bahasa

PTM, Masih Jadi Harapan

Logo AISEI

 

Halo, Pembaca! Kawan-kawan pendidik semua. Kita sempat “senang” mendengar kabar bahwa pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) bakal digelar pada tahun pelajaran 2021/2022. Sekolah pun disibukkan dengan pengisian Daftar Isian Kesiapan Sekolah.

Sebagian sekolah bahkan sudah ada yang melakukan simulasi belajar tatap muka. Sebagian lagi, beritanya, dihentikan karena ditemukannya siswa yang terpapar virus yang saya sudah enggan menyebutkan namanya.

Secara fisik dan mental kita semua pasti menyiapkan skenario pembelajaran tatap muka tersebut. Namun, sebagai guru yang bijaksana, tentu tidak hanya satu skenario yang dipersiapkan. Mana tahu awal tahun pelajaran nanti (hal ini terpikir dua bulan lalu) pembelajaran tatap muka kembali ditunda.

Jeng … jeng …, bak pergantian scene film horror, penundaan PTM pun diumumkan. Sebenarnya tidak terlalu kaget. Tanggal 3 Juli pukul 00.00 PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat Jawa-Bali resmi diumumkan. Pembelajaran pun kembali menggunakan strategi pembelajaran jarak jauh dalam jaringan.

Saya pribadi sih tidak terlalu mempermasalahkan. Persentase kepemilikan ponsel pintar di kelas yang sekarang berjumlah 36 anak sudah lebih dari 80%. Penggunaan blog dan video Youtube menjadi pilihan utama selain GC (Google Clasroom). Aplikasi Classroom milik Google itu akan saya gunakan pada minggu kedua untuk mendukung pengumpulan tugas. Selain itu, aplikasi WhatsApp tetap menjadi media komunikasi utama.

PPKM Mikro 

Jika di daerah Jawa-Bali diberlakukan PPKM Darurat, tidak demikian halnya dengan daerah saya. Kepolisian Resor Musi Rawas baru merilis aturan berkaitan dengan pelaksanaan PPKM Mikro. Meskipun memberlakukan PPKM Mikro, pembelajaran tatap muka muka masih dilarang.

Apakah dengan pemberlakuan PPKM Mikro kami dilarang bertemu dengan siswa? Rasanya PPKM Mikro bukan melarang seseorang bertemu dengan orang lain. Demikian juga betemu dengan peserta didik. Yang dilarang adalah pembelajaran tatap muka di kelas, meskipun dalam jumlah peserta didik terbatas. Bertemu tentu tidak dilarang. Oleh karena itu, meskipun daring, saya merencanakan tetap bertemu mereka, setidaknya secara individual setidaknya sekali dalam seminggu.

Pertemuan itu akan saya manfaatkan untuk memastikan bahwa mereka mendapat pelayanan. Memastikan mereka belajar dan bertanggung jawab atas tugas belajar yang mereka lakukan, sekaligus meyakinkan orang tua/wali bahwa belajar dari rumah adalah proses belajar di sekolah yang dilakukan di rumah atau dari rumah. Sebisa mungkin mereka harus belajar setiap harinya minimal tiga jam. Pukul 08.00 WIB mereka harus sudah siap dan mengirimkan bukti sedang melakukan proses belajar.

 

 

PTM Masih Menjadi Harapan

Minggu pertama Juli 2021, pembelajaran tatap muka belum terlaksana. Namun demikian, proses belajar harus tetap berlangsung. Setiap anak wajib melakukan proses pembelajaran karena mereka adalah sasaran wajib belajar 9 tahun di Indonesia.

Meskipun pembelajaran jarak jauh dalam jaringan belum berlangsung seperti sekolah di kota besar, setidaknya mereka menghabiskan sebagian waktunya di rumah untuk belajar, menyerap ilmu, berlatih tanggung jawab, disiplin, dan bekerja keras.

Semoga PPKM Mikro dipatuhi masyarakat. Protokol kesehatan diterapkan dengan penuh tanggung jawab dan pemerintah menerapkannya dengan bijaksana. Jika itu dilakukan, mudah-mudahan pandemi segera berakhir. Virus yang saya sudah malas menyebut namanya segera lenyap dari muka bumi Indonesia. PTM (Pembelajaran Tatap Muka) yang hingga kini masih menjadi harapan semoga dalam waktu dekat segera menjadi kenyataan.

 

Salam Blogger Guru Musi Rawas
PakDSus

 

 

 

#PTM, #pembelajarantatapmuka, #sukadukaPTM, #Juli2021Challenge

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

20 thoughts on “PTM, Masih Jadi Harapan

  • Terus berdoa agar pandemi berlalu.
    Sehingga PTM akan segera dilaksanakan.
    Saat ini kita terus bersabar
    Serta memberikan pembelajaran yang terbaik.
    Sehat selalu Pak D

  • Semoga tetap menarik bagi siswa sehingga mereka tetap interest.

  • Ha, itu dia. Nama virusnya sudah memuakkan. He he.

  • Hanya doa dan harap yang kita panjatkan.

  • Tetap bersabar, Pak D. Peluang untuk tetap bisa kreatif mengajar. Saya sudah PTMT semester ini.

  • Masih harus sabar ya Pak D. Semoga kita bisa bisa tetap maksimal belajar daring.

  • Ingin ku PTM, apalah daya red zone, keep kreative

  • Setuju Pak D, harus selalu siap dengan plan B, C, D dan jangan sering-sering disebut virusnya biar cepat pergi. Hehe

  • Semua ingin sekolah kembali PTM namun apadaya…..sabarlah kuncinya. Semoga segera berlalu duka ini. Aamiin

  • Amiin. Semoga terkabul doa kita. Anak-anak sudah bosen dan kangen ingin sekolah.

  • Aamiin.. Semoga harapan untuk Pembelajaran tatap muka segera terwujud..aamiin

  • Harapan yang sama. Namun sering kandas seiring fenomena si virus yg merajalela
    Semoga dan semoga segera berakhir.

  • Tergantung perilaku masyarakatnya.

  • Semoga pandemi segera berakhir,,,Aamiin

Comments are closed.