Bocah Ng-Gombong “Bali” NgGombong

Ada rasa bahagia yang sulit disembunyikan ketika Anis, pangilan kesayangan untuk Rahmanisa Nur Hodayati, anak perempuan kedua kami, mendapat panggilan mengikuti tes dan wawancara sebagai calon tenaga pengajar di SMA Muhammadiyah Gombong, khususnya untuk Kelas Internasional.
Sekolah swasta amal usaha PCM Muhammadiyah itu, sebagaimana kabar yang saya dengar, memiliki beberapa layanan: kelas reguler, internasional, pondok, dan kelas prestasi. Sebuah ruang pengabdian yang tidak kecil.
Bagi lulusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Semarang yang setahun terakhir belum memperoleh kesempatan bekerja sesuai bidangnya, panggilan itu tentu menghadirkan harapan. Namun, ketika mendapat panggilan, ia terlihat ragu. Keraguan itu dibayang-bayangi kekhawatiran kedua orang tuanya tidak menyetujui. Gadis kelahiran Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, itu lalu mengontak ayahnya
Sebagai ayah yang kelahiran desa Gombong Kebumen, tentu saja mengiyakan dan memberinya semangat.
“Segera berkemas. Naik bus. Penuhi panggilan ladang pengabdian di bidang pendidikan sesuai jurusan yang telah kau tekuni.”
Seharian penuh, sejak pagi hingga menjelang petang, ia mengikuti rangkaian tes dan wawancara. Kabar baik pun datang. Ia diterima. Senin berikutnya sudah diperkenankan mulai bekerja.
Pada minggu kedua masa kerjanya, ia memberi kabar bahwa akan ada serah terima jabatan Kepala Sekolah. Tanpa banyak cerita, ia menyampaikan bahwa dirinya dipercaya menjadi MC dalam perhelatan tersebut.
Saya hanya tersenyum membayangkan. Anak yang baru saja diterima bekerja, sudah diberi kepercayaan memandu acara resmi.
Tidak ada dokumentasi yang ia kirimkan kepada keluarga di Sumatera. Hingga akhirnya, saya menemukan unggahan Instagram akun @pcmgombong_. Di sana tertulis:
Alhamdulillah telah terlaksana kegiatan Serah Terima Jabatan Kepala SMA Muhammadiyah Gombong, dari:
🔹 Heri Pramono, S.Pd. (Periode 2023–2026)
kepada
🔹 Ika Fitriana, S.Pd. (Periode 2026–2030)
Lebih dari lima puluh akun menyukai unggahan itu, tetapi belum ada satu pun komentar. Sebagai seorang ayah yang sedang menahan bangga, saya pun menuliskan:
Alhamdulillaah, baru diterima menjadi tenaga pengajar di SMA Muhammadiyah Gombong sudah dipercaya menjadi MC. Bocah NgGombong “bali” ngGombong.
Ungkapan itu saya tulis bukan tanpa alasan.
Saya adalah putra kelahiran Desa Gombong. Orang tua saya tinggal bertetangga RT dengan sekolah swasta ternama tersebut. Sekolah dasar tempat saya belajar dulu, SD Negeri Srampadan, tepat berseberangan jalan. Gedungnya masih ada hingga kini, meskipun telah beralih fungsi dan SD tersebut bertranformasi menjadi SD Negeri 5 Gombong. Dua adik saya, Sumartini dan Riyadi Yulisetyo, pun alumni sekolah itu.
Maka ketika anak saya kini menapakkan kaki di tanah yang sama, ada rasa seperti lingkaran yang kembali utuh. Seolah ada garis tak kasatmata yang mempertemukan generasi.
Bocah NgGombong, begitu saya menyebut nama desa saya, yang dulu merantau ke Sumatera karena SK mengajar, kini “bali” NgGombong, kembali ke desanya melalui sang anak.
Semoga ia betah, terus mengembangkan diri, dan kelak menjadi guru yang berprestasi, yang tidak hanya mengajar, tetapi mendidik.
Karena menjadi guru bukan sekadar profesi. Ia adalah jalan sunyi yang dikenal langit.
Musi Rawas, 23 Februari 2026
Salam Guru Pembelajar
PakDSus
