bahasa

Kemerdekaan Berimajinasi, Berpikir, dan Berkreasi

 

Pernahkan melihat anak balita, pra-TK bermain boneka atau masak-masakan? Selama beberapa hari saya di rumah kemenakan dari pihak istri, saya perhatikan cucu sepupu saya bermain dengan boneka kesayangannya. Boneka Shaun the Sheep, juga boneka Barby, dan Kermit. Ia sangat menikmati bermain bersama mereka.

Sesekali terdengar ‘dialog’ di antara mereka. Boneka-boneka itu seakan hidup dan dihidupkan oleh Aya, anak bungsu kemenakan. Aya tanpa ragu melafalkan dialog boneka-bonekanya. Melalui ekor mata, saya mengamati si Aya yang asyik bermain. Ia begitu bebas, tanpa beban maupun rasa malu melakonkan “sahabat-sahabatnya” itu.

“Hai, kamu tidak boleh jahat, ya! Dia itu saudaramu. Jangan nakal!” kata Aya sambil memainkan tangan boneka Kermit.

“Iya, aku tidak nakal. Kan aku cuman pinjam mainannya sebentar,” kata Aya lagi sambil menggerakkan tangan boneka domba, Shoun the Sheep. Aya laksana dalang yang memainkan wayang. Aya bermain sandiwara melalui boneka-bonekanya.

Kami yang ada di rumah pada saat itu, diam saja memerhatikan. Saya, istri, kemenakan (ibunya Aya), kedua kakak Aya, dan anak bungsu saya, tidak ada yang berkomentar. Tidak ada olok-olok. Aya pun tidak peduli. Ia asyik melanjutkan sandiwaranya. Tidak canggung dan ragu sedikitpun.

Aya, cucu sepupu saya adalah anak perempuan. Bagaimana dengan anak laki-laki seusianya? Sama saja, hanya objek mainannya yang berbeda. Mobil-mobilan, pesawat mainan, koboi, robot, atau senapan mainan, dan sejenisnya. Ia pun akan berimajinasi dengan mainan-mainannya itu. Ya, seperti tokoh Andy dalam film Toy Story.

Saya, membayangkan jika Aya dan teman-teman seusianya, perempuan maupun laki-laki, bersekolah nanti. Apakah kemerdekaan berimajinasinya masih tetap terpupuk, atau malah terpasung oleh tuntutan penguasaan sejumlah materi pelajaran? Jawabannya, tergantung ibu atau bapak guru yang mengajarnya di sekolah kelak.

Kemerdekaan Berimajinasi, Berpikir dan Berkreasi

Tidak dipungkiri, bahwa muatan pelajaran di sekolah, sarat dengan tuntutan kompetensi pada ranah kognitif atau pengetahuan. Dari beberapa obrolan dengan rekan guru pun diketahui bahwa paling mudah menilai peserta didik pada ranah pengetahuan. Ranah ini memang memiliki tingkatan-tingkatan: ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, evaluasi, dan kreasi atau membuat sesuatu yang baru. Namun, dari enam tingkatan itu yang paling sering dibuat soalnya dan paling mudah juga mengoreksinya adalah soal ingatan dan pemahaman. Tanpa disadari, akhirnya anak pun dijejali dengan hapalan. Banyaknya hal yang harus dihapal, akhirnya memunculkan penggolongan bagi siswa: anak pintar (hapalannya kuat), sedang, dan kurang.

Pertanyaan berikut yang muncul adalah, bagaimana agar anak memiliki kemerdekaan berimajinasi, berpikir, dan berkreasi?

Caranya adalah dimulai dengan proses yang kreatif. Contoh kecil, misalnya pelajaran mengenal tubuh pada kelas satu. Jika diajarkan hanya dari melihat gambar dan menyebutkan bagian-bagian tubuh dimaksud, proses pembelajaran tersebut belum tergolong pada pembelajaran kreatif.

Mengapa guru tidak memanfaatkan “keterampilan anak dalam bersandiwara” ketika mereka bermain dengan mainannya di rumah? Guru menggunakan boneka. Lalu mengajak anak berdialog satu sama lain. Kemudian, mengajak bermain peran memeragakan anggota-anggota tubuh yang dimaksud. Lama-kelamaan peserta didik pun akan memahami bagian-bagian anggota tubuhnya, tanpa harus menghapal. Anak pun tidak dibebani dengan tuntutan harus mengahapal atau memahami karena proses belajar yang dilakukan sambil bermain.

Menjadi guru yang memerdekakan anak berimajinasi, berpikir, dan berkreasi memang tidak mudah. Namun melalui banyak tanya, mau mencoba, dan mau menerapkannya di kelas (berkarya), bukan hal yang mustahil.

 

#MerdekaBelajar3

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

7 thoughts on “Kemerdekaan Berimajinasi, Berpikir, dan Berkreasi

  • keren, makin menambah semaangat pendidik

  • Guru yang keren ini. Sangat menjiwai pendidikan seharusnya

  • Setuju Pak D.
    Ternyata merdeka belajar tidak perlu mencari contoh yang jauh yaaa. Contoh yang ada disekitar juga bisa diterapkan dalam konsep merdeka belajar.
    Terimakasih

  • Betul pak D

  • Boneka lucu pastinya pak.
    Merdeka imajinasi yg sungguh menyenangkan, tanpa belenggu.

Comments are closed.