bahasa

Ketika Luthfiana Berpidato

Judul: Ketika Luthfiana Berpidato

Oleh PakDSus

 

Namaku Siva. Aku masih duduk di kelas enam. Aku mempunyai dua orang sahabat. Mereka adalah Luthfiana dan Devika. Mereka berdua punya kelebihan masing-masing. Luthfi, nama panggilan Luthfiana, pintar bicara dan mengarang, Devika pintar menyanyi dan menggambar. Kalau aku, apa ya? Aku nggak punya kepintaran apa-apa. O, ada! Aku pintar menghabiskan makanan. Kalau aku jajan, yang tersisa paling bungkusnya! Ha ha ha ….

Kami memiliki tiga orang guru yang mengajar di kelas enam. Seorang guru kelas, seorang guru agama, dan seorang lagi guru olahraga. Waktu kami di kelas lima, guru kelas kami perempuan. Di kelas enam ini, kami dibimbing oleh guru kelas laki-laki. Orangnya seram. Suka membentak, tapi suka melucu. Kadang kami tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.

Pak guru mengajarnya enak dan menyenangkan. Kalau memberi contoh, ia suka membawa benda-benda ke kelas. Kadang kami yang disuruh membawa barang-barang ke sekolah. Ketika kami belajar tentang lingkaran, beliau menyuruh kami membawa nyiru. Kami yang keturunan Jawa menyebutnya tampah. Kata pak guru nyiru atau tampah, sama saja. Keduanya kata baku. Selain nyiru, kami diminta membawa tali rafia, juga spidol.

“Angkat nyirunya, Anak-anak!” suruh pak Eko. O ya, nama guru kami Pak Eko. Kata pak Eko, usianya setengah abad. Aku tadinya tidak tahu, abad itu apa. Setelah tahu, ternyata usia pak Eko sudah lima puluh tahun. Sama usianya dengan uakku yang paling tua.

“Buat satu titik pada tepi nyiru, lalu bentangkan tali dari titik itu ke tepi lainnya. Rentang tali yang paling panjang dari titik pangkal, itulah garis tengah. Gunakan mistar kelas kita untuk mencatat panjang garis tengah nyiru kalian masing-masing!”

***

Belajar dengan pak Eko itu menyenangkan, baik di kelas maupun ketika kami belajar di rumah. Sesekali ia mengirimkan link Youtube. Kami menonton pak Eko yang sedang mengajar. Seolah-olah, ia berada di depan kelas kami. Bicara, meragakan, juga menulis di papan tulis. Melihat itu, aku seperti belajar di kelas.

Pada suatu hari, Luthfiana dipanggil pak Eko ke ruang guru. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Setelah Luthfiana keluar, baru aku tahu bahwa ia diminta mengikuti Lomba Pidato. Lomba pidato itu dalam rangka Hari Guru Nasional tahun ini.

“Tapi, pidato ini harus divideokan. Link Youtube dikirimkan kepada Panitia. Kata pak guru, karena masih Covid, jadi kita cukup kirim video,” jelas Luthfiana.

“Terus, siapa yang merekam? Pak Eko atau kita?” tanyaku.

“Iya, kita yang merekam atau di-shooting pak guru?” tanya Devika menimpali. Kami bertiga berpandangan. Luthfiana juga tidak tahu siapa yang akan merekam dirinya berpidato.

***

Luthfiana diminta menghapalkan naskah pidato yang akan dilombakan. Setelah hapal, ia diminta pak Eko mempraktikkan di ruang perpustakaan.

“Usahakan sikapnya yang wajar, jangan kelihatan kaku. Tunjukkan sikap percaya diri. Seolah-olah banyak guru di hadapanmu. Sebab, jika kamu menang, kamu disuruh berpidato di panggung pada acara puncak yang diadakan secara luring di kabupaten.” Aku ikut mendengarkan nasihat pak Eko kepada Luthfiana.

Setelah Luthfiana hapal betul, tibalah saatnya kami melakukan pengambilan gambar. Hape yang digunakan adalah hape kami bertiga. Aku merekam dari depan menggunakan kaki tiga milik pak Eko. Sedangkan Devika merekam menggunakan tiang mikrofon. Oleh pak guru, hapenya diikat dengan tali karet. Sederhana, yang penting gambar tidak goyang, kata pak guru.

Setelah semua anak pulang ke rumah dan sekolah sepi, kami melakukan perekaman. Luthfi berdiri di depan tanaman Pucuk Merah depan kantor guru. Pak Eko memberi petunjuk seperlunya dan memberi aba-aba.

“Tiga, dua, satu, … action!” Luthfiana pun memulai pidatonya.

Setelah Luthfi selesai berpidato, hati kami berempat lega. Pengambilan gambar hari itu berlangsug lancar. Luthfiana yang sudah berkali-kali berlatih pun tidak mengalami hambatan. Lancar.

“Mari kita lihat hasil rekaman kita. Coba Siva, buka videonya,” perintah pak Eko. Aku pun memberikan hapenya kepada pak Eko.

“Lho, kok ini masih merekam?” tanya pak Eko heran. Ia melihat penanda waktu berupa angka-angka yang masih bergerak.

“Apa iya, Pak?” tanya Siva ikut heran.

“Siva …! Jadi tadi kamu nggak merekam? Ih …!” teriak Luthfian dengan mimik merajuk.

“Ha … ha … ha …!” kami bertiga pun tertawa. Rupanya aku lupa menyentuh tombol merekam dan baru menyentuhnya setelah Luthfiana selesai berpidato.

“Terpaksa kita ulang, sebab kamera Siva adalah kamera utama. Posisinya di depan Luthfi,” kata Pak Eko.

“Aa … ah …,” dengan mimik kesal Luthfiana mencubit pipiku.

“Maaf, Luth. Aku janji kali ini tidak salah lagi,” kataku.

Kami pun mengulang lagi merekam Luthfiana berpidato. Aku tidak akan lupa lagi karena tombol merekam sudah kusentuh dari tadi. Luthfi yang cemberut pun ikut terekam di kamera.

 

Musi Rawas, 17 September 2021

PakDSus

#kerjasama, #cerpenak, #30daysreadingastorywithyourkids, #onedayonestory

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Ketika Luthfiana Berpidato

  • Kebersamaan pak eko dgn anak” seru banget.

  • Ceritanya lucu, seneng, deh.
    Ini tokoh aku, si Siva bukan? Ada kebocoran PoV. Setelah Pak Eko melihat rekaman, narator aku (PoV 1) malah menyebut Siva (PoV 3), hehe. (Terima kasih, sudah dibetulin)

  • Ha..ha…sama dong dengan kejadianku. Kesel banget tuh jadi harus rekaman ulang lagi.

  • kerjasma yang bagus.. semangat… yang sabar ya Lutfi.. semoga sukses…aamiin

  • Semangat Luthfiana… Kalau dibimbing pak D, bakal juara deh. Hehe

  • Lucu sekali ceritanya, tapi semangat tak pantang menyerah tergambar dari tokoh anak-anak. Keren.

  • Wah, mantaaap Pak D. Kyknya serius menekuni genre cerita anak. Gaskeunn, Pak D..!

Comments are closed.