artikel

Memasak Buntil Keladi Ala Anak Kelas 6 Dusun, Kenangan Tahun 2000

Sumber: https://cookpad.com/id/recipe/images/4b115359c42ff8f7?image_region_id=26

Ketika anak kedua lahir (2000) Ibu Negara, alias istriku meminta izin melahirkan di Jawa (Purwokerto), sementara aku diam di dusun (pedalaman) sambil menunggu kelahirannya.

Ketika aku mandi di sungai, aku melihat banyak sekali perempuan membawa pulang keladi yang daunnya lebar2 di atas biduk yang mereka tumpangi. Biduk atau perahu dayung itu menjadi satu-satunya alat transportasi menuju ke ladang.

“Coba kalian cari daun keladi yang lebar-lebar dengan syarat keladi yang batangnya bisa di masak,” perintahku kepada anak-anak perempuan kelas 6 yang membantuku membersihkan rumah sepulang ekolah.

“Untuk apo1, Pak?” tanya mereka penasaran.

“Kagek kito nak masak” jawabku pendek.2

Keesokan hari, setelah daun keladi terkumpul, anak-anak kelas enam kuminta mencari kelapa muda dan memarutnya. Mereka memarut menggunakan parutan kelapa yang kubuat dari kaleng susu. Kaleng susu berbentuk silinder itu kugunting dan dibentuk menjadi seperti kepingan papan. Papan kaleng itu kulubangi dengan paku hinga membentuk permukaan kasar yang tajam. Papan kaleng susu itu aku pasang pada kerangka yang dibuat dengan potongan papan berbentuk balok sebesar jari telunjuk.

Anak-anak perempuan dengan cekatan memarut dua butir kelapa yang belum begitu tua. Satu  butir kelapa lagi yang sudah tua diparut dan dipisahkan untuk dibuat santan.

“Ema, siapkan bumbu. Ketumbar, bawang putih, bawang merah, kamu ulek sampai halus, ya!” perintahku kepada Ema, murid kelas lima yang paling rajin membantu di rumah kami.

Ema pun selesai mengulek bumbu. Bumbu yang lumayan banyak itu aku bagi menjadi dua bagian.

“Holipa, tolong cuci daun keladi ini!”

Ada sekitar lima belas lembar daun yang lebar-lebar.

Aku menyiapkan kukusan yang sudah diisi air. Kompor dinyalakan. Kukusan pun dipasang di atasnya.

“Holipa sudah selesai mencuci ‘kan? Campurkan bumbu yang separuh tadi dengan parutan kelapa. Ema, beli teri ke warung Rojak terus kamu cuci!” perintahku kepada Ema dan menyodorkan sejumlah uang.

Di petak bawah rumah panggung tempat kami tinggal terlihat kesibukan anak-anak perempuan kelas enam yang biasa datang membantu membersihkan rumah. Kebiasaan yang dilakukan anak-anak kepada guru yang mengalami kesrepotan. Aku dianggap repot karena istri cutimelahirkan dan tidak ada di rumah. Mereka kelas enam yang beruntung. Tahun depan mereka lulus memiliki kesempatan bakal melanjutkan sekolah di desa sendiri. Sebelumnya, jika ingin melanjutkan harus ke kota kabupaten atau ke Palembang. Sisanya, menikah pada usia muda.

Bersama Dewan Guru SD 1 dan SD 2 kami bersepakat mendirikan SMP Terbuka bersama kepala SMP Negeri Bingin Teluk. Meskipun SMP Terbuka dan belajar dengan modul, kami meminta izin menyelenggarakan pembelajaran secara tatap muka dengan atribut layaknya anak SMP reguler. Kepala SMP Negeri pun mengizinkan dan pembelajaran berlangsung di bawah pengawasan guru pamong yang memantau pemebelajaran setiap tiga bulan sekali. Waktu belajar mereka sesudah anak-anak SD 1 pulang sekolah. Pukul 17.30 mereka pulang.

“Nah, sekarang ambil tiga lembar daun. Lihat, Pak ambil dua sendok parutan kelapa berbumbu ini lalu kita lipat begini,” aku memeragakan membungkus parutan kelapa dengan daun keladi berlapis tiga.

“Tebal nian, Pak!” teriak anak-anak.

“Ya, daunnya pula lebar. Nah, setelah ini kita kunci dengan tali rafia yang sudah kita cuci tadi. Tuh, air dalam kukusan sudah mendidih, kita masukkan bungkusan pertama. Lanjutkan, siapa mau membuat seperti Pak tadi?” Aku menawarkan kepada mereka.

Anak-anak pun bergantian membuat bungkusan seperti yang aku contohkan. Ada lima bungkus dengan ukuran lumayan besar.

Beberapa menit kemudian, kami memeriksa apakah bungkusan yang kami kukus sudah matang. Warna hijau tua khas daun yang dikukus menguarkan aroma sedap. Dengan menggunakan lidi yang bersih aku memeriksa bungkusan yang sudah melunak.

“Sip, matang!” Kukusan pun segera kuangkat.

“La3, masak, Pak?” tanya Imut.

“Belum, tuh santannya masih utuh belum dimasak. Sekarang giliran wajan dipasang lalu masukkan santan dan sisa bumbu tadi. Jangan lupa cabai yang dihaluskan dimasukkan juga, ya!”

Berlagak seperti kepala chef, aku memerintahkan anak-anak gadis yang beranjak dewasa itu memasak.

“Pak, santan dem mendidih. Terus mak mano?” tanya Imut.4

Aku menjawab, “Masukkan lima bungkusan yang telah matang tadi ke dalamnya.

“Direbus, Pak?”

“Iya, setelah masuk semua, siram-siram dengan air santan dan biarkan hingga tinggal sedikit.”

Sambil menunggu masakan kami matang, tanpa diperintah anak-anak dusun itu segera membersihkan lantai dapur dan membawa perabotan yang kotor ke sungai untuk dicuci.

Desa kami saat itu belum memiliki sumur. Air Sungai Rawas menjadi satu-satunya media pembersih segalanya: badan, pakaian, dan perabotan. Sungguh, kehidupan yang tujuh tahun sebelumnya tidak pernah kami bayangkan.

Ema yang bertugas menunggui masakan berkata, “Pak santannya sudah mau habis.”

“Nah, alamat masakan kita sudah siap. Ajak anak-anak mencicipi,” perintahku.

“Apo namo masakan ini, Pak?” tanya Imut.

“Kalau di daerah saya di Jawa masakan ini disebut buntil,” jawabku.

Anak-anak pun tertawa. Istilah itu sungguh aneh. Buntil adalah buntalan dari kain yang dibawake ladang untuk salion baju atau pakaian.

“Pagi tadi, Pak masak banyak. ‘Kan memang saya siapkan untuk kita makan.”

“Apo lemak, Pak?” tanya Holipa.

“Coba dulu baru berkomentar,” jawabku.

Dengan ragu-ragu mereka mencicip masakan yang baru saja kami makan. Satu buntil dibagi dua.

“Wow, sedap nian, yo?” komentar Holipa, Imut, dan Ema bergantian.5

Aku tersenyum. Keinginanku makan buntil terpenuhi sekaligus mengenalkan jenis makanan baru bagi mereka, anak-anak dusun Batu Kucing. Biasanya hanya batang keladi yang mereka masak. Daun-daunnya dibuang begitu saja.

Musi Rawas, 28 April 2025

PakDSus

1) apa
2) nanti kita akan memasak
3) sudah
4) Pak, santan sudah mendidih. Terus bagaimana?

5) sedap sekali

PakD

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.