artikel

Paceklik Ide Menulis dan Upaya Mengatasi ala Much. Khoiri

“Kondisi paling menyakitkan bagi penulis, tentu, ketika dia mengalami paceklik ide/inspirasi menulis. Sebagaimana paceklik pangan bagi keluarga miskin, paceklik ide bagi penulis seakan sebuah malapetaka atau kiamat kecil. Ingin menulis, tetapi tidak ada ide yang tertangkap dalam akal sehatnya.” (Much. Khori)

Nukilan tulisan sang founder RVL (Rumah Virus Literasi) di grup WA itu saya kutip. Apa yang beliau tulis benar dan pernah serta acap dialami oleh siapa saja termasuk … saya.

Sebulan penuh di bulan Mei yang nota bene bulan sang Tokoh Pendidikan, Ki Hajar Dewantara, saya tidak mengirimkan tulisan di grup. Jika terkirim pun itu tulisan hasil menuliskan kembali artikel lama. Mau dihapus dari blog, terasa sangat sayang.

Tulisan, bukan produk kecerdasan buatan, tentu hasil berpikir. Penulis mengolah ide dan mengembangkannya sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu, ketika senggang saya buka-buka kembali arsip, membacanya, dan mengambil keputusan apakah tulisan ini dihapus permanen karena sudah tidak relevan atau perlu saya tulis kembali.

Hal itu saya lakukan karena sesuatu hal ide menulis saya tidak kunjung datang. Ketika ia datang dan saya rekam malah tidak kunjung dijadikan tulisan.

Abah Khoiri, demikian para anggota komunitas RVL memanggil, tidak bosan-bosannya memberikan motivasi. Termasuk ketika penulis mengalami paceklik ide … dus … paceklik tulisan.

Apa saja saran yang beliau berikan untuk mengatasi paceklik ide?

1. Kantongi semangat
Paceklik ide adalah keterpurukan bagi seorang penulis. Oleh karena itu penulis perlu memiliki upaya untuk bangkit. Semangat mengatasi setiap kondisi paceklik ide yang menghadang kita perlu kita kantongi. Prinsip yang harus dikembangkan adalah sang pembelajar (penulis) melatih diri sebanyak-banyaknya. Ingat, menulis adalah keterampilan berbahasa. Dalam hal apa pun (termasuk menulis) seseorang terampil karena ia sering berlatih.

2. Berguru kepada penulis yang ‘kebanjiran’ ide
Dari mana saya tahu seseorang kebanjiran ide? Jika tidak berhimpun dalam grup menulis, tentu tidak tahu. Di dalam grup, terutama RVL, ada 12 ketentuan yang wajib dipatuhi. Lihat gambar berikut.

Sumber: Grup RVL

Siapa penulis yang ‘kebanjiran’ ide? Mereka yang banyak mengirimkan tulisan di grup. Entah tulisan mereka berupa pesan WA sehingga anggota tidak perlu keluar halaman. Bisa juga membaca nukilan tulisan di blog disertai tautan. Untuk ini kita haru rela keluar rumah sebentar untuk membaca dan berkomentar di blog yang tautannya dibagikan. Kadang penulis langsung membagikan tautan blog tanpa memberikan cuplikan tulisan maka kita haru berbesar hati untuk bersilaturahmi ke blog pribadi sang penulis tersebut.

Demikian pembelajaran yang saya peroleh dan langsung saya praktikkan. Semoga ke depan tidak lagi paceklik tulisan karena ide bertebaran di setiap pesan WA di dalam grup.

Terima kasih Suhu Emcho (saya menyebutnya demikian untuk Dr. Much. Khoiri, M.Si.), semoga para penulis bisa ISHOMA (Istirahat, Salat, Makan). O, bukan. Maksudnya, ISTIKAMAH.

Musi Rawas, 2 Juni 2024
PakDSus
(Blogger, Guru tinggal di Tugumulyo, MURA)

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “Paceklik Ide Menulis dan Upaya Mengatasi ala Much. Khoiri

  • Pingin ikut di grup ini.dan krn sdikit ksibukn bbrp kgiatn tdk nulis..ko tb2 di keluarkan dr grub.. huuf sedih Pak D….
    Padahal baru semngat2nya belajar..

  • Joss tenan

Comments are closed.