
Tantangan bagi Pendidik Indonesia
Saya, hari ini menemukan video yang diunggah oleh akun Twiter Terselubung Layar Kaca @BungLaca. Status yang dapat dilihat pada https://twitter.com/BungLaca/status/1392368686455877632 mengusik saya selaku pendidik.
Anak Jepang gagal melompati penghalang empat kali. Lihatlah reaksi teman sekelasnya. Tidak ditertawakan. Justru saling menguatkan. BUDAYA suatu negara dibangun dan dikembangkan di ruang kelas. Demikian pengantar twit pada akun tersebut.
Setelah melihat tayangan, yang menurut pengunggah terjadi di Jepang, apakah Anda berpikir itu settingan? Misalnya diatur sesuai skenario: kamu melompat sebanyak tiga kali gagal, lalu teman-teman sekelas akan mengerumuni dan memberikan kata motivasi, dan lompatan keempat kamu harus berhasil. Apakah demikian?
Anda boleh saja berasumsi seperti itu sebab gambar atau video di media sosial memiliki kemungkinan adanya rekayasa. Namun terlepas dari itu semua, adakah pelajaran yang kita petik dari peristiwa tersebut yang kata kita orang Indonesia menyebut sebagai hikmah?
Komentar Netizen
Saya membaca beragam komentar pada cuitan itu. Ada yang berkomentar dengan nada bergurau seperti: 1) Penduduk indo selera humornya tinggi, jadi sekecil apapun kesalahan tetep diketawain, 2) Di kita bakal diketawain atau dibully, biar mentalnya jd lebih kuat, 3) Klo di negara kita, anak itu akan ditertawakan 2 hari 2 malam.. Beda memang, 4) bahkan sampe reunian pun bakal jadi tertawaan, dan 5) sejak kejadian itu nama panggilannya pun akan berubah.
Komentar bernada negatif dan ada kecenderungan pesimis misalnya: 1) Ini kaya teatrikal drama gak sih? Emang udah dikonsep kaya gini, 2) Hidup di Indonesia berat bung, kamu berhasil bukan karena dukungan orang orang, tapi berhasil karena bisa bangkit dari cemooh orang2, 3) Masalahnya “Kegagalan org lain adalah kegembiraan bagi kita”, itu yg masih menjadi budaya sebagian dari kita ini. Jika “budaya nyinyir akan kesuksesan orang lain” bisa kita hilangkan, saya yakin kita akan punya generasi spt dalam video itu, 4) Maaf, budaya orang kita saling menjatuhkan. Anak²nya kecilnya udah diajarin rasis. Yang bangkotan semakin rasis. Ada yang ngajak bener malah dikeroyok rame” dianggap salah. Ntah kapan mau berubah, dan lain sebagainya.
Secara pribadi saya senang dengan komentar yang bernada optimis dan positif, jauh dari sifat nyinyir. Misalnya komentar seperti ini: 1) Seharusnya tontonan seperti itu diperbanyak karena secara tidak langsung akan memberi motivasi, sugesti dan energi positif apalagi pada anak- anak. Semoga kita termasuk orang yang memberikan kebaikan pada orang lain, 2) Mental juara,.. gagal, kalah, jatuh utk bangkit bangun dn bergerak brusah trs ,dgn dukungan srta BUDAYA sling menguatkan bkn malah menjtuhkan aplagi menghinakan, salute utk JEPANG , 3) Tks atas pencerahan video nya utk bisa saling menguatkan walaupun toh kita harus belajar dari seorang anak kecil ..Semoga kita juga menyikapi dan mempraktekan dalam kehidupan yg positif agar bangsa kita menjadi bangsa yang kuat.
Pendidikan Karakter
Sebagai pendidik, tidak munafik, kadang muncul rasa kesal ketika anak didik kita tidak mampu melakukan sesuatu yang secara umum bisa dilakukan teman-temannya. Reaksi yang kerap muncul, jika tidak mengejek, mencela, ya itu … menertawakan.
Tidak teralalu salah, warga net yang mengatakan bahwa selera humor kita tinggi. Jangankan hal yang bernuansa lucu, hal serius dan berbahaya pun kadang dijadikan bahan ledekan atau lelucon. Termasuk ketidakmampuan teman mengerjakan sesuatu pun dianggap lucu hingga ditertawakan. Tidak lucu banget, ya?
Oleh karena itu, setelah saya menonton beberapa kali video tersebut, saya tersentuh. Kekurangsabaran, sikap mudah menyalahkan, menertawakan, dan sikap-sikap negatif ketika menemui hal-hal demikian harus segera … ya … segera diubah. Saya sangat setuju bahwa mendidik para siswa/peserta didik, untuk saling menguatkan menjadi hal yang mendesak untuk dibudayakan.
Konon, bangsa kita memiliki karakter yang dikembangkan dalam bentuk pendidikan karakter: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Kedelapan karakter tersebut diperkuat melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).
Bapak Muhadjir Effendy ketika menjadi Menteri pendidikan dan Kebudayaan pernah berpesan bahwa gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan. Lebih lanjut, terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK; yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan. Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.
Sebelum saya tutup, sikap yang ditunjukkan oleh anak-anak, teman sekelas dalam video di atas, termasuk karakter yang mana jika dikaitkan dengan pendidikan karakter di Indonesia? Saya tunggu komentarnya, ya?
Luar biasa , Pak. Tantangan besar menanamkan karakter kolaboratif saling mendukung.
Masih jadi PR besar di pendidikan Indonesia..:(
Saya pun demikian.
Semoga ya, Bunda!
Terima kasih.
Terimakasih sudah berbagi Pak D
Sudah beberapa kali saya melihat video tersebut, namun tetap menimbulkan rasa haru dalam diri pribadi saat menyaksikannya.
Blog Pak D semakin keren. Pastinya sangat bermanfaat dan membuka wawasan kita dan apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan ke depan
Mantap Pak D. Sangat menginspirasi.
Betul Pak D, dulu budaya membaca sangat tinggi.
Ketika Tiwi SD, istirahat..baca buku di Perpustakaan.. pulang nya, pinjam buku lagi utk baca di rumah.
Terkait cerita di atas, perlu penanaman karakter sejak dini.