artikel

Pelajaran untuk Danu

Sabtu sore Danu mendekati ayahnya yang sedang bersantai sambil minum teh buatan ibu.

“Bagaimana pelajaranmu, Danu?” tanya ayahnya.

“Baik, ayah. Hanya saja, Danu sering terlambat mengumpulkan tugas kepada pak guru.”

“Kenapa bisa begitu?” tanya ayahnya lagi sambil membuka lembaran surat kabar.

“Beberapa teman Danu tidak memiliki hape. Mereka mengerjakan tugas dengan meminjam hape Danu, Yah,” jawab Danu sambil menunduk.

“O, bagus itu. Danu meminjamkan hape untuk membantu teman-teman,” timpal ayahnya.

“Iya, yah. Tapi Danu malah mengerjakan paling akhir,” keluh Danu kemudian.

Mendengar penuturan Danu, ayahnya pun tersenyum. Surat kabar nasional yang dibacanya lalu dilipat. Lalu dengan penuh kebapakan, ia pun mendekati anaknya sambil mengelus rambut Danu yang hitam tebal.

“Danu, pernah belum mendengar cerita tentang pertapa muda yang menolong lima ekor kepiting?” tanya ayahnya.

Danu pun mendekat kepada ayahnya. Siswa kelas lima itu segera ingin tahu cerita yang dikatakan ayahnya.

“Jadi, bagaimana ceritanya, Ayah?” tanya Danu penasaran. Ia lalu mengambil tempat duduk di samping ayahnya.

Ayah Danu pun memulai ceritanya.

“Pada suatu sore, seorang pertapa muda berjalan menyusuri sungai. Ia melihat beberapa kepiting yang berjuang sekuat tenaga utuk meraih tepian sungai. Melihat hal itu, muncul rasa iba dan keinginan untuk menolong. Caranya, ia menjulurkan jari tangannya. Apa yang terjadi?”

Danu segera menyahut, “Jari pertapa dijepit capit kepiting!”

“Ya, begitulah. Namun sang pertapa muda senang karena bisa menolong kepiting,” kata ayahnya.

Ayah Danu pun melanjutkan ceritanya.

“Sang pertapa muda melanjutkan perjalanannya. Di tempat lain, ia juga melihat sekelompok kepiting yang terlihat berjuang ingin naik ke tepian.”

“Apakah si pertapa juga mengulurkan jarinya, Ayah?” tanya Danu.

“Tepat sekali,” jawab ayahnya. “Si pertapa muda kembali menjulurkan jarinya. Jarinya pun dijepit capit kepiting. Luka di jarinya makin membesar, jarinya pun membengkak. Tetapi ia puas karena dapat menolong kepiting itu naik ke tepi sungai.”

“Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang kakek. Si Kakek iba melihat jari tangan pemuda itu luka dan membengkak. Setelah ditanya, sang pertapa muda itu pun bercerita perihal perbuatannya menolong kepiting naik ke tepian sungai.”

“Lalu, apa yang tejadi, Ayah?” tanya Danu semakin penasaran.

“He he he, sabar dong. Sebelum ayah ceritakan, boleh minta tolong pijitin bahu ayah?” pinta ayah Danu sambil mengubah posisi duduknya. Ia membelakangi Danu. Maksudnya, agar Danu segera memijit bahunya.

“Ih, Ayah selalu begitu. Pasti minta upah!” Danu pura-pura merajuk.

“Hmm … dari pada Danu bengong, kan lebih baik mendengarkan cerita sambil bekerja. Cerita selesai, badan ayah sehat, ha ha ha!” kata ayah Danu sambil tertawa.

Dari ruang belakang, ibu Danu datang mendekati mereka sambil membawa sepiring pisang goreng.

“Duh, asyik bener? Nih, ibu gorengkan pisang,” kata ibunya.

“Iya, Bu. Terima kasih. Ayah, makan dulu, ya?” pinta Danu.

“Pintar kamu cari alasan. Ya sudah, kita cerita sambil menikmati pisang goreng ibu,” ajak si ayah.

Keluarga kecil itu pun asyik menikmati pisang goreng hangat.

“Terusin dong, Yah!” pinta Danu.

“O iya, hampir lupa. Habis, pisangnya enak, sih,” tukas sang ayah. “Eh, sampai mana tadi?”

“Pertapa ketemu kakek-kakek,” sahut Danu cepat.

“O iya, si kakek lalu menegur si pemuda. Ia mengatakan bahwa menolong itu perbuatan mulia. Namun, menolong dengan membiarkan jari luka dicapit kepiting bukan perbuatan yang bijaksana. Sang kakek pun mengambil ranting. Ranting itu diulurkan kepada kepiting. Dengan sigap si kepiting menjepit ranting dengan erat. Lalu, si kakek mengangkat kepiting dan membiarkannya berjalan di tepian sungai.”

Setelah menyeruput teh yang masih tersisa, ayah Danu lalu melanjutkan ceritanya.

“Si kakek berkata kepada sang pertapa muda bahwa menolong makhluk hidup adalah kewajiban dan perbuatan yang sangat mulia. Tetapi harus pula disertai kebijaksanaan. Untuk menolong kepiting tidak harus menggunakan jari kita tetapi bisa menggunakan ranting seperti yang Kakek contohkan. Mendengar penuturan si kakek, pemuda pertapa itu pun mengangguk-angguk tanda mengerti.” Sampai di sini ayah Danu berhenti bercerita dan balik bertanya.

“Jadi, demi menolong temanmu mengerjakan tugas, kaupinjamkan hape. Sementara kamu belum mengerjakan tugas itu?” tanya ayah Danu menyelidik.

“Iya, Ayah. Danu kasihan. Mereka tidak memiliki hape. Pak guru mengirimkan materi pelajaran dan latihan soal dengan hape. Kadang kami harus membuka Google untuk menambah pengetahuan,” jawab Danu.

“O … pantas Danu sering terlambat mengumpulkan tugas. Sedangkan teman-temannya yang tidak punya hape malah sudah selesai lebih dahulu,” timpal ibunya pula.

“Kok mirip pertapa muda menolong kepiting, ya?” kata ayah sambil tersenyum.

“Danu, ayah bangga punya anak suka menolong sepertimu. Tetapi, alangkah bijaksana jika kamu kerjakan tugas lebih dahulu, baru kaupinjamkan hapemu kepada temanmu. Atau, ajak temanmu belajar bersama di sini. Kalian bisa menyelesaikan tugas berbarengan. Danu pun sudah berbuat baik menolong teman. Rela berkorban itu bagus sekali. Tetapi harus disertai dengan kebijakasanaan. Mengerjakan lebih dahulu atau mengajak teman yang tidak punya hape belajar bersama adalah tindakan yang bijaksana,” nasihat ayah sambil jemarinya mengacak-acak rambut Danu yang tebal.

“O, ya. Rambutmu besok dicukur!” kata ayah Danu.

Sore ini Danu mendapat pelajaran. Pak Guru tidak tahu, keterlambatan mengumpulkan tugas karena hapenya ia pinjamkan kepada teman-teman akrabnya. Namun, setelah mendengar cerita ayahnya, ia menjadi paham. Besok lagi ia akan mengajak teman-temannya mengerjakan tugas di rumahnya.

Musi Rawas, 11 Oktober 2021

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

20 thoughts on “Pelajaran untuk Danu

  • Saya pun masih pemula. Menulis karena “dipaksa”.

  • Luar biasa. Isi nya sangat enak dibaca pak guru. Aku sangat belum bisa membuat cerita seperti it

  • Mohon izin pak, untuk kalimat langsung, jawaban Danu setelah menjawab pertanyaan ayahnya. Di akhir kalimat ada tanda petik dua ndak ya pak?

    “Baik, ayah. Hanya saja, Danu sering terlambat mengumpulkan tugas kepada pak guru.

  • Ceritanya sangat bagus Pak, saya kadang mengalami “tidak bijaksana”, istri jadi ngomel, ha ha haaaa …

  • Benar, Bu. Mestinya tanda titik sesudah kata “ya”.

  • Bintangin * rela berkorban harus disertai kebijaksanaan*
    Ijin tanya Pak D. Pada kalimat “Oh, ya, Rambutmu harus dicukur, huruf r memang harus kapital ya…Terimakasih

  • Salah satu cerpen yg menarik saya utk membacanya yg bertema keluarga. Terima kasih pak selalu ada amanat yg tersirat disetiap tulisan bapak.

    Keren pak.

  • Menceritakan cerita yang pernah ayah Danu baca.

  • Cerita edukatifnya mantap Pak D

Comments are closed.