Hadiah Buku dari Sang Suhu (Bagian Kedua)

Musi Rawas, 4 Juni 2025
Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Pada akhir tulisan sebelumnya saya menulis: Malam itu, saya belum siap membaca dari halaman satu. Namun, saya tertarik untuk membaca epilog dan mencermati bagian referensi.
Pada bagian ini saya ingin menceritakan bagian akhir dari buku ini, epilog. Andai saja buku Becoming a Creative Writer adalah buku fiksi maka saya tidak akan menuliskan epilog buku ini. Tidak etis. Namun, karena ini buku nonfiksi dan epilog yang disajikan tidak terkait langsung dengan bab-bab sebelumnya saya memberanikan diri untuk menceritakan kepada Anda. Saya yakin, meskipun epilog buku ini saya ceritakan tidak akan mengurangi keinginan Anda, Pembaca, untuk memiliki dan membaca buku ini.
Epilog Pertama: Penulis, Teknologi, dan Karya Kreatifnya
Pada epilog pertama penulis menegaskan tentang teknologi yang mengkreasikan hasil karya para penulis. Seperti ilustrasi sampul buku: mesin ketik kuno. Pembaca diajak membayangkan alat teknologi yang digunakan oleh penulis untuk mengabadikan hasil cipta mereka.
Ketika saya selesai membaca paragraf ketiga pada halaman 225, secara refleks saya memejamkan mata dan membayangkan karya-karya sastra kuno yang dihasilkan oleh para penulis kreatif hingga karya yang bersangkutan masih bisa kita nikmati hingga sekarang. Alat apa yang mereka gunakan untuk merekam ide kreatif merekea. Apakah mereka menulis pada daun-daun, kulit kayu, atau kulit binatang? Hingga akhirnya kertas ditemukan dan mesin tik untuk menuliskan ide dan menjadi karya kreatif berupa puisi, naskah drama, maupun berbagai jenis prosa: roman atau novel.
Saat ini, sampailah manusia pada zaman ketika perkembangan teknologi yang semakin maju hadir dengan berbagai alat atau tools yang memudahkan orang tanpa memiliki keterampilan menulis pun mampu menghasilkan berbagai macam tulisan. Hanya dengan perintah!
Kehadiran kecerdasan artifisial dengan berbagai macam tools atau peralatan yang ada, menurut penulis BaCW (Becoming a Creative Writer) ini, pada satu sisi mendorong produktivitas yang memunculkan kreasi-kreasi baru. Namun, pada sisi lain penulis akan berhadapan dengan tantangan etika.
Namun, perkembangan teknologi tidak bisa ditolak melainkan dimanfaatkan dan menjadi alat untuk menunjang kreativitas penulis sehingga memungkinkan munculnya kreasi-kreasi yang baru.
Meskipun demikian, satu hal yang perlu dicatat adalah terdapat perbedaan mendasar pada kecerdasan buatan dan manusia. Manusia memiliki integritas, orisinalitas, dan sentuhan manusiawi. Ketiga hal ini tidak dimiliki oleh mesin. Mesin mengandalkan miliaran data yang bertebaran dijagat maya lalu mengkreasikannya sesuai dengan perintah yang diberikan.
Epilog Kedua: Menuju Buku Paling Dicari
Sahabat pembelajar, pada epilog kedua saya membaca bahwa penulis mengajak pembaca memahami terminologi buku paling dicari. Menulis kreatif adalah suatu proses perjalanan panjang dan setelah karya dihasilkan muaranya adalah tulisan atau buku yang sudah dihasilkan diharapkan dapat dibaca luas oleh masyarakat.
Pada awalnya, seorang penulis menuliskan apa yang paling ia sukai dan kuasai dan kemudian membagikannya kepada para pembaca. Namun, zaman terus berkembang. Pasar pun memiliki kekuasaan dan hak untuk memilih bacaan yang disukai atau tidak disukai.
Tulisan seseorang yang diciptakan dan dilatarbelakangi dengan keinginan menuliskan sesuatu yang paling dikuasai dan disukai akan tergerus dengan keinginan pembaca. Mungkin saja pembaca tidak menyukai materi yang disukai atau dikuasai penulis.
Pada akhirnya, kata penulis buku BaCW ini, penulis harus mampu mengelola hasil tulisan sebagai sebuah komoditas dengan melihat kecenderungan. Boleh jadi kondisi dan gejala sosial ekonomi politik baik dalam negeri maupun global yang akhirnya menjadi tren atau digemari di masyarakat. Hal ini membuat penulis harus kreatif menuliskan sesuatu yang juga mengikuti trend atau sesuatu yang disukai oleh calon pembacanya.
Dengan demikian, hukum pasar akan berlaku. Supply dan demand menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan oleh seorang penulis yang kreatif. Implikasinya seorang writerpreneur harus memiliki wawasan luas dan dalam agar mampu membaca tren dan kecenderungan. Sebagai penutup tulisan kedua dari seri Hadiah Buku dari Sang Suhu saya mencuplik pengalaman Much Khoiri tentang naskah agar lebih menarik penerbit dan/atau pembaca.
Naskah yang berpotensi menarik penerbit dan/atau pembaca setidaknya mengandung sebelas hal. Satu hal yang saya cuplik, sisanya silakan cari di buku Becoming a Creative Writer. Apa itu? Orisinalitas dan keunikan. Semoga calon buku saya dan Anda kelak menjadi buku yang banyak dicari.
Referensi yang Dirujuk Penulis BaCW
Saya belum membaca habis buku hadiah sang Suhu. Namun, saya langsung menuju halaman referensi, Tepatnya halaman 237 hingga 241. Di sana, terdapat daftar 44 buku yang menjadi rujukan penulis dalam menyusun “Becoming a Creative Writer.”
Yang menarik, referensi yang digunakan tidak hanya terbatas pada buku-buku berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia dari penulis lain, tetapi menjadikan buku penulis sendiri menjadi referensi. Setidaknya ada tujuh buah buku.
Ketujuh karya penulis yang bertengger di deretan Daftar Referensi adalah buku-buku berikut:
- Rahasia Top Menulis (2014)
- Pagi Pegawai Petang Pengarang (2015)
- Writer or Die: Jangan Mati Sebelum Nulis (2017)
- Writing is Selling (2018)
- SOS Operasi Buku (2020)
- Blantik Literasi dari Jawa Timur dalam Golagong dan Kawan-Kawan (2022)
- Menyuarakan Kreatif Non Fiction Writing dari Ruang Ketiga (2024)
Untuk apa sang Penulis (Much. Khoiri) menjadikan buku sendiri menjadi referensi? Jawabannya tentu setelah membaca tuntas bab demi bab. Namun, saya menduga buku-buku karya penulis memiliki kaitan erat dengan tulisan yang tersebar pada empat bab sebelum bab lima tentang epilog.
Saya membaca seperti kendang Jawa, mendahulukan bagian awal dan akhir buku. Ini menjadi salah satu teknik saya memahami buku sebelum membaca tuntas bab demi bab. Jika per bab sudah saya baca tuntas tentu menuliskan referensi buku “Becoming a Creative Writer” menjadi semakin mudah. Alasannya, identitas buku sudah diceritakan. Kesimpulan buku sudah terekam. Gambaran referensi sudah didapatkan. Tinggal membaca dan mencatat hal-hal penting, menganalisis, mengevaluasi, dan menulis referensi. Hal ini sejalan dengan materi dari Prof. Ngainun Naim berikut ini.

Pembaca yang ingin belajar meresensi bisa menonton video berikut:
Salam Guru Pembelajar,
PakDSus