artikel

Belajar Berbahasa dari Sebuah Paket untuk Ayu

Isi Paket Ayu (Gambar: Dok. PakDSus)

Seminggu yang lalu, kurir TIKI mengantar sebuah paket ke rumah. Uti yang menerima paket itu. Tak lama kemudian, Uti bersama cucu kami, Cahayu, membuka kardus yang dililit rapat plastik bening dan stiker perusahaan jasa pengiriman.

Begitu kardus terbuka, tampak beberapa barang di dalamnya. Ada sikat gigi kecil bergambar singa, dua pasang sepatu, dan beberapa bungkus seblak instan.

“Patu… patu…!” seru Ayu sambil menunjuk isi kardus dengan mata berbinar.

“Iya, ini sepatu dari Mamah,” jawab Uti.

Mendengar penjelasan itu, Ayu segera mengambil salah satu pasang sepatu. Ia memeluknya sejenak, lalu berusaha memakainya sendiri. Setelah berhasil, ia berdiri, melangkah beberapa langkah, lalu melompat-lompat kecil dengan wajah penuh kegembiraan.

Baca Juga: Topeng Ayu dari Buah Naga

Ayu terus berjalan mondar-mandir memakai sepatu barunya. Sesekali ia berhenti, memandang kedua kakinya, lalu tersenyum sendiri. Seolah-olah ia baru saja memperoleh benda paling berharga di dunia.

Peristiwa sederhana itu kembali mengingatkan kami bahwa perkembangan bahasa anak sering kali berlangsung melalui momen yang tampak biasa. Setiap benda yang dilihat, disentuh, dan digunakan menjadi pintu masuk bagi lahirnya kosakata baru.

Belakangan ini kami merasakan perbendaharaan kata Ayu berkembang cukup pesat. Kata-kata yang dahulu hanya berupa bunyi sederhana kini mulai mendekati pengucapan yang sebenarnya, meskipun belum sempurna.

Sepatu masih diucapkannya menjadi “patu”. Pusar atau udel disebutnya “isat”. Ketika melihat foto ayahnya, ia berkata, “Ayah Badus”, padahal yang dimaksud “Ayah Bagus”. Nama mamanya terdengar menjadi “Mamah Asya”. Bahkan, Bandung, kota tempat kedua orang tuanya tinggal, masih diucapkannya “Badung”.

Bagi orang dewasa, pengucapan seperti itu mungkin terdengar lucu. Namun, bagi seorang anak, itulah bagian dari proses belajar berbahasa. Lidahnya sedang belajar menghasilkan berbagai bunyi, sementara otaknya membangun hubungan antara kata, benda, orang, dan pengalaman yang ditemuinya setiap hari.

Karena itulah kami berusaha memanfaatkan banyak kesempatan untuk mengajaknya bercakap-cakap, bernyanyi, atau sekadar menyebut nama benda di sekitarnya.

Baca Juga: Bantal yang Meledak

Ketika melihat foto ayahnya yang tergantung di dinding, kami pun mengajaknya berbincang.

“Ayu, ini siapa?”

“Ayah.”

“Ayah siapa? Ayah Ba …”

“Dus,” sambung Ayu.

Coba ucapkan, “Ayah Bagus!”

“Ayah Badus,” jawabnya mantap.

“Kalau mama namanya siapa?” tanya Uti.

Ayu tampak berpikir sejenak.

“Mama Asha. Siapa?” Uti kembali memberi contoh.

“Asya,” jawab Ayu pelan sambil tersenyum malu.

Sedikit demi sedikit ia mulai menirukan pengucapan yang benar. Kami tidak pernah terburu-buru membetulkan ucapannya. Kami hanya mengulang kata yang benar secara alami agar ia mendengar contoh yang tepat tanpa merasa disalahkan.

Belakangan Ayu juga gemar bermain petak umpet. Yang lucu, ia sendiri yang mengawali permainan.

“Ayu, … Ayu, … mana Ayu?” katanya sambil berlari bersembunyi di sela dinding dan lemari.

“Ini!” teriaknya sambil menangkupkan kedua tangan di dada.

Ia yang bertanya, ia pula yang menjawab. Tingkah polos itu selalu membuat kami tertawa.

Kami juga mulai mengenalkan tempat tinggal kedua orang tuanya.

“Ayah sama Mamah tinggal di mana? Ayah sama Mamah di… Bandung.”

Tanpa berpikir lama Ayu menjawab penuh semangat, “Badung!”

Baca Juga: Kung Kung Akung

Kami hanya saling tersenyum. Tidak perlu terburu-buru mengoreksinya. Yang lebih penting, ia mulai memahami bahwa ayah, mamah, dan Bandung merupakan bagian dari satu cerita yang saling terhubung dalam ingatannya.

Kami percaya, setiap kata yang diucapkan Ayu hari ini adalah pijakan menuju kemampuan berbahasa yang lebih baik pada hari-hari berikutnya. Tugas kami bukan menuntut kesempurnaan pengucapan, melainkan menghadirkan lingkungan yang kaya percakapan, penuh kesabaran, dan dipenuhi kasih sayang.

Mungkin kelak Ayu tak lagi ingat pernah berkata “patu”, “Badus”, atau “Badung”. Suatu hari nanti ia akan mengucapkan semua kata itu dengan sempurna. Namun justru karena itulah kami menuliskannya sekarang. Sebab masa ketika sebuah sepatu disebut “patu” hanya datang sekali dalam kehidupan seorang anak, lalu berlalu tanpa pernah kembali.

Tugumulyo, 27 Juli 2026

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.