
Pasca yang Kadang Ditulis Paska
“Paska Lebaran kemarin ambu sampai 8 neng, plus kolesterol tinggi. Lengkap sudah deritanya, gak bisa salat dg khusuk. Jalan aja sakiit…”
Demikian sebaris kalimat yang aku baca di WhatsApp kiriman teman. Menulis di kolom chat media sosial tidak terlalu – bahkan mungkin tidak perlu – mengikuti kaidah kebahasaan yang semestinya. Aku pun sependapat. Pada kolom percakapan (chatting) yang diutamakan adalah tujuan, yakni penerima pesan memahami.
Seperti kalimat pada awal tulisan ini. Kata paska lebaran, oleh penulisnya dimaksudkan untuk menyebut kata sesudah lebaran. Jadi, paska lebaran, dimaksudkan sebagai sesudah lebaran. Tanpa dipermasalahkan, siapa pun yang membaca pasti memahami kalimat tersebut. Lalu, jika semua memahami, kenapa dipermasalahkan?
“Nyari-nyari bahan tulisan aja, yah?” seperti ada suara di penulis pesan di telingaku.
“Ha ha ha …,” aku tertawa terbahak-bahak saja dalam hati.
“Telanjur basah, mandi deh sekali. Telanjur dituduh, ditulis aja sekalian, ya!” jawabku tak kalah sengit. Tentu, jawabanku pun di dalam hati, karena saat ini aku sedang sendiri duduk di depan Lenovo bekas yang akan kuganti dengan ASUS Vivobook 15-a516 jika menang lomba blog nanti.
“Jika yang Ambu tulis itu keliru, apa Pak D bisa menjelaskan yang benar bagaimana?” tanya Ambu.
Seolah-olah Ambu, si penulis pesan, berdiri di samping dan menanyaiku.
“Seingatku, jika tidak salah paska itu bentuk bakunya adalah pasca. Itu pun bukan kata sebagai bentuk bebas yang berdiri sendiri,” jawabku.
“Jika bukan bentuk bebas, berarti pasca adalah bentuk terikat?” tanya Ambu menegaskan.
“Tentu saja!” jawabku pula.
“Hmm, coba jelaskan lebih lanjut!” pinta Ambu dengan nada seperti penguji ujian lisan.
“Oke! Asal Ambu sabar aja,” jawabku pula.
“Pasca, diucapkan pas-ca, terdiri dari dua suku kata. Kata tersebut adalah bentuk terikat. Artinya, kata itu harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Makna kata pasca adalah sesudah. Perhatikan cara menuliskannya!”
Aku pun mengambil selembar kertas dan spidol papan tulis berwarna hitam lalu aku tuliskan contoh kata-kata yang mengandung bentuk terikat pasca pada kertas itu.

“Bos, Ambu ‘kan cuman nulis di WA. Nggak papa ‘kan kalau nggak sesuai kaidah. Formal banget, sih!” Ambu menanggapi dengan nada protes.
Aku pun tersenyum. Agak kecut juga sih, lalu dengan pelan aku jawab.
“He he, aku ‘tu tidak menyalahkan. Aku hanya meluruskan. Takutnya nanti kalau nulis di blog atau di buku jadi terbawa. Lalu, nulisnya jadi tidak benar.”
Tiba-tiba ia mendekat dan berbisik di telinga sebelah kiriku.
“Kalau Ambu salah, nanti Pak D yang jadi editornya. Hi hi hi …!”
Suara tertawa Ambu membuatku menoleh ke kiri. Seketika bulu kudukku berdiri. Tidak ada siapa-siapa. Ya, aku sedang sendirian. Jam di pojok kanan bawah laptop tertulis 00:00.
Bagus sekali bun tulisannya..
Bagus sekali bun tulisannya..
Ups, begitukan?
Hihi.. hati2 salah menulis dibaca Pak D, siap2 maju ke depan kelas…
Namanya wa, kadang suka typo, mungkin Ambu mau nulis pasca hehe
Laptop asusnya buat saya aja yah pak De haha
Hihi mantap Pak D, dari sebaris kalimat menjelma menjadi sebuah sajian menarik
Selalu ada ide untuk menulis. Terimakasih pencerahannya
Keren pak D memang editor tangguh. Terima kasih atas pencerahannya
Hahaha…
Pak D keren. Editor sekaligus penulis ulung ni.
Ngedit kata aja jadi ide cerita. Mantaap.