Pecel Lele Salam

Salam, adalah nama tetangga yang berprofesi sebagai pedagang makanan. Warung nasi dengan sajian lele goreng, ayam goreng, dan bebek goreng diberi nama dengan namanya. Ia mem-branding warung dan dirinya dengan namanya yang hanya lima huruf, Salam.
“Makan, Mas,” kataku kepada Mamas bujang. Kalau tidak keliru, ia anak Pak Salam.
“Pakai apa, Pak?” jawabnya sambil bertanya.
“Sesuai judul. Pecel Lele.” Aku menjawab sambil berseloroh.
Sambil menunggu aku dekati sang Bos.
“Kabare, Pak Salam,” kataku menyapa bos warung.
“Sae. Kok, tumben. Dari mana saja?” jawabnya ramah.
“Dari rumah, Pak. Mampir ke variasi, pasang film di grobak hitam.” Aku menjelaskan. Setelah itu, duduk di kursi pengunjung dan menuang air minum ke dalam gelas.
Sepuluh menit berlalu. Lele goreng pun siap. Ikan berkumis nan gemuk dibalur sambal dan kuah saus, tersaji di depan mata. Di samping ikan ada dua buah irisan timun, irisan kubis, serta dua ranting daun kemangi. Semangkuk sayur asam, potongan kecil-kecil tempe goreng, dan semangkuk sayur lodeh nangka menemani si lele goreng.
“Nyam, bakal kenyang pagi ini.” Aku beranjak ke depan warung, mencuci tangan dan kembali ke tempat semula.
“Ups, panas!” teriakku setengah memekik setelah tanganku memegang daging ikan.
Iyolah pulo, ikan baru digoreng dipegang. Aku merasa menjadi orang sangat bodoh. Ha ha ha ….
Sambil makan, aku melirik keluar jendela. Belum ada tanda-tanda selesai pemasangan lapisan kaca mobil. Lama juga rupanya. Hingga aku selesai makan, belum ada tanda-tanda pekerjaan kelar. Meskipun belum selesai, tidak enak rasanya menunggu di meja warung Pak Salam. Setelah membayar harga makanan sebesar lima belas ribu rupiah, aku pun pamit keluar. Tidak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah diberi sajian makanan yang sederhana namun enak.
Di toko variasi, terlihat para pegawai masih sibuk memasang lapisan kaca. Aku mengambil kursi. Sambil menunggu, seperti biasa aku buka-buka hape. Tapi aku heran, hapeku freeze. O, rupanya ada panggilan masuk.
“Halo, selamat siang. Dengan Bapak Eko di sini?” tanya suara perempuan di seberang sana. Suaranya empuk terdengar.
“Saya sendiri. Dengan Mbak cantik siapa, ini?” jawabku sambil senyum.
Ada tawa kecil di seberang sana.
“Dengan Dini di sini. Baik Bapak, saya Customer Service Kartu Kredit yang Bapak miliki. Masih aktif kartu kreditnya, Bapak?”
Aku mengernyitkan kening. Ini pasti ada penawaran.
“Halo, Mbak Dini cantik.”
“Iya, Pak?”
“Kalau ini berupa penawaran, maaf saya tidak tertarik dan tidak akan ikut program apa pun.”
“Boleh minta waktunya, Bapak. Ini berkaitan dengan perlindungan tagihan Bapak dan ….”
Belum selesai ia bicara aku pun memotong.
“Terima kasih dan mohon tidak menelepon kembali. Saya tidak tertarik dan tidak akan mengikuti program apa pun. Oke, ya!”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
“Kembali.”
Setelah sambungan terputus, aku cari nomor Dini di aplikasi Getcontact.
“Wow, ada puluhan tag. Rata-rata bernada penipu, tipuan, asu-ransi, Dini spam, dan sebagainya,” gumamku sambil menggulung layar hape.
Bikin galau saja. Nomor itu pun kublokir, hape kututup. Perhatian kembali kepada para pegawai yang masih asyik memasang lapisan kaca dengan penuh kehati-hatian. Perhatian kepada para karyawan yang sedang bekerja buyar ketika Mas Bujang warung Salam membawa sesuatu.
“Pak, dompetnya jatuh di kursi, tadi,” katanya sambil menyerahkan dompet.
Jantungku terasa mau berhenti. Ya, Tuhan. Hampir saja aku tidak bisa bayar upah pasang lapisan kaca. Aku tertegun.
“Sudah ya, Pak,’ kata Mas Bujang.
“E … O …, iya. Terima kasih, Mas!”
Hanya itu yang dapat aku ucapkan.
Musi Rawas, 16 Juni 2022
PakDSus

#Catatan: Sebagian tokoh cerita adalah rekaan dan jika ada kesamaan adalah kebetulan belaka.
Seru