Menghayati Proses Kreatif: Mencari Gelar Penulis atau Terus Berproses dalam Menulis?

Menghayati Proses Kreatif: Mencari Gelar Penulis atau Terus Berproses dalam Menulis?
Ditulis oleh: PakDSus | blogsusanto.com
Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel Hadiah Buku dari Sang Suhu (Bagian Kedua). Dianggap sebagai tulisan bagian ketiga juga tidak apa-apa. Nyatanya, buku yang sedang dibaca memang hadiah dari sang Suhu, sang Penulis: Dr. Much. Khoiri. Izinkan saya melanjutkan.
Saya itu pembaca lambat, apalagi isi buku tergolong ‘berat’. Beratnya isi buku itu relatif, ya. Bagi Anda (yang sama-sama mendapat hadiah atau berkesempatan membeli/meminjam buku ini) mungkin menganggap isinya ringan-ringan saja. Akan tetapi, bagi saya, membaca bab dan subbab dalam buku Becoming a Creative Writer membutuhkan kecermatan. Kata teman saya yang sempat membaca tulisan bagian kedua, “Isinya daging semua, Pakde. Boleh saya pinjam?” Nah.
Pada bagian ketiga ini, saya baru membaca bab pertama yaitu “Menghayati Proses Kreatif”. Bab satu ini yang terdiri dari 7 sub-bab, yaitu: Perkembangan Terkini Menulis kreatif, Konsep Becoming a Creatif Writer, Sepuluh Ciri Khas Penulis Kreatif, Keterpengaruhan dalam Karya Kreatif, Meneladani Pengarang Naguib Mahfouz, Tantangan Utama bagi Penulis Serius, dan Kobarkan Inspirasi Menulis Anda.
Menulis kreatif tidak terbatas pada puisi, cerpen, atau novel, tetapi merambah genre nonfiksi kreatif. Yang termasuk dalam kategori ini adalah: esai personal, biografi, testimoni, catatan perjalanan, hingga jurnalisme sastrawi. Dunia profesional moderen juga menuntut kreativitas lebih, misalnya penulisan iklan (copy writer) dan penulisan feature (feature writing). Penulis (Much. Khoiri) memprediksi bakal ada speech writing, penulis naskah pidato. Menulis kreatif telah merambah ranah praktis dan profesional, membuka peluang lebih luas bagi penulis masa kini.
Menurut penulis (Much. Khoiri), menjadi penulis bukanlah status, melainkan proses. Menulis harus dilakukan beriringan dengan belajar teori. Teori memberi kerangka, sedangkan praktik memberi pengalaman. Keduanya saling menguatkan. Hal menarik daalam bab ini adalah, “Jangan takut pada teori, tetapi jangan menunggu sempurna untuk memulai menulis.”
Penulis Kreatif Memiliki 10 Ciri Khas
Dari pengalaman yang dimulai dari gemaran membaca, menulis secara rutin, dan berani memublikasikan tulisan di media sosial hingga menerbitkan dalam bentuk buku, sang Penulis merinci setidaknya ada sepuluh ciri khas penulis kreatif. Kesepuluh ciri tersebut sebagai berikut:
- Memiliki alasan atau niat kuat menjadi penulis
- Memiliki gairah untuk membaca
- Memahami kemampuan dasar menulis kreatif
- Memiliki Imajinasi dan kreativitas
- Memiliki kejelasan dan gaya komunikasi
- Memiliki empati agar dapat menggambarkan berbagai nuansa kehidupan dengan cara yang relevan
- bekerja (menulis) secara rutin dan teratur
- Mau belajar pada penulis yang berpengalaman
- Mengembangkan kemampuan menulis secara berkelanjutan
- Berani melakukan ublikasi karya lewat web blog, IG, YouTube, dan Tik tok
Siapa yang memiliki karya yang 100% orisinal? Setiap ide adalah hasil interaksi antara pengetahuan lama dan pengalaman baru sebagai pemicu. Khoiri membedakan antara keterpengaruhan (influence) dan plagiarisme. Inspirasi yang bersumber dari karya lain bukan kejahatan, asal tetap menjaga integritas. Dalam bab satu subbab keempat, kasus Chairil Anwar dan film Baahubali menjadi refleksi menarik bagaimana inspirasi bekerja. Apabila dalam karya akademik, kemiripan dengan tulisan atau penulis (author) sebelumnya dinamakan plagiarisme, dalam menulis kreatif, kemiripan diakatakan sebagai keterpengaruhan dan ini tidak haram.
Pada subbab kelima, Khori mengajak pembaca meneladani Naguib Mahfouz. Akan tetapi, sang penuklis yang sangat meneladani Naguib Mahfouz dan menduplikasi apa yang dilakukan walaupun baru dilakukan tiga tahun belakangan dihitung mundur sejak buku ini terbit.
Selanjutnya, pada subbab keenam, sang Penulis (Much. Khoiri) menyebut tiga tantangan utama untuk penulis serius: tantangan teoritik, praktik, dan personal. Tak memahami genre membuat karya dangkal, tidak cukup latihan membuat keterampilan stagnan, dan yang paling berat adalahtantangan dari dalam diri. Apa saja itu? Rasa tidak percaya diri, perfeksionisme, hingga writer’s block. Semua bisa diatasi, asal mau mengakui dan menghadapinya.
Ulasan terakhir pada subbab yang berada dalam Bab I adalah mengobarkan isnpirasi menulis. Inspirasi tidak datang dari langit, ya, saya stuju. Inspirasi hasil pertemuan antara wawasan lama dan pemicu baru. Bacaan, pengalaman, interaksi—semua menyumbang bibit inspirasi. Maka bacalah banyak, rasakan hidup dengan jeli, dan jangan tunggu inspirasi muncul. Kalau menunggu inspirasi, kita bukan penulis—kita hanya penunggu.
Satu bab pembuka buku Begining a Creative Writer sudah saya baca dan analisis. Saya harus melanjutkan membaca bab-bab berikutnya dan melakukan hal yang sama. Setelah Bab II hingga Bab IV selesai saya baca, saya akan merangkumnya menjadi resensi lengkap.
Ternyata tidak mudah, tetapi saya harus mencobanya.
Musi Rawas, 09 Juni 2025
Penulis yang masih berporoses,
PakDSus

Terima kasih, Bu Flo.
Ulasan yang bagus sekali