artikel

Menulis Dongeng: Ubah Ide Sederhana menjadi Cerita Luar Biasa

Catatan dari Webinar Grup Penulis Rumah Virus Literasi (RVL)

Flyer Webinar (Gambar Tangkapan Layar RVL)

Bayangkan bahwa sepasang sepatu bisa berbicara dan menjadi sahabat seorang anak! Atau imajinasikan seorang bocah yang tiba-tiba kehilangan kemampuan mendengar suara azan karena kebiasaan buruknya? Inilah keajaiban dongeng! Dongen mengubah hal sederhana menjadi kisah yang menyentuh hati.

Sabtu (24/1/2026) dalam webinar bertema “Menulis Dongeng: Ubah Ide Sederhana Jadi Cerita Luar Biasa” yang diselenggarakan oleh Grup Penulis Rumah Virus Literasi (RVL), Darmawati berbagi pengalaman dan teknik praktis menulis naskah dongeng. Darmawati adalah seorang pendongeng dan pelatih dari Tarakan, Kalimantan Utara. Acara yang dipandu Nur S. Puji Astutik ini dibuka dengan pengantar dari Dr. Much. Khoiri, founder RVL, komunitas literasi yang aktif menggerakkan semangat menulis di seluruh Indonesia.

Dongeng Bukan Sekadar Hiburan

Pada sesi berbagi, Darmawati menegaskan bahwa ia berbicara bukan dari teori semata, melainkan dari pengalamannya langsung sebagai praktisi.

“Saya hadir di sini selaku praktisi dan pelaku,” ujarnya. Materi yang disampaikan memang ditujukan bagi pemula yang ingin belajar membuat naskah dongeng dari nol. Wow!

Menurutnya, dongeng yang baik bukan soal panjang atau pendeknya teks, melainkan bagaimana naskah itu kaya imaji, kaya teks, dan kaya rasa. Dengan kata lain, cerita singkat pun bisa menggugah pembaca jika dikemas dengan atmosfer yang kuat dan emosional.

Tujuh Jurus Menulis Naskah Dongeng

Dari pengalamannya melatih dan tampil di berbagai panggung, Darmawati merumuskan tujuh tips praktis yang layak dicoba:

Pertama, buat kejutan kecil di awal cerita. Hindari pembukaan klise seperti “pada suatu hari” atau “di sebuah hutan yang lebat.” Mulailah dengan sesuatu yang memantik rasa ingin tahu. Contohnya: “Tidak semua sepatu punya pemilik, tapi semua kaki akan mendapat sepatunya pada waktunya.” Pembukaan semacam ini langsung menarik perhatian pendengar.

Kedua, tokoh harus memiliki ciri khas yang kuat. Tokoh utama sebaiknya mudah diingat. Tentu kita masih ingat tokoh Abu Nawas yang cerdik atau Mr. Bean yang konyol. Mereka memiliki karakter yang unik, mencolok, dan tidak tenggelam di antara tokoh-tokoh pembantu.

Ketiga, konflik sederhana namun bermakna. Dongeng tidak memerlukan konflik rumit, cukup permasalahan ringan yang menggugah nilai kemanusiaan. Darmawati, sebagai narasumber, mencontohkan kisah anak bernama Jamal yang malas salat, lalu kehilangan kemampuan mendengar azan. Sederhana, tapi sarat makna spiritual.

Keempat, gunakan bahasa yang bisa divisualisasikan. Setiap kalimat dalam dongeng harus mudah dibayangkan. Ketika dibacakan, pendengar seolah dapat melihat adegan yang terjadi di depan mata mereka.

Kelima, dialog singkat tapi hidup. Audiens utama dongeng adalah anak-anak yang mudah kehilangan fokus. Oleh karena itu, dialog sebaiknya padat dan ekspresif. Perubahan suara dan intonasi akan menghidupkan suasana.

Keenam, bangun emosi secara bertahap. Penulis sebaiknya jangan langsung melompat ke puncak konflik. Arahkan pendengar perlahan, dari rasa penasaran, sedih, hingga bahagia. Emosi yang dibangun bertahap akan membuat dongeng lebih berkesan.

Ketujuh, akhiri dengan nilai dan kesan mendalam. Ada pepatah yang dikutip Darmawati: “Kalau orang tidak bisa dinasihati oleh kata-kata, maka dia akan dinasihati oleh peristiwa.” Maka pesan moral sebaiknya muncul lewat peristiwa dalam cerita, bukan nasihat langsung yang menggurui.

Struktur Naskah: Kerangka Sederhana yang Efektif

Selain tips di atas, Darmawati juga membagikan kerangka sederhana untuk menulis dongeng berdurasi 7–10 menit (sekitar 900–1.200 kata). Komposisinya:

  • Orientasi (10%): pengenalan suasana, tokoh, dan latar. Ini cukup dua hingga tiga paragraf.
  • Konflik awal (15%): munculnya masalah yang menjadi pemicu cerita.
  • Perkembangan konflik (20%): reaksi dan pergolakan emosi tokoh.
  • Puncak konflik (30%): bagian paling menegangkan, saat ini tokoh mengambil keputusan.
  • Penyelesaian dan penutup (25%): solusi masalah dan nilai moral yang tersirat.

Komposisi ideal antara dialog dan narasi adalah 70:30. Perbanyak dialog pendek agar dongeng mudah diekspresikan dan divisualisasikan saat dibacakan.

Contoh Nyata: “Joko dan Sepatu Ajaib”

Untuk memperjelas konsep, Darmawati mencontohkan kisah “Joko dan Sepatu Ajaib.” Joko adalah anak yang malas berolahraga. Suatu hari, sepasang sepatu joging muncul secara ajaib dan “memaksa” dia berlari setiap Minggu. Terjadi konflik emosional antara Joko dan sepatu yang bisa berbicara. Akhirnya, Joko merasakan perubahan positif. Perubahan positif itu adalah tubuhnya lebih bugar dan tidak mudah mengantuk di kelas.

Kisah ini ditutup dengan adegan manis: Joko dan sepatu berlari bersama sambil bernyanyi lagu Tulus:“Kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tapi tak bersatu.” Penutup yang hangat, kekinian, dan cocok untuk audiens anak SMP.

Dongeng Menanamkan Kebajikan

Di penghujung webinar, Darmawati menegaskan bahwa “dongeng yang hebat lahir dari imaji sederhana yang ditulis dengan hati.” Ia mendorong para guru untuk memanfaatkan dongeng sebagai sarana edukasi yang menyenangkan.

Guru punya modal berupa punya audiens, yaitu murid-murid sendiri. Guru dapat menyampaikan kebajikan lewat dongeng.

“Mendongeng adalah jalan ninja membawa kebaikan,” ujarnya.

Apa yang disampaikan narasumber, Dr. Much. Khoiri menambahkan pesan penutup yang bermakna.

“Meet them where they are.” 

Temui anak-anak di dunia mereka, dengan cerita yang dekat, sederhana, dan penuh cinta. Bukankah menyenangkan menanamkan nilai-nilai kebaikan tanpa harus menggurui? Itulah kekuatan dongeng yang sesungguhnya.

Musi Rawas, 26 Januari 2026

Salam Literasi,
PakDSus

PakD

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.