artikel

Tas Guru Oemar Bakri

Ilustrasi Tas Guru Umar Bakri (Sumber: jualsepedaonthelantik.blogspot.com)

Celoteh di grup tentang sesuatu yang dibawa di dalam tas perempuan sepertinya sejalan dengan kemampuannya mengerjakan berbagai hal sekaligus.

Itu berawal dari tulisan teman tentang Guru Oemar Bakri. Kata beliau, tas guru Oemar Bakri yang terbuat dari kulit buaya, kini berganti dengan tas bertuliskan merek laptop atau notebook populer.

Bahkan, tulisnya lagi, tas seorang ibu guru zaman kini lebih dari satu. Benar, yang satu tas berisi laptop layar 14 atau 15 inchi, satu lagi tas berisi aneka peralatan pendukung ia mengajar. Selain buku dan modul, tas itu berisi pula pengisi daya listrik (chrger) laptop dan/atau hape, alat penunjuk (pointer), konektor kabel HDMI atau VGA.

Ketika hal itu kuceritakan di ruang guru, kontan riuh dan waktu istirahat menjadi asyik.

“Rasanya bukan itu saja,” kataku.

“Apalagi, coba!” kata Bu Mien sambil tertawa.

“Laki-laki tidak perlu tahu,” timpal Bu Kanjeng, guru Bahasa Inggris.

“Hmm … aku sebutkan, ya. Mon tas betino dibongkar pasti mudah menemukan satu di antara benda-benda berikut: bedak, lipstik, kuas lipstik, minyak wangi, handbody, kalau tidak minyak kayu putih ya minyak angin, snack, coklat, cotton bud, dan tisu,” kataku.

“Huh, Pakde tahu aja. Apalagi coba!”

“Tuh Cak Inin, pasti tahu,” jawabku.

Guru Bahasa Indonesia yang setiap tahun bikin proyek antologi siswa kelas IX pun dengan sigap menjawab, “Biar lengkap, tas ibu-ibu gede itu juga isi kresek. Mau tahu untuk apa? Untuk mbungkus berkat! Ada lagi plastik kilon untuk bungkus sayur.”

“Halah, Cak Inin juga sering minta dan butuh. Iya, kan?” kata bu Nur sambil mencibir.

“Ha ha ha …!”

Suasana riuh menyenangkan. Dari arah pintu masuklah bu Arina. Guru muda yang empat bulan lalu melahirkan tampak berjalan pelan.

“Nah, kalau yang ini pasti ada barang yang tidak ada dalam tas Bu Kanjeng, Bu Nur, Bu Mien, dan lainnya.”

Semua mata tertuju kepada sumber suara. Pak Makhrus yang dari tadi diam buka bersuara disertai tangannya menunjuk bu Arina. Pak guru yang pendiam tetapi jika menulis komentar WA di grup kerap bikin tertawa itu mengagetkan kami semua. Lebih-lebih bu Arina yang dirinya menjadi sasaran jari telunjuk pak Makhrus.

“Apa, coba?” tanya ibu-ibu serempak. Kontan para guru perempuan itu tertawa cekikikan. Kok bisa ya, barengan.

“Di dalam tas bu Arina pasti ada pompa ASI. Di sela-sela mengajar, sering kulihat Bu Arina ke ruang sebelah. Nggak lama kemudian keluar membawa botol berisi air putih yang dimasukkan ke dalam tas. Kalau bukan ASI buat si kecil masa iya air untuk ayahnya?”

Belum sempat bu Arina dan yang lain berkomentar, Pak Makhrus sudah menghambur keluar karena bel masuk sudah dibunyikan.

Musi Rawas, 2 Juni 2024
PakDSus

Kosa kata:
Mon = Apabila, jika
Betino = perempuan, ibu-ibu

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.