Pelantikan Penggalang Ramu

Usia Agam sebelas tahun. Ia duduk di kelas lima sekolah dasar. Duduk di kelas lima dan berusia sebelas tahun, Agam menjadi pramuka penggalang.
Hari Sabtu sore kemarin, ia bersama Reza, Anton, Dio, Warsito, Darno, Septian, dan Yogi dilantik Kak Eko menjadi Penggalang Ramu. Mereka berhasil menyelesaikan SKU (Syarat Kecakapan Umum) Penggalang Ramu. Tentu saja mereka sangat bangga. Tanda kecakapan umum penggalang ramu sudah boleh dipakai pada lengan kiri seragam mereka. Letaknya di bawah tanda regu kebanggaan mereka, Regu Kancil.
Hari ini mereka merayakan kebahagiaan itu dengan berjajan lotek dan es cendol di warung depan sekolah mereka. Sederhana saja. Bukankah bahagia itu tidak perlu mewah?
Anggota Kancil berbadan paling kecil, Darno, tiba-tiba nyeletuk, “Hampir saja aku tidak dilantik Kak Eko.”
“Ha ha, iya. Berapa kali harus mengulang Tri Satya, Dar?” tawa Agam menanggapi celetukan Darno.
“Iya, hampir empat kali. Huh, padahal aku sudah menghapalnya dari rumah,” jawab Darno.
Mereka pun makan sambil bercerita keseruan peristiwa pelantikan mereka Sabtu kemarin.
***
Agam dan kawan-kawan mengenang pengalaman pertama dalam hidup mereka dilantik menjadi pramuka penggalang. Sebelumnya ia diberitahu Kak Eko agar pada hari Sabtu mengenakan seragam pramuka lengkap karena syarat kecakapan umum sudah mereka selesaikan.
Tepat pukul 15.00 pasukan penggalang putera berbaris dalam bentuk angkare. Mereka melakukan upacara pembukaan latihan. Pada saat sambutan, pembina upacara mengumumkan bahwa sore ini akan dilaksanakan upacara pelantikan penggalang ramu. Kebetulan, semua anak yang akan dilantik tergabung dalam regu Kancil.
Setelah mereka berlatih tali temali, tepat pukul 16.00 anggota pasukan penggalang berbaris rapi. Lalu, Reza si pemimpin regu Kancil, memberi aba-aba untuk maju satu langkah.
“Satu langkah ke depaaaaan grak!”
Agam dan kawan-kawan secara serentak maju satu langkah ke depan, menghadap kakak pembina yang sudah siap melantik mereka.
Kak Eko dengan suara berwibawa lalu mengucapkan salam.
“Assalaamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh, Salam Pramuka!”
Para calon penggalang pun menjawab salam dan memberi hormat dengan mengucapkan ‘Salam Pramuka’ juga.
Kemudian, Kak Eko memberikan sambutan dan melakukan tanya jawab dengan mereka.
“Adik-adikku sekalian, Kakak atas nama Gerakan Pramuka Pangkalan SD Bukit Cogong Raya, sebelum Kakak melantik Adik-adik menjadi Pramuka Penggalang Ramu, maka kakak minta perhatian adik-adik mengenai Keputusan Musyawarah Nasional X Gerakan Pramuka Tahun 2018 Nomor 07/Munas/2018 tentang Anggaran dasar dan anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.”
“Sesuai dengan keputusan kwartir nasional tersebut saya melantik adik adik yang sudah memenuhi Syarat Kecakapan Umum tingkat Ramu, dan Kakak berharap kepada Adik-adik agar menghayati dan mengamalkan nilai-nilai kepramukaan dalam kehidupan sehari hari.”
“Adik-adik calon Penggalang Ramu, sebelum kakak melantik kalian, Kakak perlu mengajukan beberapa pertanyaan agar dijawab dengan tegas, jelas, dan penuh tanggungjawab.”
“Siap?” tanya Kak Eko tegas.
“Siap!” jawab Adit dan teman-teman satu regunya serentak.
Lalu, Kak Eko pun bertanya dan dijawab bergantian oleh setiap anggota yang dilantik.
“Apakah Adik-adik mengerti dan paham akan Tri Satya Pramuka? Apakah Adik-adik mengerti dan paham akan Dasa Dharma Pramuka? Apakah adik-adik bersedia memikul tanggung jawab atas tugas dan fungsinya selaku Anggota Gerakan Pramuka?” Satu demi satu pertanyaan Kak Eko ditujukan kepada Agam dan kawan-kawan.
“Sanggupkah adik-adik selaku Anggota Gerakan Pramuka di Pangkalan SD Bukit Cogong Raya menjadikan diri pribadi sebagai contoh dan teladan?”
Hati Agam bergetar. Ada rasa bangga dalam dirinya yang akan dilantik sebagai Penggalang Ramu.
“Sebentar lagi adik-adik akan mengucapkan janji sebagai anggota Gerakan Pramuka. Pramuka adalah seorang patriot, penuh rasa tanggung jawab, dan selalu berdiri di tempat terdepan.”
Selanjutnya, Petugas Pembawa Bendera dipersilakan mengambil tempat. Kak Eko pun melanjutkan pembicaraannya kembali.
“Selanjutnya, Kakak persilahkan adik-adik memegang ujung Sang Merah Putih dan diletakkan pada detak jantung adik-adik,” kata Kak Eko sambil memerintahkan petugas pembawa bendera menuju ke tempat yang ditentukan.
“Ingat, Kakak minta kalian mengucapkan janji Tri Satya dengan lantang. Jika adik-adik belum hapal, maka pelantikan adik-adik akan ditunda pada latihan Sabtu depan!” kata Kak Eko penuh wibawa.
Para anggota Regu kancil itu pun satu per satu memegang ujung Sang Merah Putih dan meletakkan pada detak jantung mereka masing-masing.
Reza, Anton, Dio, Warsito, Septian, dan Yogi selesai mengucapkan Tri Satya Pramuka. Darno adalah anggota Regu Kancil dengan perawakan paling kecil yang mendapat giliran paling akhir.
Dengan percaya diri Darno maju dan memegang ujung bendera merah putih.
“Tri Satya, demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila. ….”
Belum selesai Darno mengucapkan Tri Satya, tiba-tiba terdengar suara letusan. “Dor!” Tidak lama kemudian diikuti suara anak kecil yang menangis meraung-raung tidak jauh dari lokasi upacara.
Rupanya ada anak kecil yang bermain balon, tiba-tiba balonnya meletus. Kontan saja ia menangis. Mendengar letusan balon dan raung tangisan yang begitu keras, sebagian anggota pasukan penggalang tertawa. Hal itu menyebabkan Darno kehilangan konsentrasi.
Darno pun lupa bunyi Tri Satya selanjutnya. Ia berusah untuk tenang, meskipun degub jantungnya berdetak cepat. Sambil memejamkan mata, ia mengingat-ingat bunyi Tri Satya selanjutnya.
Kak Eko membiarkan hal itu berlangsung beberapa saat. Lalu, dengan perlahan ia berkata kepada Darno.
“Tenangkan hatimu, Adik boleh mengulangi lagi dari awal!”
Darno pun mengulangi, “Tri Satya, demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila. Menolong sesama hidup ….”
Kembali Darno terdiam. Otaknya keras mengingat kelanjutan kalimat Tri Satya yang sudah dihapalnya kemarin.
Kembali kak Eko membiarkan Darno menyelesaikan tugasnya.
“Menolong sesama hidup dan …,” ucap Darno terbata-bata.
Teman-temannya yang berada di barisan sudah mulai ada yang tersenyum bahkan tertawa. Kak Eko memberi isyarat agar mereka diam.
“Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat. Menepati Dasadarma,” tuntun Kak Eko melanjutkan bunyi Tri Satya yang diucapkan Darno.
“Tenangkan hatimu dan berdoa. Yakinlah kamu bisa. Jika sudah siap silakan ulangi!” Kak Eko memberikan nasihat untuk menenangkan hati Darno.
Anak-anak pun terdiam. Tiba-tiba, semua tersentak. Darno berteriak kencang.
“Siap, Kak! Trisatya, Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh: Menjalankan kewajibanku kepada Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila; Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat; Menepati Dasadarma!”
Semua tercengang. Darno yang tadi kehilagan konsentrasi, lalu berusaha sepenuh hati menghapalkan, tiba-tiba dengan lantang ia berhasil menyelesaikan tugasnya mengucapkan janji pramuka dengan hapal dan lancar.
“Adik-adik, sungguh Darno anak yang luar biasa. Sebelum Kakak lanjutkan kita beri dia hadiah dua kali tepuk Pramuka!” puji Kak Eko kepada Darno sambil mengajak anak-anak penggalang memberikan tepuk pramuka sebanyak dua kali berturut-turut.
Kak Eko pun melanjutkan, “Berdasarkan pengucapan Janji Trisatya oleh adik-adik, maka Kakak merestui dan melantik secara resmi kalian semua sebagai Anggota Pramuka Penggalang Ramu.”
Setelah petugas bendera kembali ke tempat semula, tibalah saat yang ditunggu-tunggu yakni penyematan TKU. Para Penggalang Ramu yang baru saja dilantik menyiapkan lengan kiri bajunya. Kak Eko akan menyematkn Tanda Kecakapan Umum Penggalang Ramu.
Agam dan anggota regu Kancil lainnya merasa bangga. Mereka telah resmi dilantik menjadi anggota Prmauka Penggalang Ramu. Rasa bangga Agam beserta teman-temannya makin bertambah ketika suara lantang Pratama memimpin penghormatan pasukan penggalang kepada mereka.
“Kepada anggota Pengalang yang baru saja dilantik, hormat … grak!”
Setelah mereka dilantik, Kak Eko memanggil mereka, “Kancil siap ya mengikuti Lomba Tingkat I di tingkat ranting.”
“Siap, Kak!” Setelah menyalami Kak Eko mereka kembali ke rumah. Dengan langkah gagah mereka melangkah. Sampai di rumah mereka akan segera meminta ibu masing-masing untuk menjahit dan memasang TKU di lengan kiribajunya.

#AiseiChallengeOctoberWeek2
#cerpenanak
#gigih
Horizon Rollback Rx. (resimli anlatım) VSC veri gizleme v2.0 yeni.
PDF to Word (PDF dosyalarınızı Word’e Çevirin) da domainler 1.99$ XP ne
anlama geliyor birde bunu okuyun. Advanced WindowsCare.
Adobe Photoshop Elements 4 Retail CD. tune up 2006.
Dj Efector.
Luar biasa..Mas santo