bahasa

Arju si Jago Tembak (Cerpen Anak)

Kebanyakan anak suka bermain kelereng. Bentuknya yang bulat bening dengan hiasan pada bagian dalam, membuat kelereng sangat menarik. Bentuk kelereng ternyata bermacam-macam. Pun cara membidik, juga cara menembak, ternyata bermacam-macam. Demikian pula dengan peraturan permainan. Peraturan bermain kelereng dapat dibuat sendiri oleh para pemain. Berikut ini cerpen anak tentang keterampilan anak bermain kelereng atau bermain gundu.

Gambar tangkapan layar di WA Grup AISEI Writing Online 2

Arju si Jago Tembak

Arju sangat suka bermain kelereng. Selain bermain, ia juga senang mengoleksi berbagai macam kelereng. Koleksi kelereng di rumahnya lumayan banyak dan bermacam-macam. Setiap jenis ia kelompokkan dan dimasukkan pada wadah berbeda.

Kelereng rakyat atau kelereng biasa adalah koleksinya yang paling banyak. Kelereng ini berwarna bening dengan hiasan bentuk lengkung pada bagian dalam. Warna merah, kuning, dan biru merupakan warna yang umumnya berpadu dalam kelereng rakyat. Arju sangat senang jika ia menemukan kelereng dengan hiasan kombinasi hitam. Pasti kelereng itu dijadikan Arju sebagai gaco.  

Kelereng koleksi Arju lainnya adalah kelereng susu, kelereng kristal, kelereng mata kucing, dan kelereng berlian. Arju jarang memainkan keempat jenis kelereng ini bersama teman-temannya. Sayang, katanya.

Selain lima jenis kelereng yang menjadi koleksi Arju, ia masih memiliki koleksi kelereng besar dan kecil. Kelereng besar bentuknya dua kali lipat kelereng biasa. Kelereng kecil pun demikian, bentuknya bisa tiga kali lebih kecil dibandingkan kelereng pada umumnya.

Arju sering berlatih membidik kelereng. Ia berlatih membidik kelereng di halaman belakang rumahnya. Seperti hari ini, ia menjajarkan sepuluh buah kelereng biasa dengan jarak masing-masing lima jari. Lalu, ia mengambil jarak sekitar setengah meter, dan menembak kelereng itu satu demi satu. Kadang ia menembak dengan teknik lengser, kadang menembak dengan teknik tembakan timpa.

Arju bersiap-siap menembak kelereng dengan teknik lengser. Kelereng gaco ia tembakkan dengan cara bergulir di atas tanah dan menghantam sasaran. Demikian ia lakukan berulang-ulang.

Kadang, medan bermain kelereng tanahnya tidak rata, bergelombang atau berlubang-lubang. Oleh karena itu, Arju berlatih menembak dengan teknik timpa. Arju menembak kelereng sasaran dengan gaco secara langsung tanpa menyusuri tanah.

“Tak!” terdengar bunyi kelereng yang terkena tembakan Arju.

***

Mendapat Teman Baru

“Ar … ju …, Ar … ju …!” terdengan suara seseorang memanggil nama Arju.

Mendengar seseorang memanggil namanya, Arju menghentikan permainannya. Ia bergegas menuju ke depan rumah.

“Boy, sama siapa kau?” tanya Arju begitu bertemu Arlan. Arju sering memanggil Arlan dengan sebutan “boy” karena nama awal mereka sama.

“Ini, kenalin sepupu aku, Dencik. Dia anak Palembang. Liburan ini pamanku berlibur ke rumah,” jelas Arlan.

Arju pun mengajak Dencik bersalaman.

“Panggil saja, Cik,” kata Dencik mengenalkan diri.

“O, ya. Kalian suka bermain kelereng? Jika suka, yuk bermain kelereng di belakang rumah!” ajak Arju.

Kedua anak itu pun menganggukkan kepala. Mereka pun bergegas mengikuti Arju menuju halaman belakang rumah Arju. Kedua teman Arju terheran-heran melihat banyaknya kelereng milik Arju.

“Banyak banget kelerengmu, Ju!” kata Dencik penuh kagum.

Arju hanya tersenyum mendengar perkataan Dencik.

“Kita latihan menembak atau langsung bermain?” tawar Arju kepada Arlan dan teman barunya.

“Main langsung aja, biar seru. Benar nggak, Cik?” jawab Arlan sambil meminta persetujuan sepupunya.

“Aku nurut bae,” jawab Dencik dengan logat Palembangnya.

“Nah, kalian aku pinjami modal, masing-masing enam buah kelereng. Satu untuk gaco, lima lainnya untuk dimainkan,” kata Arju sambil membagikan kelereng kepada kedua temannya.

“Nah, kita bikin segiempat, lalu lima kelereng kita kumpulkan. Setiap sudut kita pasang satu, sisanya kita kumpulkan di tengah. Yang kita tembak dulu adalah kelereng pada sudut. Jika gaco mengenai kelereng dan kelereng itu keluar dari kotak segiempat, maka kelereng itu menjadi milik penembak, paham?” jelas Arju.

“Setelah pemain bisa membidik kelereng pada sudut, kita boleh menembak yang mana saja. Kita juga boleh menembak gaco lawan. Jika gaco lawan terkena tembakan, ia mati dan tidak ikut bermain. Jika gaco lawan lainnya kita matikan, semua kelereng menjadi milik pemenang.”

Bermain Kelereng

Setelah menetapkan aturan permainan, ketiga anak itu pun mulai bermain. Mereka membuat segiempat dan memasang 15 kelerang taruhan di sana. Setelah itu, mereka mengambil jarak sekitar enam meter lalu melemparkan gaco mendekati kotak segiempat. Gaco dengan jarak terdekat dengan kotak segiempat bermain lebih dahulu.

“Aduh, gacoku terkena batu, jadi jauh deh!” teriak Arlan.

“Cik, kamu main dulu, gaco milikmu yang paling dekat,” kata Arju.

Dencik pun mulai menembak. Ia menembak tidak dengan dua tangan. Dencik hanya menggunakan satu tangan. Ia menggunakan teknik sentilan jempol.

Gambar: jadipaham.com

Dari tempat kelerengnya berhenti, Dencik membidik satu kelereng yang berada di sudut terdekat.

Tembakannya meleset. Gaco milik Dencik mengenai kelereng yang berkumpul di tengah kotak.

“Rapikan lagi, tembakan Dencik tidak sah!” kata Arju.

“Iya, tidak kena kelereng yang ada di sudut. Giliranmu, Ju! Gacoku paling jauh gara-gara batu tadi,” kata Arlan.

“Oke, Boy!”

Arju pun menembak kelereng yang berada di sudut segiempat.

“Tak!”

Gaco Arju tepat mengenai sasaran. Ia pun berhak mendapat kelereng itu dan melanjutkan tembakan. Tembakan kedua masih menyasar kelereng yang masih tersisa di sudut lainnya. Kali ini meleset.

“Ayo, Boy! Sekarang giliranmu!”

Posisi gaco Arlan cukup jauh. Ketika gaco dibidikkan, tenaganya tidak cukup kuat. Gaco Arlan hanya menyentuh garis dan berhenti di tengah segiempat.

“Aduh …,” keluh Arlan sambil menepuk jidat.

Dencik pun mengambil posisi di tempat gaco kelerengnya berhenti. Dari sana ia membidik kelereng di sudut kanan.

“Wus …!” Kelereng gaco Dencik melesat dan ….

“Tak!” terdengar suara dua kelereng beradu.

“Dencik! Kenapa kau membunuhku?” teriak Arlan begitu tahu kelereng Dencik bukannya mengenai kelereng taruhan, tetapi mengenai kelerengnya.

“Ha ha ha ha …,” Arju tertawa terbaha-bahak.

“Nasibmu, Boy. Minggir, ambil gacomu. Kami sekarang yang bermain. Ternyata, Dencik bukan lawan yang remeh. Meskipun ia membidik dengan ibu jari kanan, bidikannya cukup akurat. Dencik sudah mengantongi lima dari lima belas kelereng taruhan.

Arju si Jago Tembak

Sekarang giliran Arju bermain. Setelah tiga kali menembak, pada tembakan keempat tembakan Dencik melenceng. Arju membidik dengan teknik sentilan pegang. Jari tengah kanan menjadi jari pembidik, lalu ibu jari kiri dan telunjuk memegang gaco. Arju mengambl ancang-ancang dan membidik kelereng taruhan dengan teknik tembakan timpa.

Gambar: jadipaham.com

Kelereng gaco Arju melesat dengan kencang. Tas, tas! Terdengar bunyi kelereng beradu berulang. Ada empat kelereng keluar dari kotak. Setelah kelereng taruhan itu diambil, Arju kembali membidik. Kali ini ia langsung membidik sekelompok kelereng yang masih berada di tengah kotak.

“Tas!” Dengan mudah Arju menemba sekelompok kelereng itu. Lima kereng yang ada di dalam kotak melesat keluar tiga buah. Ketiga kelereng itu menjadi milik Arju.

Pucuk dicinta ulam tiba. Akibat pantulan dengan kelereng taruhan, gaco Arju mengelinding mendekati gaco Dencik.

“Ha ha ha. Mati kau, Cik!” tiba-tiba Arlan tertawa kegirangan melihat gaco Arju posisinya sangat dekat dengan gaco Dencik.

Dencik tersenyum kecut. Gaconya sebentar lagi dibidik Arju, game over.

“Arju …, ajak temanmu makan! Ibu masak bubur kacang hijau, nih!” tiba-tiba terdengar suara ibu Arju dari dalam rumah. Suara ibu sangat jelas karena halaman belakang tempat mereka bermain persis di belakang dapur.

Arju tidak jadi membidik gaco Dencik. Ia pun mengajak teman-temannya menuruti ajakan sang ibu.

“Makan aja, yuk! Kapan-kapan kita main lagi. Boy, bantu aku beresin kelereng, dong!”

Mereka pun segera membereskan kelereng dan mencucinya di bawah kran. Setelah itu, mereka mencuci tangan dan menikmati bubur kacang hijau buatan ibu Arju.

Sumber gambar: https://jadipaham.com/teknik-menembak-dalam-permainan-kelereng/

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

4 thoughts on “Arju si Jago Tembak (Cerpen Anak)

  • Thanks for your help and for writing this post. It’s been great.

  • Waah asiknya bermain kelereng juga nahan bhbur yang di masak ibu. Alhamdulilah

  • Sudah ikut tegang dengan kelereng Dencik yang bakal kena tembakan Arju, eeehhhhh malah disuruh makan burjo sama Ibu.

Comments are closed.