulis, “Malam itu mereka tertawa bersama”.
Bandingkan diksinya dengan kalimat:
Tawa pun pecah menembus kelam malam.
Kesan puitis yang menguatkan imajinasi. Betul, tidak?
(https://eigendomo.com/pahlawan-bahasa-menulis-dari-hati/)
Demikian pula contoh berikut.
Kalimat tanpa gaya bahasa, seperti:
Malam itu terasa dingin. Langit gelap tanpa cahaya bulan. Hatiku gelisah dan sepi.
Di tangan penulis yang kaya akan diksi dan memiliki nilai rasa yang tinggi akan ditulis:
Malam yang dingin diiringi gemerisik suara hujan, menjadikan langit seperti tak berdaya untuk memetik cahaya bulan. Kelam dan gelisah hati seperti dikendarai rasa sepi.
(Buku Episode 1 Januari 2020 dalam kenangan, @maydearly89 – sedikit disesuaikan)
Setiap penulis, sebagaimana manusia dalam kehidupan ini, memiliki “kekayaan” yang berbeda-beda. Kekayaan diksi dan keterampilan memainkan gaya bahasa berpengaruh pada hasil tulisan.
Lalu, jika belum memiliki diksi yang apik lantas menjadi ragu untuk menulis? Tidak perlu! Apa pun gaya bahasa Anda, menulislah tanpa takut ragu. Namun demikian, belajar diksi dari teman atau penulis kawakan melalui memperbanyak kegiatan membaca tentu hal yang dianjurkan karena berdampak pada keapikan karya.
Selamat menulis. Saya sering mendengar bahwa setiap tulisan akan menemui takdirnya. Setiap tulisan memiliki pembacanya sendiri.
Musi Rawas, 01 Januari 2022
Lebih baik menjadi diri sendiri, meskipun belajar dari orang lain untuk memperkaya ilmu adalah satu hal yang bijaksana.
Diksi yang melebar dan menyempit adalah gaya seseorang mengungkapkan pemikirannya. Menjadi diri sendiri tak ada salahnya ya pak.
Terima kasih semua yang sudah berkunjung.
Luar biasa tulisannya pak D …
Terima kasih udah berbagi
Terima kasih ilmunya, Pak D.
Kirain cuma kata aja. Hehe.. btw..mana buku ungu Pak D?
Luar biasa… Ingat jaman sekolah kalau ttg diksi, sukses…