artikel

Guru Berwibawa, Apa Saja Cirinya?

Ilustrasi Guru yang Berwibawa (Max Fischer: https://www.pexels.com/)

Guru, sebagai fasilitatro di kelas, ia juga seorang pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang pemimpin, ia harus berwibawa. Guru harus berwibawa karena ia akan menggerakkan para siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

Apa saja yang harus dilakukan agar guru berwibawa? Berikut rangkumannya.

Guru Menguasai Konten Pembelajaran
Guru menguasai konten/materi menjadi penting, bahkan sangat penting. Betapa tidak. Murid tidak akan melihat gelar, rupa, status sosial gurunya, akan tetapi bagaimana sang guru dapat memfasilitasi pembelajaran yang menyenangkan dan menantang.

Mengapa harus menantang? Murid lebih senang, lebih semangat jika guru memfasilitasi anak mencari tahu sesuai dengan gaya belajarnya. Murid diberi tahu, misalnya dengan ceramah, dapat dipastikan murid bisa konsentrasi 20 menit, selebihnya ngantuk, boring, dan membosankan.

Jika guru menguasai konten, guru lebih rileks, tidak grogi, emosi stabil. Sebaliknya, jika tidak menguasai materi bisanya gurunya emosional, sensi, marah-marah, minta diperhatikan, banyak aturan ketat, murid tertekan dan tidak nyaman. Guru yang menguasai materi dapat memikirkan pembelajaran yang variatif, bisa humoris, sabar mengelola kelas.

Guru Wajib Mengusai Kelas
Seorang guru perlu menguasai kelas dengan efektif. Bilamana guru dapat menguasai kelas? Dapat menguasai kelas bila Classroom management nya berjalan efektif. Classroom management berjalan efektif bila guru dapat menguasai berbagai: multi pendekatan pembelajaran, multi model, multi metode, multi teknik, multi media, multi talenta, dan multi-multi yang lain.

Jika guru tidak memiliki kompetensi multi-multi di atas, dapat dipastikan pembelajarannya monoton, satu arah, dan membosankan. Jika mulai salam – sampai wasalam, strateginya ngomong doang, dapat dipastikan para murid cepat bosan dan murid mulai aneh-aneh. Murid yang pintar biasanya aneh-aneh oleh gurunya dianggap anak bandel, anak nakal, dan seterusnya. Padahal anak yang aneh-aneh, dianggap bandel. Padahal murid yang dianggap nakal dapat dipastikan IQ-nya tinggi. Seringkali anak yang dianggap bandel, nakal, aneh-aneh memiliki masa depan banyak yang sukses. Tidak sedikit yang menjadi pemimpin di masyarakat.

Guru Dekat dengan Murid
Guru dekat murid menjadi urgent, penting sekali. Tidak sedikit guru yang jaim (jaga image) berjarak dengan murid akhirnya jauh dari murid. Ada juga yang takut akrab, takut dekat dengan alasan takut tidak berwibawa, wibawanya hilang. Takut jika makin akrab, takut tidak dihormati, dan takut tidak disegani.

Pandangan tersebut membuat jarak makin lebar. Jika berjarak lebar, anak takut dekat, takut konsultasi jika ada masalah, takut bertanya, apalagi mau menyampaikan keluhan maupun kesulitan. Di sisi lain, anak pank lebih dekat dengan temannya, lebih menghargai, lebih menghormati, lebih toleran. Pada akhirnya anak berkesimpulan, teman pank lebih mengerti dirinya, bisa menerima apa adanya. Walhasil komunitas anak pank sekarang lebih menjamur.

Pertanyaannya, masihkah perlu guru menjaga jarak? Guru lebih dekat dengan murid itu lebih baik. Pada hakikatnya guru adalah orang tua di sekolah. Sosok guru adalah teman belajar, bermain, dan berdiskusi di sekolah. Guru menjadi tempat konsultasi, curhat yang setia membersamai murid berkembang sesuai kodrat alam dan kodrat zaman.

Guru Bersikap Ramah terhadap Murid
Mengapa guru perlu ramah murid? Guru bukanlah pengajar melainkan juga pendidik dan teladan bagi muridnya. Kesopanan guru pada murid, kesantunan guru pada murid, dan keramahan guru pada murid menjadi faktor sukses.

Guru yang sopan, santun, dan ramah dapat dipastikan disenangi murid. Murid merasa dihargai. Guru yang sopan, santun, dan ramah dapat dipastikan tutur bahasanya juga sopan, santun, dan ramah. Murid merasa lebih aman, nyaman bila dekat guru yang demikian. Tidak sedikit murid yang merasa telah menemukan orang tua , sahabat, dan kawan bernain di sekolah.

Guru Bersikap Ikhlas
Kata ikhlas tampaknya sederhana, tetapi maknanya sangat luas dan dalam. Kata ikhlas menjadi kunci sukses hidup di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya jika tidak ikhlas akan rusak semuanya. Kata ikhlas harus berada di semua sendi kehidupan, baik urusan dunia dan akhirat.

Guru yang ikhlas biasanya rela mengorbankan waktunya, tenaganya, pikirannya, kesenangannya, bahkan hartanya untuk pembelajaran, untuk kesuksesan muridnya. Guru ikhlas biasanya mampu mengontrol emosinya, sabar menghadapi murid yang beragam, sabar bersakit-sakit demi kesuksesan muridnya.

Murid bersyukur jika memiliki guru yang dekat, sabar, dan ikhlas. Mereka selalu mendoakan yang terbaik untuk gurunya. Murid tak segan juga membantu gurunya jika diperlukan. Murid merasa dekat dengan malaikat hatinya.

Guru yang Kehadirannya Dirindukan Siswa
Kelima ciri-ciri guru berwibawa di atas menjadi sebab guru selalu dirindukan kehadirannya. Murid melihat guru yang dirindukan secara spontan dalam hati maupun lisannya terucap, “Alhamdulillah barakallah” pak guruku, bu guruku datang.

Sebaliknya guru yang tidak dirindukan datang, secara spontan tetucap, “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” lho kok datang lagi. Sebenarnya banyak faktor mengapa ada guru tidak dirindukan kehadirannya oleh murid. Bisa jadi gurunya: pemarah, banyak tugas, ngajarnya monoton tidak menarik, sering membuili, dan tidak siap mengajar.

Semoga kapan pun, dimana pun, bagaimanapun selalu menjadi guru yang dirindukan. Aamiiin.

Salam dan Bahagia
PakDSus

dari: Tulisan Dr. Marzuki di WA Grup RVL (Gresik, 16 Juli 2023)

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

7 thoughts on “Guru Berwibawa, Apa Saja Cirinya?

  • ah — saya kadang berwibawa kadang biasa saja

  • Sangat tepat sekali,terima kasih Pk D

  • Mengajar dg hati ikhlas dan bahagia..in sya Allah kita dan anak2 merasakannya

  • Terima kasih atas Ilmunya Pk D’ semoga bisa diamalkan

Comments are closed.