bahasa

Kangkung Pak Abu

Pagi-pagi Pak Abu melintas di depan rumah. Pada jok motor bagian belakang tergantung keranjang dua sisi, berisi puluhan ikat kangkung. Kangkung yang dibawanya adalah kangkung cabut.

Kangkung cabut biasanya berumur 30 hari sudah siap panen. Beda dengan kangkung yang merambat yang bisa dipanen berkali-kali dengan menyisakan batang, kangkung cabut dipanen dengan cara mencabut hingga akarnya.

Konon kabarnya, kangkung cabut lebih sehat dibanding kangkung merambat yang bisa dipanen beberapa kali satu batangnya. Kandungan purin pada kangkung panenan ketiga dan seterusnya lumayan tinggi. Tentu “menakutkan” bagi penderita asam urat, he he he.

Akibat pengeringan saluran irigasi hingga empat atau lima bulan mendatang, banyak lahan padi yang ditanami kangkung. Penen kangkung pun melimpah. Dampaknya, harga kangkung sangat murah. Akhirnya, banyak kangkung yang dibagi-bagikan secara percuma kepada tetangga.

Pak Abu demikian juga. Panen kangkungnya pun melimpah ruah. Ketika melintas di depan rumah, iba-tiba ia berhenti. Kemudian ia mengambil dua ikat kangkung dan meletakkannya di tepi jalan sambil berteriak,” Untuk makan ayam, Pak Guru!”

Ha ha ha, kami berdua biasa bercanda. Sambil mengambil ikatan kangkung itu saya balas berteriak, “Terima kasih!” Pak Abu pun tancap gas.

Musi Rawas, 20 Oktober 2021

PakDSus

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.