Esai Telly D. tentang Keberanian Menulis yang Menjadi Cermin Diri

Di dalam grup menulis RVL (Rumah Virus Literasi) setiap angota bebas menuliskan apa saja: puisi, pantun, esai, cerpen, cermin, pentigraf, dan sebagainya.
Salah satu pembina grup tersebut, Dr. Daswatia Atuti dengan nama pena Telly D. kerap menulis esai yang reflektif yang menambah wawasan para penulis lainnya.
Satu orang yang dianggapnya sebagai guru menulis, Dr. Much. Khoiri banyak mewarnai perjalan menulisnya. Komentar sekecil apa pun dari sang ‘suhu’ yang dipanggilnya ‘Abah’ menjadi hal besar yang menjadi perhatian Telly D. Satu di antara tulisan Telly D. adalah sebagai berikut.
Ketika Tulisan Menjadi Cermin Diri
Telly D.
Ada masa ketika saya menulis hanya untuk menyenangkan orang lain. Saya menimbang setiap kalimat seperti pedagang menimbang barang: apakah cukup menarik? Apakah enak dibaca? Saya takut tulisan saya membosankan. Takut terlihat lemah. Takut orang membaca dan menilai, “Ah, cuma begitu saja.”
Sampai suatu hari, saya mengirim tulisan pendek kepada guru saya melalui WhatsApp. Tulisan tentang kesedihan yang lama saya simpan: kehilangan, penyesalan, dan rasa bersalah yang tidak selesai. Saya menulis tanpa niat apa pun, hanya ingin melepaskan beban yang menumpuk di dada. Setelah saya kirim, saya menyesal. Saya pikir tulisan itu terlalu pribadi.
Beberapa menit kemudian, pesan balasan muncul.
“Mbakyu” tulisnya, “kadang tulisan yang paling jujur memang terasa polos. Tapi justru di situlah kekuatannya.”
Saya terdiam.
“Abah,” balas saya pelan, “saya takut orang membaca luka saya dan menganggap saya lemah.”
“Tulisan tidak membuat lemah,” jawabnya. “Tulisan membuat Mbakyu jujur. Dan kejujuran, justru itu yang paling kuat. Tulisan bukan topeng, ia cermin. Saat Mbakyu berani menatapnya, Mbakyu sedang berani berdamai dengan diri sendiri.”
Kata-kata itu seperti menyalakan sesuatu dalam diri saya. Saya membuka kembali tulisan-tulisan lama saya, yang dulu saya anggap gagal: kalimat yang kaku, ide yang tak selesai, emosi yang meluap tanpa arah. Tapi kini saya melihatnya dengan cara lain. Setiap tulisan itu ternyata adalah jejak perasaan yang pernah saya rasakan tanda bahwa saya pernah berjuang, pernah terluka, pernah berusaha sembuh.
Saya mulai memahami, menulis bukanlah bagaimaa menguasai bahasa, tetapi bagaimana menata jiwa. Setiap kata yang kita pilih sebenarnya adalah upaya memahami diri. Dalam setiap tanda baca, ada jeda untuk bernapas; dalam setiap paragraf, ada ruang untuk menenangkan hati.
Guru saya pernah berkata,
“Mbakyu, menulis itu seperti bercermin setiap hari. Kadang kita tak suka dengan apa yang kita lihat, tapi jika terus menatap, perlahan Mbakyu akan belajar menerima wajah sendiri.”
Saya mengingat kalimat itu lama sekali. Menulis, rupanya, bukan sekadar menciptakan sesuatu di luar diri, tetapi menemukan sesuatu di dalam diri. Ketika saya menulis tentang ketakutan, saya sedang mengenali bayangan saya sendiri. Ketika saya menulis tentang harapan, saya sedang menyalakan cahaya kecil di dalam gelap.
Dalam salah satu percakapan kami, saya pernah bertanya,
“Abah, bagaimana kalau yang saya tulis terlalu pribadi? Bagaimana kalau orang menilai saya aneh?”
Ia menulis:
“Justru karena pribadi, tulisan Mbakyu punya napas. Orang membaca bukan untuk mengagumi, tapi untuk menemukan diri mereka sendiri di dalam kata-katamu. Jika Mbakyu jujur, Mbakyu tidak sedang menulis tentang diri sendiri saja, tapi tentang manusia.”
Kata-kata itu mengubah cara saya memandang menulis. Saya mulai menulis tanpa berpura-pura kuat. Saya menulis seperti berbicara kepada diri sendiri yang sedang butuh pelukan. Kadang tulisan saya penuh air mata, kadang hanya sepenggal kalimat tanpa akhir. Tapi setiap kali saya menulis, ada bagian dari diri saya yang sembuh.
Suatu malam, ketika saya menulis tentang kehilangan anak saya sesuatu yang dulu tak sanggup saya tuliskan saya merasa dunia seakan berhenti sejenak. Kata demi kata mengalir, dan di setiap kalimat saya mendengar suara hati saya yang dulu diam. Ketika tulisan itu selesai, bukan kesedihan yang saya rasakan, melainkan kelegaan. Seolah saya telah berbicara dengan seseorang yang saya rindukan selama ini: diri saya sendiri.
Saya menulis kepada guru saya,
“Abah, saya baru sadar… menulis ternyata juga bisa menjadi doa.”
Balasannya datang cepat:
“Benar, Mbakyu. Tulisan adalah bentuk doa yang memakai kata-kata duniawi, tapi ditujukan pada sesuatu yang lebih tinggi pemahaman, penerimaan, dan damai. Saat Mbakyu menulis dengan hati, Mbakyu sedang berdoa dengan pena.”
Sejak itu, saya tidak lagi menulis dengan takut. Saya tidak lagi berpikir apakah tulisan saya indah atau tidak. Saya hanya ingin jujur. Setiap kali saya menulis, saya seolah duduk di depan cermin: menatap luka, memeluknya, lalu berkata pelan, “Terima kasih, kamu sudah berjuang sejauh ini.”
Kini saya tahu, tulisan bukan hanya catatan perjalanan pikiran, tapi juga perjalanan jiwa. Ia mencatat perubahan yang tak kasat mata dari ragu menjadi yakin, dari luka menjadi pengampunan, dari diam menjadi keberanian untuk bersuara.
Guru saya benar. Tulisan bukan hanya milik mereka yang pandai merangkai kata, tapi juga milik mereka yang berani menatap diri sendiri apa adanya. Sebab, sebelum tulisan menyentuh orang lain, ia terlebih dahulu menyembuhkan penulisnya sendiri.
Dan mungkin, itulah keajaiban menulis yang paling sunyi ketika pena menjadi cermin, dan kata-kata menjadi jalan pulang.
Makassar, 2025
Ctt: beberapa dialog disesuaikan tanpa kehilangan makna.