artikel

Janji Kirana, Cerita Pendek Karya Eka Yulia, Author Melintas.ID

<a href="https://www.freepik.com/free-photo/back-light-girl-silhouette-bali-indonisya_10517840.htm#query=silhouette%20of%20woman&position=41&from_view=search&track=ais">Image by alexeyzhilkin</a> on Freepik
Image by alexeyzhilkin on Freepik

Saya menemukan cerita pendek, tepatnya fiksi mini, berjudul Janji Kirana di portal berita Melintas.id. Cerpen itu dibuat sang penulis sebagai salah satu bahan referensi dengan segmen pembaca murid-murid SMA. Dalam Kurikulum Merdeka, anak-anak kelas 10, 11, dan 12 SMA masuk Fase E dan F.

Konteks disajikannya cerpen tersebut adalah artikel tentang tips membuat siswa gemar membaca.

Cerpen karya Eka Yulia, penulis yang cukup produktif menulis cerita pendek atau fiksi mini ini, layak dicermati.

Ide ceritanya sederhana, berkisar pada kehidupan remaja akhir, menjelang dewasa (jika batas usia dewasa adalah 17 tahun). Hampir setiap anak pernah mengalami, yakni bangun kesiangan hingga tergopoh-gopoh pergi ke sekolah.

Yang membedakan dengan remaja terdahulu adalah penyebab bangun kesiangan. Remaja tahun 90-an bangun kesiangan karena malamnya begadang: nongkrong, menonton televisi, atau menonton orkes melayu di alun-alun kota. Sebagian tidur larut karena harus membaca buku novel yang tebal-tebal.

Sementara remaja seangkatan Kirana, adalah ramaja generasi Z, yang diperbudak oleh gawai dengan aneka aplikasi, termasuk di dalamnya aplikasi novel berisi puluhan ribu kata. Hobinya membaca membuat ia larut dalam guliran layar gawai berisi cerita novel yang seakan tiada habisnya.

Penulis dengan apik menggambarkan kebiasaan Kirana yang berujung dengan bangun tidurnya sering kesiangan. Janji-janji Kirana untuk tidak terbawa larut bahkan diledek kakaknya sebagai janji yang diucapkan sejak zaman Fir’aun.

Demikian pula bagaimana si Kirana di sekolah sering mendapat hadiah akibat sering kesiangan dan terlambat masuk sekolah. Sang Satpam membilang satu per satu pekerjaan yang harus diselesaikan akibat terlambat sekolah. Lagi-lagi, Kirana berkelit dan berjanji tidak akan mengulangi kembali.

Satu hal lagi yang menurut saya cerpen itu menarik adalah, pada hari itu, sang guru bahkan tidak memarahi Kirana akibat keterlambatannya. Karena guru menganggap alasan yang dibuatnya itu-itu saja dan tidak kreatif. Peristiwa itu dianggap Kirana dejavu.

O, ya cerita fiksi mini berjudul Janji Kirana juga mengandung plot twist yang sebenarnya biasa saja, namun penulis mampu mengemasnya menjadi plot twist yang masih tetap mengejutkan.

Janji Kirana, cerpen karya Eka Yulia tersirat di dalamnya hal-hal baik dan meskipun sedikit horor pesan moral terselip dengan apik.

Penasaran, ya? Simak cerita fiksi mini karangan Eka Yulia ini yang sepenuhnya saya kutip dari portal Melintas.id.

Janji Kirana

Jarum jam telah menunjukkan pukul 6.15, sementara waktu masuk jam pelajaran pertama di sekolah Kirana pukul 6.45 WIB. Gadis kurus itu langsung sat set mandi bebek dan berdandan, lalu menyambar ransel kesayangannya dan berlari menuju ruang makan.

“Buuun, kok gak bangunin aku?” Si bungsu mulai ngereog, alibi agar tidak kena semprot bundanya karena kesiangan bangun.

Bunda si super sabar hanya melirik sekilas, tangannya cekatan melayani sarapan ayah dan Niko, si sulung.

“Satu gang jeruk jadi saksi, kalo bunda bangunin kamu.” Niko menyahuti dengan nada gemas.

Sontak saja mata belo Kirana melebar menatap abangnya penuh amarah. “Ngarang!” geramnya.

“Malam tadi kamu begadang lagi ya, Dek?” Ayah melirik si bungsu.

Kirana menunduk menatap piring yang masih kosong, kepalanya menggeleng ragu.

“Enggak kok, Yah,” cicitnya pelan. Ya lah, pelan! Karena semua orang di rumah itu tahu kalau Kirana memang hobi begadang. Matanya selalu betah melototi layar ponsel, membaca novel online yang judulnya berseri-seri.

“Coba dong, Dek, diatur lagi waktunya. Belajar sampai jam berapa, baca novel online sampai jam berapa. Mulai disiplin waktu, kamu kan udah gede. Udah kelas XII loh, sebentar lagi ujian sekolah.” Bunda menasihati dengan nada lembut.

Kirana tak sanggup untuk menyanggah, karena memang ia sering melakukan keteledoran dengan alasan yang sama. Keasyikan membaca novel online.

“Maaf Bun, Yah. Kirana janji gak bakalan begadang lagi,” ucapnya pelan.

Sontak saja terdengar kekehan geli keluar dari mulut abangnya. “Itu janjimu dari zaman Firaun, loh Dek.”

Tiga pasang mata serentak menatap Niko, ayah dan bunda dengan tatapan gemas menahan tawa sedangkan adiknya melotot geram.

Benar saja, yang ditakutkan Kirana hampir terjadi. Belum lagi ia berdiri normal akibat turun dari angkot terburu-buru, deritan pintu gerbang yang tengah ditutup pak satpam terdengar nyaring.

Gadis itu terburu-buru berlari, tak peduli dengan suara pak sopir yang memanggil-manggil karena uang kembalian ongkosnya lupa ia ambil.

“Pak Amiiiiir!” pekiknya seraya melangkahkan sebelah kaki menghalangi roda pintu gerbang.

“Lah, Neng Kir hampir kesiangan lagi.” Pak Amir menghentikan laju roda pintu gerbang, agar tak melindas sepatu gadis kurus yang tengah memelas menatapnya itu.

“Dih, Bapaaak! Jarang-jarang loh, aku kesiangan.” Sangkalan yang keluar dari mulut Kirana berujung kekehan tawa Pak Amir.

“Dua hari yang lalu yang bebersih WC siapa ya, Neng? Trus yang hari Senin hormat bendera di pojokan pos satpam, siapa? Trus ….”

“Waah, Bapaak! Kirana janji deh, ini yang terakhir.” Pekikan spontan Kirana memotong kalimat Pak Amir, terlihat jari telunjuk dan jari tengah gadis itu teracung membentuk huruf V.

“Masuklah! Bosen saya dengar janji Neng Kirana, yang itu-itu aja. Gak kreatif.”

Kirana sempat terhenyak sesaat demi mendengar ucapan pak Amir, astaga! Kok seperti dejavu, tadi di rumah abangnya juga mengatakan hal serupa. Ah biarkan saja! Orang berbuat salah itu  wajar, malaikat saja yang tidak pernah berbuat salah. Begitulah deretan pembelaan diri yang ia ucapkan dalam hati saja.

Lima menit setelah bel pulang berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar dari ruangan kelas. Tujuan mereka berbeda-beda, bagi yang membawa sepeda motor sendiri sudah pasti menuju ada tempat parkir. Sebagian besar akan berdiri bergerombol di dekat pintu gerbang untuk menunggu jemputan, maupun menunggu angkot yang searah dengan rumah.

Kirana memutuskan untuk tetap duduk menunggu sebentar, malas rasanya kalau harus ikut bergerombol desak-desakan. “Kirana gak pulang?” tanya Evan, sang ketua kelas. Gadis itu hanya menggeleng, mendadak kantuk mulai menyerangnya. “Ya udah, Gue duluan ya, Ki?” Evan berlalu tanpa menunggu jawaban temannya yang masih setia duduk.

Menjelang pukul 16.15 Kirana baru mendapatkan angkot yang tidak begitu penuh penumpang, ia memilih duduk tepat di belakang kursi sopir menghadap langsung ke jalan. Cuaca mendadak mendung, angin pun bertiup kencang.

“Baru pulang sekolah, Neng?” tanya bapak paruh baya disebelahnya. Kirana tak langsung menjawab, gadis itu sedikit tersentak kaget karena ketika naik tadi ia tidak melihat bapak yang bertanya tersebut.

“Ya, Pak.” Kirana menjawab dengan suara pelan. Si Bapak tersenyum aneh. Gadis itu mencoba mengabaikan dan memilih menatap lurus ke depan. Deretan pepohonan yang dilewati terlihat lebih indah dari biasanya. Gedung-gedungnya pun begitu, lebih tinggi dengan model kuno. Kening Kirana mengkerut, bulu-bulu tangannya mendadak berdiri.

“Pak, Saya turun di Jalan Gembira!” seru Kirana sedikit panik. Pak sopir menatap sekilas Kirana lewat kaca spion depan, gadis itu terkesiap dan menegang. Ketika mereka bersirobok tatap, wajah pak sopir begitu pucat seperti tidak berdarah. Bibirnya bergetar hebat, bola mata liar menatap ke segala arah.

“Paak, Saya turun di lampu merah Setia Rasa aja, Pak!” lagi-lagi Kirana berseru gugup. Ia mulai panik, perlahan memperhatikan penumpang yang tertinggal 4 orang laki-laki.

Dari penampilan keempat penumpang itu tidak ada yang mencurigakan, mereka terlihat rapi dan perlente. Namun, tatapan mata dan senyum mereka membuat bulu kuduk Kirana semakin berdiri tegak.

“Pak sopir tau kok, Neng! Kita semua akan melewati Jalan Gembira, tapiii … Neng akan di bawa keliling-keliling dulu biar lebih gembira. Ha-ha-ha ….” Pria botak di hadapan Kirana tertawa terbahak seraya menatap tajam ke arah gadis itu.

“Ginjalnya masih fresh nih, Bang!” Belum lagi Kirana dapat mencerna situasi dengan benar, mentalnya langsung ambruk tatkala mendengar seruan pria yang duduk di pojok angkot.

“Ya Allah, Bundaa tolong aku! Ayah, Bang Nikoooo! Aku diculik,” ratap Kirana dalam hati.

“Ja-jangan bercanda! Kalian ma-u ngapain?” Kirana memberanikan diri bersuara. Walaupun pada kenyataannya suaranya terdengar serak, kasar, dan aneh.

“Maunya kamu diapain? Harga yang paling tinggi ginjal, hati, sama jantung.”

“Eh!” Mata Kirana melotot panik ke arah pria yang duduk di depannya. Entah penumpang yang mana lagi, karena dari penglihatan Kirana wajah penumpang angkot setiap detiknya berbeda-beda. 

“Ginjal aja, hati dia sudah rusak. Sering berbohong, ingkar janji ….”

“Ikat tangannya!” Bapak yang duduk di sebelah Kirana memerintah seraya mencekal kencang pergelangan tangan gadis itu. Sontak saja Kirana menjerit sekuat tenaga, tangannya bergerak mengibas tak tentu arah.

“Lepaas! Aku gak bakalan bohong lagi! Gak bakalan ingkar janji lagi!” Teriakan histeris Kirana tak sedikit pun mengendurkan cengkraman kencang si bapak penculik.

“Neng …, Neeeng! Neng Kirana!” Samar-samar terdengar suara seseorang memanggil-manggil nama gadis itu.

“Lepas! Lepaskan sayaaa ….”

“Neng! Neng Kirana, ayo, bangun! Pintunya mau saya kunci.”***

Musi Rawas, 29 Agustus 2023
PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

11 thoughts on “Janji Kirana, Cerita Pendek Karya Eka Yulia, Author Melintas.ID

  • Asyik banget dibacanya…siap belajar menulis cerpen….

  • Wow, benarkah? Terima kasih, kunjungan dan apresiasinya, Pak.

  • Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

  • PakDku
    Memang hebat
    Sarapan tulisan ini mengajakku
    Ke lorong waktu zaman SMA
    Aku dan novel juga aku dan duniaku

  • Ulasan yang keren Pak

  • Apresiasi kepada sebuah pengisahan yang daging dan makjlem ….

  • Waooow….suka banget dengan tulisan ini.

Comments are closed.