artikel

Hadiah Buku dari Sang Suhu (Bagian Satu)

Halaman Sampul Dalam “Becoming a Creative Writer”

Musi Rawas, 2 Juni 2025

Upacara memperingati Hari Lahir Pancasila, baru saja selesai dilaksanakan. Saya berjalan masuk ke ruang guru. Anak-anak kelas enam membantu guru piket membereskan peralatan upacara.

Hari ini saya bersyukur, langit biru berhias awan disinari mentari yang memancarkan kehangatan membuat upacara tadi berlangsung aman, tertib, dan lancar. Tidak ada satu pun anak-anak dari kelas satu hingga kelas enam yang pingsan atau merasa sakit.

Saya duduk bersender di kursi belakang meja kerjaku, lalu meraih ponsel. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor yang kukenal muncul di layar: “Kak, paketnya aku titip di tempat Latip. depan rumah.”

“Alhamdulillaah, paket dari Suhu sudah datang.” Saya membatin.

Pulang sekolah, buku yang dimaksud sang kurir pun diantar Mamak Latip. Setelah membuka pintu, paket segera kufoto, cekrek! Lalu kutulis pantun dan kukirimkan ke grup sebagai tanda bahwa paket hadiah sudah datang ke pangkuan.

Ikan bersantan kesukaanku,
Ikan bersisik tulangnya keras,
Jauh juga perjalanan buku,
Dari ngGresik hingga Andalas.

Malam harinya, paket kubuka. Saya tidak mau membuka buku hadiah itu jika belum siap membacanya. Sama seperti pesan WA. Saya membiarkan hingga siap membaca dan jika perlu membalas secepatnya.

Buku berwarna hijau muda berhias gambar mesin tik kuno dan beberapa ornamen di sudut kanan atas perlahan saya buka lembar demi lembar.

“Pakde, selamat menyelami buku hadiah atas keaktifan panjenengan di grup RPL semoga bermanfaat berkah.”

Aha, … ada pesan tulisan tangan sang penulis. Wow, senang sekali diberi pesan bersahabat namun mengandung pesan keras: Segera baca dan tuliskan resensinya, lalu setorkan ke grup sebagai tulisan wajib bulan Juni 2025!

Sebagai anggota grup RVL (Rumah Virus Literasi) kami memiliki kewajiban untuk menulis dan tugas bulan Juni 2025 adalah menulis resensi buku.

Tulisan ini adalah awal sebelum saya menyelesaikan membaca dan membuat resensi buku Becoming a Creative Writer: Proses Kreatif Menuju Buku Paling Dicari”.

Setelah membaca pesan membanggakan, pada halaman sebaliknya terdapat identitas buku. Buku tersebut ditulis oleh Much. Khoiri, orang yang menuliskan pesan dengan tinta hitam tulisan tangan tadi. Beliau seorang Doktor, mengajar di Universitas Negeri Surabaya. Buku setebal 12 halaman Romawi dan 244 halaman ini memiliki ukuran 14,5 x 20,5 cm . Buku ini ber-ISBN 978-623-8271-81-8, diterbitkan oleh CV Kamila Press Lamongan. Pada halaman ini tertera dengan jelas alamat serta email penerbit, bahkan nomor WA sang pengelola.

Saya pun melanjutkan ke halaman tiga romawi, Halaman Persembahan. Buku tersebut didedikasikan tidak hanya untuk keluarga tersayang penulis, tetapi juga untuk seluruh sahabat literasi di penjuru Indonesia yang mencintai penulisan kreatif. Penulis yang terus belajar meningkatkan kemampuan diri menjadi penulis-penulis kreatif, laksana rajawali yang menguasai cakrawala dunia kreatif, baik sastra maupun nonfiksi-kreatif, yang cintanya semakin membumi. Saya salin secara lengkap persembahan tulus sang penulis.

Mata saya melirik ke arah jarum jam di dinding. “Masih ada waktu untuk membaca Prakata Penulis sebelum berangkat tidur.”

Menurut sang Penulis, isi buku “Becoming a Creative Writer” adalah himpunan esai-esai pribadi berbasis pemikiran mendalamdan rfleksi tentang dunia penulisan kreatif. Ada beberapa sitasi yang menguatkan bahwa buku ini ditulis memiliki landasan teori/keilmuan.

Selanjutnya, penulis membeberkan sosok seorang penulis kreatif, membanding penulisan kreatif dengan akademik. Alih-alih mementingkan nalar kognitif (sebagaimana penulisan akademik), penulisan kreatif meskipun memiliki alur logika, ia menghadirkan aneka genre kreatif dengan maksud menghibur dan mengedukasi.

Ada lima bab yang bakal saya baca. Bab 1 Menghayati Proses Kreatif, bab 2 Motivasi dan Prinsip Menulis, Bab 3 latihian Praktik Menulis, Bab 4 Karya Kreasi Berdampak, dan Epilog sebagai sajian Bab 5.

Malam itu, saya belum siap membaca dari halaman satu. Namun, saya tertarik untuk membaca epilog dan mencermati bagian referensi. Untuk bagian ini saya akan tuliskan pada bagian kedua. Tunggu, ya!

PakDSus
Belajar menulis, belum naik kelas.

PakD

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.